Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial

Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial

Perubahan menuju kehidupan yang lebih baik adalah sesuatu yang diidam-idamkan oleh setiap orang, tidak terkecuali dengan perubahan sosial. Untuk mewujudkan hal ini tentu memerlukan hal - hal atau faktor pendorong perubahan sosial tersebut agar segera terwujud.

Istilah perubahan sepertinya tepat sekali ketika kita merujuk pada istilah evolusi. Evolusi tidak lain adalah suatu proses perubahan yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Sementara itu, perubahan yang terjadi secara cepat dan menyeluruh biasa kita sebut revolusi.

Perubahan sosial pun sering kali juga dikaitkan dengan istilah reformasi. Istilah itu merujuk pada kata dalam bahasa Inggris, yaitu "reform." Suatu upaya untuk memperbaiki keadaan sosial dan membentuk sesuatu yang lebih baru. Di Indonesia, usaha reformasi ini dilaksanakan dengan upaya perbaikan birokrasi dan penegakan hukum.

Secara umum, ada beberapa hal atau faktor yang dapat mempengaruhi atau mendorong terjadinya perubahan sosial.

Beberapa  faktor pendorong perubahan sosial, antara lain:

1. Gagasan Baru

Konsep mengenai gagasan baru biasanya muncul karena dilatarbelakangi oleh keadaan yang dirasa tidak adil oleh sebagaian besar masyarakat. Apakah itu berupa kesenjangan sosial, pembedaan masyarakat berdasarkan kelas-kelas atau kasta, atau pembodohan yang dilakukan secara terstruktur.

Lihat saja bagaimana saat feodalisme runtuh. Di sana muncul paham liberalisme yang menyatakan bahwa seluruh manusia, siapa pun dia, harus dipandang sama di depan hukum. 

Feodalisme yang telah membagi masyarakat ke dalam kelas bangsawan dan budak telah merampas hak-hak asasi manusia dan masyarakat. Mereka yang tergolong bangsawan diperlakukan secara istimewa, sementara rakyat jelata tidak mendapatkan penghormatan sama sekali.

Konsep mengenai pembagian masyarakat berdasarkan kelas kemudian ditentang secara kuat oleh Karl Marx dengan upaya mendorong penghapusan masyarakat berkelas.

Dalam gagasan Karl Marx sendiri, kelas dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas kapitalis dan kelas buruh. Ia bercita-cita atau berkeinginan bahwa kelas-kelas tersebut harus dihapuskan sehingga setiap orang mendapat perlakukan dan hak yang sama.

2. Tokoh Kharismatik

Gagasan baru biasanya muncul dari seorang tokoh atau penggerak sosial yang mampu mempengaruhi serta membawa masyarakat menuju perubahan lebih baik. Mereka mampu membaktikan diri menjadi seorang martir bagi terciptanya cita-cita perubahan sosial.

Sejarah telah mencatat beberapa individu (tokoh) luar biasa yang dianggap membawa perubahan pada masyarakat. Sebut saja Nabi Muhammad SAW, yang telah merubah masyarakat Arab yang jahiliyah menuju menuju masyarakat yang beradab.

Marthin Lauther yang membawa perubahan dalam tubuh Kristiani. Imam Khomenei yang mengobarkan revolusi Islam Iran untuk mengusir kekuatan Amerika di Iran. Ada pula Simon Bolivar, Che Guevara, atau Fidel Castro yang dengan giat melawan kolonialisme di negara mereka masing - masing.

Tokoh-tokoh kharismatik inilah yang paling berpeluang untuk membuat perubahan sosial bisa terjadi. Karena itu, mereka yang dianggap sebagai pionir dalam masyarakat biasanya akan selalu dikejar-kejar dan menjadi musuh rezim yang berkuasa. Mereka biasanya dihabisi nyawanya karena dianggap membahayakan bagi kepentingan penguasa saat itu.

Di Indonesia, mereka yang dianggap pioner ini sering kali tewas tanpa diketahui dimana kuburannya. Tokoh-tokoh seperti Tan Malaka di masa perjuangan kemerdekaan, Widji Tukul di masa orde baru dihabisi nyawanya tanpa menyisakan jejak sama sekali.

Walaupun tokoh-tokoh tersebut sudah mati, biasanya semangat perubahan yang mereka bawa masih tetap hidup di kalangan orang-orang yang cinta perubahan.

3. Teknologi

Semenjak terjadinya revolusi industri di Inggris menjelang abad 19, peran teknologi dianggap sangat besar dalam mendorong terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. Pada saat itu, mesin-mesin yang diciptakan telah banyak mengubah hasil produksi sehingga sistem yang lama sudah tidak mampu lagi merespon keadaan yang terus berubah begitu cepat.

Teknologi informasi yang sekarang sedang berkembang pun tidak lepas peranannya dalam mendorong perubahan sosial. Cara masyarakat belajar, bertransaksi, berhubungan sosial semakin lama berubah dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat. Misteri-misteri yang dahulu belum bisa dipecahkan kini sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi masyarakat.

