Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Candi Prambanan

Sejarah Candi Prambanan

Pada artikel sebelumnya kita telah sama - sama mengetahui tentang sejarah Candi Borobudur lengkap. Dan pada artikel kali ini kita akan membahas tentang sejarah Candi Prambanan.

Tahukah Anda bagaimana sejarah Candi Prambanan? Tulisan berikut ini akan mengulas bagaimana penemuan Candi Prambanan dan sejarah serta pembangunannya. 

Indonesia memiliki banyak Candi yang banyak tersebar di pulau Jawa. Masing-masing Candi memiliki ciri khas dan sejarah yang berbeda-beda pula. Kali ini adalah saatnya kita akan mengulas sejarah Candi Prambanan. 

Apakah Anda sudah pernah pergi kesana sebelumnya? Kalau belum saya sangat merekomendasikan agar Anda dapat berkunjung kesana, karena Anda akan mengetahui banyak hal tentang Candi Prambanan tersebut lengkap dengan segala keindahannya.

Sejarah Candi Prambanan - Lokasi Candi Prambanan

Candi Prambanan terletak di perbatasan antara provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan provinsi Jawa Tengah. Kompleks candi masuk ke dalam dua wilayah, yakni Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, dan Kecamatan Prambanan yang merupakan bagian dari Kabupaten Klaten. 

Jika Anda memasuki kawasan wisata Candi Prambanan ini, maka Anda akan sangat takjub dengan pemandangan yang disuguhkan. Ada ratusan Candi bertebaran yang akan membuat Anda akan semakin penasaran untuk memegangnya satu per satu. Candi yang paling besar yaitu candi Siwa, terletak di tengah kompleks bangunan Candi Prambanan tersebut.

Candi Prambanan merupakan peninggalan kebudayaan Hindu terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Oleh karena itu, tidak heran jika Candi ini memiliki nilai historis yang sangat luar biasa. 

Selain bentuk bangunan Candi dan tata letaknya yang menakjubkan, sejarah Candi Prambanan juga sangat unik dan menarik untuk Anda ketahui. 

Keunikan juga dapat Anda lihat dari relief-relief yang terdapat pada bangunan Candi. Anda akan disuguhi relief yang menceritakan kisah Ramayana pada dinding pagar langkan Candi Siwa dan Candi Brahma. 

Ada banyak relief-relief yang menghiasi dinding Candi Prambanan. Masing-masing relief tersebut memiliki makna dan kisah tersendiri.

Candi Prambanan juga menjadi salah satu situs cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Perhatian dunia internasional terhadap keberadaan Candi ini juga cukup besar. 

UNESCO (Badan PBB yang membidangi masalah kebudayaan) telah menetapkan Candi ini dalam kategori situs Warisan Dunia. Di Asia Tenggara, Candi Prambanan juga merupakan Candi Hindu terbesar yang pernah ada. Hal itu tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Sejarah Candi Prambanan Berdasarkan Prasasti

Sejarah Candi Prambanan memang cukup panjang. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengetahui sejarah pembangunan Candi Prambanan tersebut. 

Para peneliti mengumpulkan bukti dari prasasti yang ditemukan di kompleks Candi tersebut yang disebut prasasti “Siwargha”. Tentu saja masih banyak kesimpang siuran karena Candi ini dibangun pada masa lampau.

Candi Prambanan atau yang juga biasa disebut Candi Rara Jonggrang dibangun pada abad ke-9 Masehi sebagai persembahan untuk Trimurti. Dalam agama Hindu, Trimurti adalah tiga dewa utama yaitu Brahma (dewa pencipta), Wishnu (dewa pemelihara), dan Siwa (dewa pemusnah).

Prasasti Siwagrha menuliskan bahwa nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha. Dalam bahasa Sansekerta, Siwargha berarti “Rumah Siwa”. 

Pada akhirnya, candi ini dinamakan Candi Prambanan yang diambil dari nama desa tempat Candi ini dibangun. Nama Prambanan sendiri  diperkirakan berasal dari frase "Para Brahman" yang diucapkan dengan dialek bahasa Jawa.

Pemujaan yang tinggi terhadap dewa Siwa juga nampak dari penempatan arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter di ruang utama. Dari prasasti Siwargha juga diketahui bahwa Candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan untuk menandingi Candi Borobudur dan Candi Sewu yang lokasinya tidak jauh dari Candi Prambanan.

Selain itu, Candi Prambanan ini dibangun untuk menandai kembali berkuasanya Dinasti Sanjaya di tanah Jawa. Penyempurnaan pembangunan Candi Prambanan ini kemudian dilakukan oleh Raja Lokapala dan Raja Balitung. Mereka juga melakukan perluasan kawasan Candi Prambanan.

Meskipun dibangun pada masa lampau, proses pembangunan Candi Prambanan ini sangat mendetail. Mereka melakukan perubahan tata air untuk memindahkan aliran sungai Opak yang berada di dekat Candi ini. 

Menurut ahli sejarah, hal itu dimaksudkan untuk mencegah erosi sungai yang dapat membahayakan konstruksi Candi. Tentu dibutuhkan pemikiran yang cerdas sehingga terpikir untuk melakukan proyek tersebut. Pembangunan tersebut sama sekali tidak mengubah nilai sejarah Candi Prambanan tersebut.

Secara berkala, penyempurnaan terhadap kompleks Candi terus dilakukan oleh raja-raja Medang Mataram berikutnya, antara lain raja Daksa dan Tulodong. Perluasan kawasan juga dilakukan dengan membangun ratusan Candi-Candi tambahan di sekitar Candi utama. 

Kerajaan Mataram menjadikan Candi Prambanan sebagai Candi agung (tempat mengadakan upacara penting kerajaan) karena kemegahannya yang luar biasa.

Menurut dugaan dari para ahli sejarah, Candi ini juga pernah digunakan untuk ritual keagamaan oleh ratusan pendeta brahmana dan murid-muridnya. Di sana mereka mempelajari kitab Weda dan mengadakan berbagai ritual dan upacara agama Hindu. 

Dugaan lain yaitu tentang letak pusat kerajaan atau keraton kerajaan Mataram yang berada di dekat Prambanan, yaitu di dataran Kewu.

Terkait sejarah Candi Prambanan, puncak kejayaan Candi Prambanan ini berakhir sekitar tahun 930an Masehi ketika Candi ini ditinggalkan oleh para pemujanya sebagai akibat pindahnya pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur. 

Perpindahan itu diduga akibat letusan dahsyat Gunung Merapi yang juga melanda kawasan Prambanan. Di kemudian hari, Candi ini ditemukan dalam keadaan yang sudah hampir hancur. 

Saat itu juga terdapat banyak reruntuhan batu di sekitar candi. Orang yang pertama kali menemukannya adalah seorang warga Belanda yang bernama C.A.Lons berkunjung ke Jawa pada tahun 1733.

Beberapa usaha penyelamatan Candi mulai dilakukan beberapa tahun kemudian. Ijzerman memulai proses penyelamatan Candi pada tahun 1885 dengan menyingkirkan reruntuhan batu pada bilik-bilik Candi.  

Beberapa waktu kemudian, pembongkaran besar-besaran dilakukan oleh Isaac Groneman. Namun, batu-batu Candi tersebut malah ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak.

Warga Belanda mengambil beberapa arca dan relief Candi untuk dijadikan hiasan taman. Penduduk setempat juga mengambil batu Candi untuk bahan bangunan dan pondasi rumah. Itulah yang menyebabkan banyak Candi sudah tidak utuh lagi. 

Pada tahun 1902, Van Erp memimpin proses pemugaran untuk beberapa Candi seperti Candi Siwa, Candi Brahma dan Candi Wisnu.

