Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari


Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari

Setiap suku di Indonesia mempunyai tradisi dan adat istiadatnya masing - masing. Pun halnya dengan suku Betawi yang ada di wilayah DKI Jakarta, juga mempunyai adat istiadat yang unik dan berbeda dengan daerah lain di Indonesia.

Pada artikel kali ini saya akan mengulas tentang Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari hingga sekarang. Adapun adat istiadat tersebut antara lain sebagi berikut :

1. MAPAS

Tradisi upacara Mapas ini di terapkan kepada seorang Ibu yang baru saja melahirkan anaknya. Dalam tradisi upacara Mapas ini, maka seorang Ibu di haruskan untuk memakan sayuran yang di sebut sebagai "SAYUR PAPASAN", dimana sayur tersebut terdiri dari berbagai macam jenis bahan sayuran dengan tujuan agar Ibu yang baru saja melahirkan anaknya tadi kembali sehat seperti sediakala dan bayi yang di lahirkannya juga dalam keadaan sehat.

2. PUPUT PUSER

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari

Tradisi puput puser di kenal juga dengan nama “puputan” adalah suatu bentuk tradisi upacara yang dilakukan ketika tali pusat bayi yang baru lahir beberapa waktu yang lalu sudah lepas (puput). Ketika itu, maka tradisi orang Betawi adalah  mengadakan selamatan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Selain suku Betawi mayoritas suku di Indonesia yang lain juga mengadakan tradisi yang sama, seperti tradisi puputan di Jawa Tengah.

3. AQIQAHA

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari

Akikah sebenarnya adalah ajaran agama Islam, dimana akikah tersebut berarti menyembelih dua ekor kambing untuk anak laki - laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Tradisi dan ajaran agama Islam ini kemudian di terapkan dalam kehidupan masyarakat suku Betawi.

4. NGINJEK TANAH

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari
image : satujurnal.com

Tradisi Nginjek tanah di beberapa daerah di kenal dengan sebutan Tedak Siten. Upacara ini biasanya diadakan ketika  seorang bayi telah mencapai umur sekitar delapan bulan, dimana pada umur tersebut seorang anak di perbolehkan untuk menginjak tanah untuk pertama kalinya. Dalam tradisi ini biasanya diadakan acara selamatan ala kadamya dengan membuat sedekahan berupa nasi dengan lauk-pauknya serta kue-kue, roti, pisang, dan perlengkapan lainnya.

5. UPACARA SUNATAN

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari
image : [email protected]_channel

Di kalangan masyarakat suku Betawi, sunat atau khitan diartikan sebagai pembeda. Maksudnya adalah pembeda usia antara anak-anak dengan seseorang yang sudah memasuki masa akil balig. Ketika itu maka orang tua biasanya akan berunding dengan kerabat dan keluarganya serta dengan orang yang di tuakan untuk mengadakan acara sunatan atau khitanan tersebut.

6. TAMATAN QUR'AN

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari
image : [email protected]_30generation

Khatam Al-Qur’an  dalam masyarakat suku Betawi sering disebut sebagai  Tamatan Qur’an. Upacara Tamatan Qur'an ini sangat penting bagi orang Betawi karena ini adalah sebagai pertanda bahwa seseorang yang telah  melaksanakan upacara Tamatan Qur’an dianggap telah menjadi orang yang mengerti tentang ajaran agama Islam.

7. UPACARA NUJUH BULANAN

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari

Tradisi upacara nujuh bulanan dalam masyarakat suku Betawi di laksanakan ketika masa kehamilan seorang wanita telah mencapai usia 7 bulan. Kata Nujuh diambil dari jumlah hari dalam satu minggu  yang berjumlah 7 hari. Bilangan tujuh juga dipakai sebagai patokan pada upacara nujuh bulan. 

Adapun tujuan dan maksud dari upacara nujuh bulanan ini adalah untuk mendapatkan rasa aman dan ketentraman dengan membaca Al-Quran surah Yunus dan Maryam. Harapannnya adalah agar kelak anaknya yang akan lahir tersebut, jika ia perpempuan maka akan secantik siti Maryam dan apabila anaknya laki - laki maka anak tersebut akan setampan Nabi Yunus as. Selain itu upacara nujuh bulanan juga sebagai media untuk memohon keberkahan dan perlindungan pada-Nya agar anak yang akan dilahirkan kelak bisa lahir dengan selamat, menjadi anak yang sholeh , berbudi luhur dan patuh kepada kedua orang tuanya dan berbakti kepada negara dan agamanya.

8. UPACARA PERNIKAHAN

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari
image : [email protected]_wedding

Dalam rangkaian tradisi upacara adat perkawinan suku Betawi dilakukan melalui beberapa tingkatan upacara yang berhubungan atau berkaitan antara  satu dengan  lainnya. Rangkaian upacara pernikahan tersebut, diantaranya :
  • Ngedelengin
  • Ngelamar
  • Bawa Tande Putus
  • AkadNikah
  • Kebesaran
  • Negor
  • Pulang Tige Ari
9. BAKAL

Bakal adalah adat kebiasaan atau tradisi yang sering dilakukan oleh suku Betawi pada zaman dahulu dengan maksud untuk menyambut kedatangan calon mempelai laki-laki yang akan mengunjungi rumah calon mertuanya untuk bersalaman pada waktu Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.

10. BIKIN DAN PINDE RUME

Tradisi ini dilakukan ketika orang suku Betawi akan melakukan pembangunan sebuah rumah, dan kemudian pindah ke rumah yang baru.

11. NAZAR

Masyarakat suku Betawi pinggir menyebutnya sebagai  “ngucap” dan “kaulan”, yaitu merupakan semacam janji yang diniatkan dalam hati dan diucapkan dengan tegas serta dapat didengar oleh orang - orang yang berada disekitamya. Nazar itu harus dilaksanakan sesuai dengan janji tersebut dan manakala tidak dilaksanakan akan berakibat buruk bagi orang yang bernazar tersebut.

12. LEBARAN BETAWI

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari

Bagi masyarakat suku  Betawi, lebaran adalah salah satu puncak kegembiraan setelah menjalankan puasa selama sebulan untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Masyarakat suku Betawi mengenal paling sedikit tiga jenis lebaran, yakni lebaran Idul Fitri, Lebaran Haji, dan Lebaran Anak Yatim.

13. HAUL

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari
image : goaceh.co

Dalam tradisi masyarakat suku Betawi acara Haul di sebut juga dengan sebuatan tahlilan. Acara Haul ini diselenggarakan oleh para anggota keluarga almarhum. Inti dari acara Haul tersebut adalah mengadakan acara selamatan atau sedekahan.  Acara selamatan semacam ini juga diadakan pada waktu yang orang yang meninggal telah mencapai masa  7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari dari saat meninggalnya.

14. NGELAWAT ATAU NYELAWAT

Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari
image : [email protected]_vandiem

Ngelawat atau Nyelayat di sebut juga dengan nama takziah, yaitu pergi berkunjung ke rumah tetangga, sanak-keluarga ataupun orang lain yang sedang ditimpa musibah berupa kematian salah satu anggota keluarganya.

Demikianlah ulasan artikel tentang Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari . Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa menambah wawasan serta ilmu pengetahuan kita tentang budaya dan tradisi suku - suku bangsa yang ada di Indonesia.

Post a Comment for "Empat Belas (14) Adat Istiadat Khas Suku Betawi Yang Tetap Lestari"