Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Perkembangan dan Jenis Rumah Adat Banjar

rumah-adat-bubungan-tinggi-banjar
credit:[email protected]_kalimantan

Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat kaya dengan unsur seni dan kebudayaan. Terdapat banyak jenis kebudayaan di Indonesia, seperti tarian, lagu, alat musik, musik, patung, pakaian, makanan, rumah adat, dan lain-lain.

Artikel ini akan membahas jenis kebudayaan berupa rumah adat Banjar. Rumah Banjar atau rumah adat Banjar merupakan rumah tradisional suku Banjar. Rumah adat ini memiliki gaya dan ukuran yang khas. 

Pada umumnya, rumah tradisional Banjar dibangun dengan ber-anjung (bagian rumah, di sisi atau di tengah rumah yang lantainya lebih tinggi daripada lantai rumah). Oleh karena itu, rumah ini disebut Rumah Baanjung.

Ciri khas rumah tradisional ini adalah anjung. Rumah adat yang memiliki nilai tinggi adalah tipe Rumah Bubugan Tinggi dan biasa dibangun untuk bangunan keraton.

Sejarah Rumah Adat Banjar

Berdasarkan sejarahnya, Rumah Adat Banjar sudah ada sejak abad ke-16. Pada waktu itu, daerah Banjar dipimpin oleh Pangeran Samudera. Konstruksi awal rumah adat ini adalah berbentuk segi empat dan memanjang ke depan. Kemudian terjadi penambahan bangunan di sisi kiri dan kanan. Penambahan ini disebut disumbi dalam bahasa Banjar.

Bangunan tambahan di sisi kiri dan kanan disebut anjung. Oleh karena itu, rumah adat ini dikenal dengan Rumah Ba-anjung. Pada 1850, bangunan-bangunan perumahan yang ada di lingkungan keraton dilengkapi dengan berbagai bentuk bangunan lain.

Lama-kelamaan, semakin banyak bangunan-bangunan perumahan yang didirikan di lingkungan keraton maupun di daerah lainnya. Akhirnya, bentuk Rumah Ba-anjung bukan lagi ciri khas rumah kesultanan, tapi sudah menjadi identitas rumah penduduk Banjar.

Perkembangan Rumah Adat Banjar

Saat ini, pembuatan Rumah Ba-anjung sudah tidak banyak seperti dulu. Adaya masalah biaya, area tanah, dan mode merupakan penyebab masyarakat sekarang tidak mau membangun rumah mereka dengan bentuk rumah ba-anjung. 

Bahkan, banyak rumah ba-anjung yang telah dibangun kemudian direnovasi dengan mengubahnya menjadi rumah modern.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah sudah mengambil tindakan dengan memberikan subsidi untuk merawat bangunan-bangunan tersebut. Tapi, banyak pemilik rumah yang menolak menerima subsidi tersebut karena berbagai alasan.

Kontruksi Rumah Adat Banjar

Kerangka:

Susuk yang terbuat dari kayu Ulin.

Gelagar yang terbuat dari kayu Ulin.

Lantai yang terbuat dari papan Ulin dengan ketebalan 3 cm.

Rangka pintu dari papan dan balokan Ulin.

Tiang Orong-Orong dan Sangga ributnya terbuat dari balokan kayu Ulin, kayu Lanan, dan Damar Putih.

Kasau terbuat dari balokan Ulin.

Lantai:

Pada rumah ini ada yang disebut Lantai Jarang atau Lantai Ranggang. Bahan untuk lantai adalah papan Ulin dengan lebar 20 cm, sedangkan untuk Lantai Ranggang terbuat dari papan Ulin dengan lebar 10 cm.

Dinding:

Dinding rumah adat ini terdiri atas papan dan dipasang dengan posisi berdiri. Di bagian samping dan belakang, dindingnya menggunakan kayu Ulin atau Lanan.

Atap:

Ciri khas bangunan salah satunya adalah bentuk atapnya. Atap bangunan ini terbuat dari sirap dengan bahan kayu Ulin atau atap rumbia.

Ukiran:

Di dalam rumah adat ini terdapat banyak ukiran, seperti ukiran yang terdapat di tiang, tataban, pilis (papan lisplang), dan tangga. Motifnya berupa motif bunga, daun, binatang, dan kaligrafi.

Jenis-Jenis Rumah Adat Banjar

1. Rumah Bubungan Tinggi

2. Rumah Gajah Baliku

3. Rumah Gajah Manyusu

4. Rumah Balai Laki

5. Rumah Balai Bini

6. Rumah Palimbangan

7. Rumah Palimasan (Rumah Gajah)

8. Rumah Cacak Burung/Rumah Anjung Surung

9. Rumah Tadah Alas

10. Rumah Lanting

11. Rumah Joglo Gudang

12. Rumah Bangun Gudang

Itulah sekilas sejarah perkembangan dan jenis rumah adat Banjar. Semoga informasi ini berguna dan bermanfaat untuk Anda.

Post a Comment for " Sejarah Perkembangan dan Jenis Rumah Adat Banjar"