Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hubungan Budaya Antara Masyarakat Agraris dan Teknologi

 

Hubungan Budaya Antara Masyarakat Agraris dan Teknologi
credit:[email protected]_wula_alit

Kebudayaan sebelumnya benar-benar kuat hubungan dengan warga agraris. Beberapa pengkaji kebudayaan menyadari mengenai kekuatan manusia dalam membuat keperluan produksi bahan makanan yang diperbudidayakan, ditambah perubahan saat ini. 

Kebutuhan bahan makan hasil budidaya benar-benar menggerakkan manusia untuk penuhi keperluan yang bermacam. Keperluannya terkadang terpusat pada kebutuhan ritus bermacam tipe religius dan tradisi. Bahkan juga untuk bermacam keperluan yang memiliki sifat sehari-harinya.

Seluruh orang menyadari, jika keperluan bermacam produk bahan makan olehan baik sayur mayur, buah-buahan, dan daging tempati status sentra di kehidupan. Hal tersebut disebabkan karena perannya dalam menjaga keberlangsungan hidup, dan sebagai keperluan kesehatan dan prestis.

Pembudidayaan bahan makan yang ditingkatkan bermacam ide, perlakuan, atau hasil material prodak. Hasil budidaya yang diupayakan oleh manusia dan memiliki sifat fungsional. Manusia setiap saat selalu alami pengubahan, bertambah pada keperluan setiap hari karena meningatknya komunitas manusia. 

Ada yang dipacu oleh situasi dan kondisi yang memaksakan yakni keperluan pada pola hidup metropolis, atau keadaan yang batasi pada kebutuhan kesehatan. Manusia harus konsumsi sayur, buah, atau pruduk bahan makanan khusus. 

Segala hal ikwal itu menuntut manusia untuk bekerja secara inovatif dengan lakukan eksperimen-percobaan dan ketidakberhasilan dari kepadanya.

Warga masyarakat agraris yang paling menggantungkan pada hasil bumi dan customernya,  keduanya sama-sama dorong-mendorong dan menuntut hadirnya suatu hal produk bahan hasil pertanian yang selalu baru (inovasi), bahkan juga di lain sisi ada juga yang menjaga beberapa ciri produk agraris tertentu untuk bahan ekspor keluar negeri. Karena keinginan hasil bahan produk hortikultural itu memerlukan perilaku yang khusus.

Semuanya yang dilaksanakan oleh manusia itu bermanfaat untuk penuhi tuntutan hidup yang tidak ada batasannya. Keperluan tersebut sebagai skema budaya yang memasukkan manusia dalam zaman ‘konsumtif.' 

Disamping lainnya, manusia sebelumnya didorong oleh keperluan yang paling simpel yakni menolong manusia makanan untuk menjaga hidup. Mereka cukup mengambili buah-buahan yang jatuh dari pohon, membudayakan hasil pertanian ialah lompatan yang paling mengagumkan. 

Terhitung bermacam usaha untuk penebarlauasan dan peningkatan beberapa unsur yang dipandang tak lagi sanggup penuhi hasrat jamannya. Arah pembudidayakan bahan produksi pertanian tidak cukup hanya dengan menual, nananam dan menuainnya yang dilaksanakan oleh pribadi dan beberapa bagian keluarga. 

Sekarang sudah tumbuh secara bermacam beberapa pabrik sekala nasional dan internasional yang memusatkan hasil produksi bahan makan yang hegienis. Perubahan mutakhir itu dituruti perangkat keamanan yang menimbang beberapa kaidah hukum.

Produk agraris yang sebelumnya cuman terpokus di hasil pertanian, dari periode ke periode sudah alami perubahan dan penyebaran. Perkembangan tehnik produksinya dipakai untuk penuhi bermacam sekmen yang menimbang riset untuk meningkatkan prodak yang sanggup menimbang keperluan tuntuan ‘ruang' dan ‘waktu.'

Kekuatan ketrampilan masayarakat agraris yang sebelumnya cuman dilaksanakan oleh komune yang terbatas di lingkungan tradisi. Selanjutnya, alami perubahan dan atau terjadi revolosi pertanian yang sanggup mengganti bermacam spesies. 

Hingga manusia sanggup mempelajari realita yang terjadi di masa lampau, dan tembus waktu periode yang yang tiba. Produksi warga agraris bukan hanya dilaksanakan dengan beberapa cara yang memiliki sifat manual, ditangani satu-satu. 

Produksi yang diperhitungkan dimulai dari periapan riset benih, eksperimen-percobaaan bermacam varietas yang diterbitkan dengan bermacam keunggulan, dan diprodukis secara masal. Berdirinya pabrik-pabrik saat produksi hasil pertanian mengikut pergerakan dan perkembangan hasilnya.

