Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gedur, Musik Tradisional yang Menghilang

Gedur, Musik Tradisional yang Menghilang

Pernah mendengar nama kesenian musik Gedur? Tentu asing buat kita, bukan? Maklum, Gedur bisa jadi salah satu kesenian musik sunda yang bisa dikatakan hampir punah. Musik ini diperkirakan sudah berusia ratusan tahun.

Lahir di daerah Bandung Timur, tepatnya di daerah Cibiru dan Sukamiskin, Gedur dibawa oleh alim ulama yang melakukan syiar Islam di daerah sana. Karena itu, kesenian ini juga masuk pada salah satu kategori kesenian tradisional Islam.

Di beberapa daerah, Gedur memiliki istilah berbeda. Di Banten, orang menyebutnya dengan Mawalan, Sumedang menyebutnya Terbangan, Purwakarta mengenalnya dengan sebutan Pantulan.

Gedur adalah kesenian musik yang langka dan menarik. Gedur menggunakan alat musik utama yang disebut Terbang. Alat musik ini mirip dengan rebana, simbalnya terbuat dari kulit kambing dan diikat pada kayu bulat, sebanyak empat buah. 

Ukurannya berbeda-beda. Dari diameter 40 cm, 35 cm, 30 cm, dan 25 cm. Di kalangan musisi tradisional, satu set terbang harganya Rp1,5 juta.

Perkusinya ada satu gendang kecil yang disebut Kulanten dan bedug. Dalam atraksinya, semua alat ini ditabuh bersama-sama. Dengan irama tetabuhan dinamis naik turun, mengiringi dendang  shalawat nabi, dzikir, serta puluhan lagu dari barzanji.

Agar lebih menarik, seni musik ini juga menampilkan atraksi kesenian benjang. Sebuah atraksi yang menampilkan dua orang laki-laki saling bergulat diiringi tetabuhan.

pemain-kesenian-gedur
credit:[email protected]_anji

Pemain Gedur biasanya berjumlah lima orang. Semuanya laki-laki. Pengiring yang menyanyikan shalawat bisa lebih banyak lagi jumlahnya. Kelompok seni musik Gedur ini biasa tampil di bulan Syawal dan Maulid.

Persisnya mereka tampil pada acara syukuran 40 hari kelahiran anak, cukuran, hingga pindahan rumah baru. Bayarannya tak begitu mahal antara Rp1,5 juta hingga Rp3 juta. Tergantung berapa lama mereka diminta memainkan Gedur.

Musik Gedur memiliki durasi bermain yang panjang. Jika dipentaskan di sebuah acara potong rambut bayi, waktu yang diambil bisa dari jam 9 pagi sampai pukul tiga sore.Namun, dahulu kala, Gedur dimainkan masyarakat ketika usai sholat isya hingga menjelang adzan subuh.

Di daerah cibiru, masih ada beberapa orang yang bisa diundang untuk memainkan Gedur. Akan tetapi, rata-rata mereka sudah berusia sepuh alias tua. Dalam kondisi tertentu, kesenian ini sering dimainkan di Kampung Seni Manglayang, Cibiru, Kabupaten Bandung.

Menurut pemiliknya, kesenian ini bisa saja sering ditampilkan di sana, syaratnya jika pengunjung banyak yang meminta.

Tapi, karena usia pemainnya rata-rata sudah tua, kelompok seni musik Gedur paling tidak mesti diundang satu bulan sebelumnya. Selama satu bulan, kakek-kakek pemain Gedur ini akan berlatih untuk memantapkan tetabuhan.

Tertarik mengundang mereka, sekaligus melestarikan seni musik sunda tradisional ini? Datang saja ke Kampung Seni Manglayang di Cibiru.

Post a Comment for " Gedur, Musik Tradisional yang Menghilang"