Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Kerajaan Demak - Pusat Penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa

Sejarah Kerajaan Demak - Pusat Penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa
credit:[email protected]_abdillah26

Sebelum terbentuk sebagai sebuah negara yang memiliki sistem pemerintahan modern, Indonesia telah lebih dulu sudah mengenal sistem pemerintahan yang berbentuk kerajaan. Kerajaan yang terdapat di Indonesia jumlahnya sangat banyak. Tiap-tiap wilayah memiliki sistem kekerajaannya sendiri.

Daerah kekeuasaan pun terbagi menjadi beberapa bagian, bergantung sejauh dan sebesar apa kerajaan itu berkuasa. Salah satu kerajaan terbesar yang dimiliki oleh Indonesia pada zaman dahulu adalah kerajaan Demak.

Kerajaan Demak atau Kesultanan Demak merupakan kerajaan berbasis agama Islam pertama di Pulau Jawa. Perkembangan Islam di Pulau Jawa juga bermula dari sebuah kerajaan di daerah Demak ini.

Secara geografis, Kerajaan Demak terletak di kabupaten Demak, provinsi Jawa Tengah. Oleh masyarakat sekitar, Demak dikenal juga dengan sebutan Bintoro atau Glagah Wangi. Kerajaan Demak dulu merupakan “bawahan” dari Kerajaan Majapahit.

Jika dibandingkan dari umurnya, maka Kerajaan Demak jauh lebih muda daripada Kerajaan Majapahit. Namun, juika kita menengok catatan sejarah, Kerajaan Demak nyatanya tidak bisa lepas dari pengaruh Kerajaan Majapahit.

Tentu saja, karena raja dari Kerajaan Demak, Raden Patah adalah seorang Bupati dari Kerajaan Majapahit yang berpindah kepercayaan menjadi Islam.

Sejarah Kerajaan Demak

1. Kepemimpinan Raden Patah

Pada tahun 1500-an, Raden Patah mengambil sebuah keputusan besar dalam sejarah kerajaan di Indonesia. Ia rela meninggalkan kerajaan besar untuk mendirikan sebuah kerajaan Islam. Sebuah kerajaan yang berpusat di kota Demak.

Kemunduran Raden Patah dari Majapahit bukan semata-mata karena ia sudah tidak lagi peduli. Saat itu, kerajaan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia itu sedang mengalami suatu kemunduran. 

Berdirinya Kerajaan Demak mendapat bantuan dan restu dari Wali Songo. Adapun Wali Songo sendiri adalah Sembilan orang tokoh Agama Islam yang menjadi panutan bagi masyarakat saat itu.

Pengaruh dari Wali Songo sangat kuat. Kerajaan Demak pun berkembang dengan cepat. Kerajaan Demak tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat menjadi sebuah kerajaan Islam yang besar.

Kejayaan Raden Patah dalam memimpin Kerajaan Demak terjadi pada 1511 M. Daerah kekuasaannya pun meluas hingga daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam memimpin Kerajaan Demak, Raden Patah tidak seorang diri. Raden Patah dibantu oleh anaknya, yakni Dipati Unus.

2. Kepemimpinan Pati Unus

Pati Unus yang saat itu tengah menjabat sebagai adipati Jepara membantu ayahnya untuk terus mengembangkan Kerajaan Demak. Hingga akhirnya Raden Patah meninggal pada 1518. Posisi Raja Demak secara otomatis diturunkan padanya. Pati Unus pun menjadi Raja Demak seutuhnya.

Pati Unus terkenal juga dengan sebutan Pangeran Sebrang Lor. Tak lama setelah menggantikan posisi ayahnya sebagai Raja Demak, Pati Unus pun meninggal. 

Pati Unus meninggal setelah tiga tahun menjabat sebagai Raja Demak. Tahta selanjutnya jatuh pada adik dari Pati Unus, yakni Pangeran Trenggono. Pati Unus memerintah pada 1518 M hingga 1521 M.

3. Kepemimpinan Pangeran Trenggono

Pangeran Trenggono memerintah dengan baik. Kerajaan Demak kembali mencapai masa kejayaannya. Daerah kekuasaan Kerajaan Demak kini sudah mulai menyentuh wilayah Jawa Barat. Itu semua berkat kepemimpinan Pangeran Trenggono yang bijaksana, gagah, dan berani. Masa kepemerintahan Pangeran Trenggono berlangsung dari tahun 1521 hingga 1546.

Kerajaan Demak dan Portugis

Bangsa Portugis adalah musuh utama dari Kerajaan Demak. Itu semua karena bangsa Portugis menghambat berkembangnya Kerajaan Demak. 

Secara bersamaan, datanglah seorang ulama, yang bernama Fatahillah yang juga tidak senang dengan tingkah laku Portugis. Fatahillah dan Pangeran Trenggono pun bersatu untuk mengusir Portugis dari tanah Sunda pada saat itu.

Tahun 1527, Portugis akhirnya berhasil dikalahkan oleh Jayakarta yang lebih dulu telah mengakui kebesaran Fatahillah. Sementara upaya menyatukan seluruh Jawa dalam satu kerajaan terus dilakukan Pangeran Trenggono. 

Pengeran Trenggono kemudian juga berhasil menaklukan Mataram dan Singasari. Beliau akhirnya meninggal ketika hendak menaklukan daerah Pasuruan.

Keruntuhan Kerajaan Demak

Sejarah Kerajaan Demak - Pusat Penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa
credit:[email protected]_apple

Meninggalnya Pangeran Trenggono menyisakan kepedihan bagi anak - anak dan keluarganya. Perebutan kekuasaan pun tidak bisa dielakkan. Perebutan kekuasaan terjadi antara anak dari Pangeran Trenggono dengan adik Pangeran Trenggono. Naas, dua keturunan dari Pangeran Trenggono itu tidak ada satupun yang berhasil memerintah.

Para keturunan Pangeran Trenggono dihabisi oleh Arya Penangsang. Arya Penangsang adalah sosok kejam yang sama sekali tidak disukai rakyat. 

Ia bahkan membunuh Adipati Jepara. Melihat suaminya terbunuh, Ratu Kalinyamat, istri dari Adipati Jepara, meminta bantuan dari adipati-adipati lain untuk melawan Arya Penangsang.

Di antara adipati tersebut terdapat menantu Sultan Trenggono bernama Joko Tingkir. Joko Tingkir lah yang kemudian akhirnya bisa mengalahkan Arya Penangsang. Setelah itu Kerajaan Demak pun dipindahkan ke Pajang pada 1568 oleh Joko Tingkir.

Post a Comment for " Sejarah Kerajaan Demak - Pusat Penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa"