Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teori Antropologi Kebudayaan

Teori Antropologi Kebudayaan

Secara alamiah, manusia selalu tertarik untuk mengenali dan mempelajari orang-orang yang berada di sekitarnya. Mengapa demikian? Karena memang setiap individu yang ada memiliki perbedaan secara fisik, watak atau karakter. Mereka pun memiliki kebudayaan yang berbeda-beda.

Hal inilah yang kemudian memungkinkan lahirnya studi-studi tentang antropologi kebudayaan. Sejarah Antropologi Kebudayaan dan praktik antropologi kebudayaan telah dimulai oleh Herodotus, seorang ahli sejarah Yunani yang hidup sekitar 484-425 SM.

Herodutus melakukan perjalanan ke berbagai tempat di wilayah Asia, mesir dan Yunani untuk mengetahui, mempelajari dan kemudian menuliskannya kembali dengan terperinci tentang apa saja yang menjadi budaya orang-orang atau kelompok-kelompok masyarakat yang ia temui di sepanjang perjalanannya. 

Mulai dari cara mereka berpakaian, apa yang mereka makan, bagaimana cara mereka memperoleh makanan, ritual-ritual yang dilakukan, upacara-upacara adat, bahasa, dan etiket pergaulan mereka.

Perjalanan Antropologi Kebudayaan

Perjalanan antropologi kemudayaan dimulai ketika orang-orang Eropa mulai melakukan pelayaran dan ekspedisi keliling dunia. Para penjelajah, pelaut, dan misionaris itu pun juga mulai banyak yang menuliskan kisah perjalanan mereka, yang bercerita tentang apa saja yang mereka jumpai. 

Segala cerita tentang kehidupan, adat-istiadat dan kebudayaan masyarakat yang tidak pernah ditemui oleh mereka sebelumnya, mereka tulis ulang untuk kemudian, cerita-cerita atau tulisan itu mereka bawa pulang kembali ke negara asal mereka.

Mereka menjadikan tulisan-tulisan itu sebagai semacam laporan perjalanan. Inilah yang kemudian menjadi awal munculnya ilmu antropologi. Pada abad kesembilanbelas, antropologi menjadi kajian akademis yang berdiri sendiri. 

Beberapa badan dan institusi yang mempelajari etnologi ataupun antropologi mulai muncul di berbagai tempat di Eropa dan Amerika.

Kebanyakan dari mereka memfokuskan penelitian dan pembahasan pada bahasa, sifat-sifat secara fisik, dan budaya masyarakat-masyarakat di luar bangsa mereka, yang sering dianggap tidak ‘beradab’

Perbedaan Kebudayaan dalam antropologi kebudayaan seringkali dijumpai adanya perbedaan budaya atau kultur masyarakat antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya. Perbedaan kebudayaan antara masyarakat di dunia, dipengaruhi oleh banyak faktor. 

Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Perbedaan geografis, perbedaan kondisi tempat dan lingkungan geografis dimana masyarakat bertempat tinggal memang menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh. 

Masyarakat agraris yang hidup di wilayah yang subur akan memiliki kebudayan bercocok tanam yang amat kuat, spesifik dan besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat Eskimo yang hanya menangkap ikan atau mempunyai kebudayaan berburu.

2. Perbedaan waktu, perbedaan waktu yang dimaksudkan di sini adalah tentang era hidup masyarakat-masyarakat tersebut. Sebagian wilayah ada yang merasa dirinya telah menjadi modern karena industrialisasi yang ada di negara mereka. 

Namun ada juga wilayah yang masih dianggap terbelakang atau tidak beradab justru memiliki warisan budaya yang begitu besar, berupa seni arsitektur bangunan, seni patung, seni lukis dan lainnya yang bahkan tidak bisa dihasilkan oleh sebuah mesin.

3. Perbedaan agama atau keyakinan, perbedaan tentang agama atau keyakinan juga menjadikan adat-istiadat dan kebudayaan tiap kelompok masyarakat berbeda. 

Satu contoh misalnya, para penganut agama Buddha di Srilanka membuat sebuah patung Buddha yang besarnya 11,5 meter yang dipahat langsung di permukaan tebing di Awkana, Srilanka.

Sedangkan orang-orang Muslim memiliki masjid yang selain untuk dipakai berdoa dan beribadah juga merupakan tempat pertemuan yang penting, menjadi pusat kegiatan untuk komunitas baik dalam bidang-bidang sosial maupun keagamaan.

Metode Penelitian Antropologi Kebudayaan 

Teori Antropologi Kebudayaan

Seorang ahli antropologi melakukan penelitiannya dengan cara mengumpulkan berbagai data secara langsung di lapangan, kemudian dia membuat kesimpulan-kesimpulan yang sesuai dengan data-data yang telah dimilikinya. 

Karena para antropolog itu melakukan penelitian dengan menggunakan anggota masyarakat, secara teoritis para anggota masyarakat yang digunakan sebagai "obyek penelitian" itu pun tak boleh terkontaminasi atau mempengaruhi fenomena yang sedang diselidiki.

Jadi interaksi yang ditimbulkan oleh peneliti di lapangan tidak boleh mempengaruhi atau merubah perilaku masyarakat itu. 

Peneliti melakukan dua kegiatan berbeda yang harus dilakukannya hampir secara bersamaan di lapangan, yakni berpartisipasi, yang artinya ikut berperan langsung atau mengambil bagian, dalam kehidupan sehari-hari sebuah kelompok atau komunitas dengan sebaik-baiknya, hingga dapat dianggap sebagai bagian dari kelompok itu sendiri, agar peneliti dapat memperoleh data-data yang se-detail dan se-faktual mungkin.

Yang kedua, peneliti juga harus dapat bertindak hanya menjadi pengamat saja, artinya peneliti harus dapat melakukan berbagai tinjauan dari sudut pandang yang umum dan luas serta terlepas dari ikatan batin dengan masyarakat yang diteliti. 

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahaya akibat kita terlalu naïf, percaya begitu saja pada informasi yang dikemukakan dari hasil mewawancarai para obyek yang diteliti.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendapat informasi yang lebih akurat dalam penelitian antropologi kebudayaan adalah dengan melakukan perbincangan secara lebih personal atau pribadi dan bukan melakukan wawancara langsung pada sekelompok orang. 

Kita dapat pula meminta, salah satu dari mereka yang telah memiliki hubungan lebih dekat dengan kita dan melek huruf untuk menulis kegiatan mereka dalam sebuah buku tulis sebagai dokumentasi.

Atau bisa juga kita merekamnya saat melakukan percakapan dan bincang-bincang santai sembari menemani mereka melakukan aktivitas harian.

Demikianlah ulasan artikel mengenai  Teori Antropologi Kebudayaan. Semoga ulasan artikel ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan Anda.

Post a Comment for " Teori Antropologi Kebudayaan"