Di sisi lain, teknologi ini menyisakan faktor negatif bahkan tidak terkendali atau tidak terprediksi sebelumnya. Misalnya muncul kejahatan dengan latar belakang teknologi, terjadinya urbanisasi secara besar-besaran karena adanya alat transportasi yang bisa digunakan dengan mudah, atau maraknya perjudian dan bisnis haram melalui jaringan internet.

Ketiga faktor di atas hingga kini masih tetap diakui sebagai pendorong perubahan sosial. Jika Anda ingin menjadi seseorang yang mampu melakukan perubahan sosial dalam masyarakat, maka kuasailah ketiga faktor-faktor tersebut.

Faktor Penghambat Perubahan Sosial

Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial

Faktor penghambat perubahan sosial merupakan subsistem kebudayaan dalam kehidupan masyarakat yang dapat menghambat terjadinya perubahan sosial. Padahal perubahan tersebut dapat memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat itu sendiri menjadi lebih baik, misalnya: ilmu pengetahuan, interaksi sesama masyarakat, integrasi budaya dan lain-lain.

Masyarakat konservatif dan berpendidikan rendah, lebih memilih untuk menghindari dari pergaulan dengan masyarakat lain, selalu berprasangka buruk terhadap perubahan. Itu adalah beberapa tipe masyarakat yang dapat menjadi faktor penghambat perubahan sosial.

Menarik sebenarnya ketika kita mencermati faktor penghambat perubahan sosial, karena terjadi kontradiksi antara kebosanan yang menuntut perubahan dengan kondisi masyarakat sendiri yang kerap kali tidak mau atau belum siap menerima terjadinya suatu perubahan sosial.

Masyarakat yang berpendidikan rendah relatif lebih sulit untuk menerima perubahan karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan terhadap hal-hal yang baru. Masyarakat ini lebih nyaman dengan apa yang telah dimiliki meskipun perubahan tersebut sebenarnya akan bermanfaat bagi mereka.

Internet misalnya, tidak semua lapisan masyarakat menerima begitu saja, meskipun kita tahu manfaatnya tapi bagi masyarakat tertentu justru khawatir akan merusak kebudayaan yang sudah ada.

Selanjutnya, masyarakat yang menutup diri dari informasi, pergaulan dengan masyarakat lain dengan alasan yang beragam justru akan kesulitan beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang kian hari kian berkembang. Mereka akan merasa asing di tengah-tengah kemajuan yang tidak pernah mereka dengar, lihat, dan mereka rasakan sebelumnya.

Padahal, kemajuan itu sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat yang lainnya karena mereka tidak menutup diri dari pergaulan atau masyarakat lain sehingga mereka bisa cepat beradaptasi.

Tidak jarang faktor penghambat perubahan sosial justru berasal dari keyakinan masyarakat yang dianggap senbagai nilai dasar. Meskipun keyakinan itu tidak selamanya benar, misalnya masalah takdir baik dan buruk. Masyarakat terjebak pada kepasrahan tanpa usaha yang maksimal untuk mengubah hidupnya.

Ketika ada anggota keluarganya yang sakit panas, masih ada masyarakat pedalaman yang membawanya ke dukun karena menganggap penyakit itu adalah kutukan, dan bukan dibawa ke dokter atau puskesmas terdekat untuk diobati.

Masyarakat pun sangat erat sekali dengan tokohnya (public figure) meskipun sebutannya berbeda-beda di setiap tempat, ada yang menyebutnya kepala dusun, kepala adat, datuk, dan sebagainya. Dalam adat istiadat, mereka memiliki kedudukan yang tinggi di mata masyarakat begitu pula derajat sosialnya.

Di samping posisi tersebut karena faktor keturunan, tidak jarang pula karena jasanya yang besar terhadap masyarakat sekitar, sehingga ucapan dan tindakannya harus dituruti menurut adat. Sayangnya, jika tokoh masyarakat ini tertutup dari segala perubahan sosial, maka hal ini pun bisa jadi salah satu faktor penghambat perubahan sosial.  

Jika disimpulkan dari uraian diatas, paling tidak ada beberapa faktor penghambat perubahan sosial, di antaranya:

  • Lambatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Minimnya interaksi dengan masyarakat lain.
  • Kekhawatiran terjadinya perpecahan budaya.
  • Adat dan kebiasaan 
  • Kepentingan tertentu yang ditanamkan 
  • Prasangka buruk terhadap suatu hal yang baru 
  • Prinsip bahwa kesalahan dalam hidup tak bisa diperbaiki 
  • Ideologi yang bertentangan dengan perubahan 
  • Masyarakat yang sangat tradisional

Faktor penghambat perubahan sosial ini akan selalu terjadi sepanjang masa seperti selalu terjadinya perubahan sosial itu sendiri, karena cara pandang, pengalaman, dan pengetahuan setiap masyarakat berbeda-beda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, satu daerah dengan daerah lainnya. 

Maka tidak heran jika setiap perubahan sosial selalu disambut oleh sikap pro dan kontra dari kalangan  masyarakat.

Demikianlah uraian artikel tentang Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial. Semoga uraian diatas bermanfaat dan dapat menambah wawasan Anda.

Post a Comment for " Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial"