Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pande Besi, Profesi Luhur Warisan Nenek Moyang Yang Mulai Hilang

Pande Besi, Profesi Luhur Warisan Nenek Moyang Yang Mulai Hilang
credit:[email protected]_humaninterest

Pada zaman modern seperti sekarang ini hampir semua benda atau peralatan dibuat atau diciptakan dengan alat-alat atau mesin modern pula. Demikian pun peralatan logam baik itu berupa pisau, peralatan rumah tangga, peralatan pertanian/pertukangan, dan lain-lain. 

Sekalipun demikian, alat-alat logam yang diproduksi secara tradisional masih tetap hidup dan terus berlangsung. Bahkan perbaikan atau service alat-alat pertanian dan pertukangan dari logam banyak dilakukan dengan cara-cara tradisional.

Salah satu pelaku atau produsen alat-alat pertanian/pertukangan tradisional itu adalah Wijiono (46). Kecuali memproduksi alat-alat dari logam secara tradisional ia juga menerima servis atau perbaikan.

Secara menetap Wijiono membuka usahanya di rumahnya yang sekaligus berfungsi sebagai semacam rumah produksi atau studio, yakni di Ngaglik, Margaagung, Seyegan, Sleman. Kecuali di rumahnya, Wijiono juga biasa berkeliling dari pasar tradisional satu ke pasar tradisional lain untuk menjajakan jasanya. 

Pasar-pasar tradisional yang biasa disasarnya adalah Pasar Sleman, Pasar Cebongan, dan Pasar Ngino. Dia biasa menjajakan jasanya di pasar-pasar itu pada hari pasaran tertentu. Upamanya untuk Pasar Cebongan adalah hari pasaran Kliwon. Untuk Pasar Sleman pada hari pasaran Pahing. Sedangkan untuk Pasar Ngino-Seyegan jatuh pada hari pasaran Legi dan Wage.

Setiap kali menjajakan jasanya Wijiono ditemani oleh saudaranya. Jadi ia selalu berdua untuk melakukan pekerjaannya karena pekerjaan sebagai pande besi memang tidak bisa dilakukan seorang diri. 

Minimal harus ada yang berdiri sebagai tukang ubub ’tiup/pompa’ dan ada yang membakar besi serta menempa dan membentuknya. Selain itu Wijiono juga harus menyiapkan alat ububan yang berupa dua buah tabung silindris yang dipasang berjejeran. 

Dua tabung ini didalamnya diberi klep yang bisa digerakkan ke atas dan ke bawah seperti gerak pompa ban. Pada bagian lain dari tabung ububan ini terdapat pipa pendek. Pipa pendek ini ditanam di dalam tanah dalam kedalaman sekitar 10-15 Cm saja. 

Pada bagian ujung pipa ini diletakkan (ditimbunkan) arang membara. Nyala api bara ini bisa diperpanas atau diperbesar dengan ”tiupan” angin dari ububan.

Pendapatan sebagai penjaja jasa pande besi memang tidak pasti. Sama seperti penjaja makanan kelilingan. Demikian tutur Wijiono. Dalam sehari Wijiono biasa mendapatkan penghasilan sekitar 30.000-70.000 rupiah. 

Ini jika ia menjajakan jasa pande besinya di pasar-pasar tradisional. Sedangkan bila di rumah, pendapatannya lebih tidak menentu.

Wijiono juga menerangkan bahwa untuk servis (jasa pembuatan) linggis ia biasa menarik tarif 15.000-30.000 rupiah. Untuk sabit ia menarik tarif 10.000 rupiah. Sedangkan untuk pacul ia menarik tarif 25.000 rupiah. 

Itu pun dengan bahan (besi/baja) dari konsumen sendiri. Untuk satu sabit biasanya diperlukan besi seberat 1 kilogram. Sedangkan harga 1 kilogram besi sekitar 7.000 rupiah. Harga jual sabit sekitar 15.000 rupiah.

Ada banyak peralatan pertanian, rumah tangga, dan pertukangan yang diproduksi oleh pabrik. Aneka macam pisau pun telah banyak yang diproduksi oleh pabrik dengan teknologi permesinan yang canggih serta dapat memproduksi secara massal. 

Sekalipun demikian Wijiono tidak takut bersaing dengan pabrik-pabrik itu. Wijiono berprinsip bahwa setiap orang yang memiliki alat-alat semacam di atas jika sudah rusak pasti akan mencari pande besi semacam dirinya. 

Mereka tidak akan mencari tukang servis lain karena memang tidak ada. Mereka juga tidak mungkin mencari tukang servisnya di pabrik tempat alat tersebut diproduksi. 

Selain itu Wijiono juga percaya bahwa masyarakat Indonesia (Jawa-Jogja) masih banyak yang membutuhkan alat-alat dari logam dengan harga relatif murah, funsional, mudah dibeli, mudah dibetulkan seperti alat-alat yang diproduksi secara tradisional oleh Wijiono ini. 

Pacul, sabit, golok, bendho, linggis Anda rusak ? Jangan dibuang atau dijual rongsokan, betulkan saja di tukang pande besi tradisional macam Wijiono.

Post a Comment for "Pande Besi, Profesi Luhur Warisan Nenek Moyang Yang Mulai Hilang"