Beberapa cara konsumsi dan jumlahnya keperluan dipasar mengikutsertakan bermacam pakar management yang membuat segmen tertentu. Bahkan juga lompatan kreasi yang paling mengagumkan, karena keperluan manusia yang usaha ingin penuhi impresi hasrat konsumsinya.

Keperluan manusia bukan hanya untuk memenuhi keperluan yang karakternya olah kerja fisik. Dorongan manusia untuk memenuhi keperluan konsumsi, atau hanya untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. 

Dimulai dari langkah memproses, mengepak, dan membagikan sehingga membuat dan menempatkan hasil produksi pertanian menjadi beberapa benda yang dipakai oleh manusia secara luas.

Hasil produksi agraris bukan hanya dimakan pada keadaan yang berkaitan dengan tradisi adat. Tapi kesan konsumsi dan kreativitas penyuguhan sebagai produk kulineran yang sanggup memenuhi bermacam - macam keperluan pola hidup di beberapa penjuru dunia. 

Produksi hasil warga masyarakat agraris bertambah dan menawarkan keanekaragaman dan berkembang yang dilekatkan pada status yang memiliki sifat hirarkis. Skema makan yang berkembang dari bermacam warga memerlukan produksi sesuai cita-rasa penikmatan yang memiliki sifat umum, atau cita-rasa yang terbatas dan memiliki sifat exclusive. Keperluan untuk memenuhi beberapa pasar tradisionil sampai hipermarket.

Keperluan manusia sebelumnya benar-benar simpel, yaitu hanya untuk memenuhi ketubuhan untuk keperluan bertahan hidup. Dari sekian waktu keperluan manusia berkembang hingga mencapai kompleksitasnya. 

Bahkan juga skema produksi pemrosesan beberapa unsur pertanian tertentu hingga mencapai tata langkah tertentu untuk menempatkan status drajat dari komunitas warga tertentu. Pengklasifikasian itu adalah langkah manusia untuk menempatkan produksi agraris bukan hanya sekedar aktivitas yang memiliki sifat individu yang dipakai untuk mengidentifikasi keperluan setiap hari. 

Produksi agraris adalah langkah yang ditingkatkan dari ide, mengganti material, atau menghasilkan beberapa ide yang dapat meningkatkan citra hidup manusia dari keadaan yang sederhana sampai kenaikan kualitas sesuai perolehan tingkat kehidupan.

Penemuan dan Penggunaan Teknologi

Kebudayaan berkembang dari kondisi yang sangat sederhana, dulu manusia melakukan aktivitas mencari makan hanya sebatas memungut buah-buahan yang jatuh dari pohon, kemudian ada yang mulai mencoba untuk memanjat dan memetik. 

Kebutuhan makan tidak hanya sebatas makan buah-buahan dan daun-daunan yang langsung di santap. Masyarakat dari peradaban yang sangat sederhana mulai menggunakan benda-benda keras untuk dilemparkan, kemudian diikat menjadi alat pemukul, hingga menemukan jenis tombak untuk membunuh binatang.

Berburu binatang membuka kesadaran manusia purba untuk memakan daging dan mengambil bulu binatang tersebut untuk membuat pakaian. Khususnya pakaian yang dipakai oleh kepala suku. Penemuhan kebutuhan konsumsi ini sekaligus membentuk pola strata dalam komunitas. Orang-orang yang tua dan berpengalaman menjadi panutan, bahkan orang yang kuat dipercaya sebagai pemimpin.

Dalam berbagai kebudayaan, perkembangan alat untuk mencari makan terus berkembang. Bahkan alat-alat itu juga untuk mempertahankan diri, hingga untuk alat berperang. Perang suku memberikan dorongan yang kuat terhadap perkembangan alat-alat semakin canggih. 

Selain dari pada itu diiringi perkembangan cara menggunakan peralatan itu. Tombak batu hingga tombak logam digunakan untuk memburu binatang atau untuk berperang dengan cara melemparkan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Semula parang atau kapak kayu digunakan untuk memukul hewan buruan atau lawan dari jarak yang sangat dekat.

Penggunaan kayu, batu, dan tali dari akar-akar pohon hingga serat-serat daun untuk kebutuhan mengikat. Satu temuan diikuti dengan alat dan bahan yang lain yang saling terkait satu dengan yang lain. 

Ini menunjukan bahwa perkembangan produksi budaya teknologi sejak masa awal kehidupan manusia sudah menyadarkan berbagai kebutuhan.

Teknologi atau peralatan yang sifatnya manual atau mekanik adalah produk budaya yang sangat membantu manusia dalam menaklukan ruang dan waktu. Bahkan mengubah status manusia dari kondisi yang komunal menjadi kekuatan individu. 

Kersamaan dalam membangun dan mengupayakan berbagai kebutuhan hidup dengan cara yang bersifat ramai-ramai ke arah kemampuan individu.   

Post a Comment for "Hubungan Budaya Antara Masyarakat Agraris dan Teknologi"