Candi Prambanan semakin mendapat perhatian dari banyak orang. Pada tahun 1933, percobaan penyusunan Candi Brahma dan Wisnu berhasil dilakukan. Setelah mengalami berbagai hambatan dalam prosesnya, Pemugaran Candi Siwa diselesaikan pada tanggal 23 Desember 1953 dan secara resmi dinyatakan selesai oleh Presiden Sukarno.

Proses pemugaran Candi tidak berhenti sampai disitu saja. Pada tahun 1978, Candi Brahma mulai dipugar dan diresmikan pada tahun 1987. 

Begitu juga dengan Candi Wisnu yang mulai dipugar tahun 1982 dan selesai tahun 1991. Setelah itu, Candi Perwara yang berada di depan Candi Siwa, Wisnu, dan Brahma juga mengalami pemugaran.

Legenda Awal Mula Candi Prambanan

Sejarah Candi Prambanan tidak lepas dari adanya legenda yang sudah melekat di benak masyarakat sekitar yaitu tentang kisah roro jonggrang dan Bandung Bondowoso. Candi Prambanan sendiri dikenal dengan nama Roro Jonggrang oleh penduduk lokal. 

Entah darimana asal legenda tersebut, yang jelas itu telah menjadi cerita rakyat yang dipercayai masyarakat sekitar sebagai awal mula sejarah Candi Prambanan.

Dahulu kala, ada seorang raja yang bertahta di sebuah keraton di atas gunung Boko yang berada di selatan Prambanan. Dia bernama Raja Prabu Baka. Suatu hari datanglah seorang pemuda yang sangat sakti dan kuat bernama Bandung Bondowoso ke kerajaan tersebut.

Maksud kedatangannya adalah untuk menikahi putri dari Raja Prabu Baka. Putri yang cantik itu bernama Roro Jonggrang. Sang Raja pun memaksa putrinya untuk menikah dengan Bandung Bondowoso. 

Sebenarnya Roro jonggrang tidak mencintainya, akan tetapi apa daya, dia tidak pula bisa menolaknya karena itu adalah perintah ayahanda tercinta.

Dia pun terus berpikir, bagaimana cara menggagalkan rencana pernikahan itu. Setelah melalui petimbangan yang panjang, akhirnya dia memberikan satu syarat yang cukup berat kepada Bandung Bondowoso dengan harapan supaya dia tidak mampu memenuhinya dan akhirnya pernikahan pun batal. 

Syarat yang dia maksud itu adalah membangun 1000 buah candi dalam satu malam yang harus diselesaikan sebelum fajar menyingsing.

Namun ternyata di luar dugaan, Bandung Bondowoso ternyata menyanggupinya. Ia pun memanggil bala bantuan yang berupa beribu-ribu makhluk halus untuk membantunya menyelesaikan misi berat tersebut. 

Roro Jonggrang kebingungan ketika mengetahui bahwa pembangunan Candi hampir selesai. Ia pun keluar dari keraton dan menyuruh para wanita untuk menumbuk padi. 

Suara tumbuan lesung terdengar oleh Bandung Bondowoso dan para makhluk halus yang membantunya. Para makhluk pun mengira bahwa hari sudah pagi dan mereka harus kembali ke asalnya. Padahal pada waktu itu tinggal satu arca yang belum terselesaikan.

Bandung Bondowoso sangat marah apalagi ketika Dia tahu bahwa semua itu adalah siasat licik dari Roro Jonggrang. Ia pun mengutuk sang perempuan untuk melengkapi arca keseribu. 

Arca tersebut yang akhirnya dipercaya masyarakat sebagi arca “durgamahisasuramardhini” yang terletak di bilik utara candi Siwa.

Mungkin legenda tersebut hanyalah sebuah cerita karangan dari warga sekitar, akan tetapi hal itu tetap saja menjadi bagian dari sejarah Candi Prambanan yang sudah dikenal luas oleh masyarakat.

Mengetahui sejarah Candi Prambanan sangatlah penting terutama bagi kita sebagai warga negara  Indonesia supaya kita bisa menghargai budaya asli bangsa Indonesia.

Post a Comment for "Sejarah Candi Prambanan"