Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tradisi Masyarakat Jawa Yang Luhur Dan Lestari Hingga Sekarang


Tradisi Masyarakat Jawa Yang Luhur Dan Lestari Hingga Sekarang
image : pixabay

Masyarakat suku Jawa terutama Jawa Tengah memiliki tradisi dan kebiasaaan yang berkembang di masyarakat yang tetap lestari hingga sekarang. Tradisi tersebut merupakan warisan yang di turunkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga akhirnya sampai kepada generasi kita sekarang.

Dari setiap tradisi yang ada tersebut selalu terdapat nilai - nilai filosofis yang mengiringi tradisi tersebut. Artinya tradisi yang berkembang itu bukan hanya sebuah tradisi yang di lakukan tanpa makna.

Berikut ini adalah beberapa tradisi khas suku Jawa yang masih tetap di lakukan sampai saat ini, antara lain :


1. Tradisi Adat Dalam Perkawinan Jawa

Tradisi Masyarakat Jawa Yang Luhur Dan Lestari Hingga Sekarang

Tradisi adat dalam perkawinan suku Jawa sangatlah sakral dan njlimet. Prosesi rangkaian upacara perkawinan yang di laksanakan sangat panjang dan melelahkan. Deretan rangkaian upacara tersebut antara lain : Prosesi siraman, prosesi ngerik, prosesi midodareni, prosesi srah-srahan, prosesi nyantri, panggih, prosesi  balangan suruh, prosesi ritual wiji dadi, prosesi kacar kucur, prosesi dhahar klimah, prosesi tumplek sunjen, prosesi sungkeman dan lain - lain.

2. Tradisi Sekaten

Tradisi Masyarakat Jawa Yang Luhur Dan Lestari Hingga Sekarang
image : jogjainside.com

Tradisi Sekaten adalah tradisi yang di lakukan oleh nenek moyang suku Jawa yang tetap lestari hingga sekarang. Tradisi Sekaten pada dasarnya adalah acara dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, yang di laksanakan selama tujuh hari berturut - turut. 

Tradisi Sekaten sekarang masih di laksanakan oleh pihak Kesultanan Yogyakarta dan juga Kasunanan Solo. Tradisi Sekaten juga di manfaatkan oleh pihak keraton kasunanan Surakarta untuk mengeluarkan dua jenis gamelan pusaka yang selama ini di simpan yang  bernama gamelan Kyai Guntursari dan Kyai Gunturmadu.

3. Tradisi Grebeg


Tradisi Masyarakat Jawa Yang Luhur Dan Lestari Hingga Sekarang
image : jogjapedia.net

Tradisi Grebeg adalah tradisi yang berkembang di daerah Solo dan Yogyakarta. Tradisi Grebeg di laksanakan ketika memasuki bulan Maulud yang di daerah tersebut di kenal dengan nama Mauludan. Selain pada bulan Maulud tradisi Grebeg ini juga di laksanakan pada tanggal 1 Syawal yaitu pada perayaan hari raya Iedul Fitri dan pada bulan kedua belas atau bulan Zhulhijah menjelang pergantian ke bulan Muharam atau bulan Suro dalam bahasa Jawa,

Tujuan utama dari pelaksanaan tradisi Grebeg ini adalah sebagai wujud ungkapan rasa syukur pihal kerajaan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunianya selama ini.

4. Tradisi Kenduren


Tradisi Masyarakat Jawa Yang Luhur Dan Lestari Hingga Sekarang
image : [email protected]_aliadam

Tradisi Kendurean pada awalnya merupakan tradisi yang di laksanakan oleh umat Hindu dan Budha. Seiring dengan masuknya Islam di pulau Jawa maka tradisi kenduren atau slametan ini di adaptasi oleh Walisongo kala itu. 

Doa - doa yang di bacakan pada acara kenduren atau slametan tersebut kemudian di ganti oleh Wali songo dengan doa - doa yang di ajarkan oleh agama Islam. Bila kita melihat dari sejarahnya maka tradisi kenduren ini bisa di katakan sebagai sebuah proses akulturasi budaya dari budaya Hindu Budha menjadi budaya Jawa Islam.

Istilah sesajen pun sekarang ini sudah di hilangkan dan di ganti dengan acara makan bersama yang merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dan bukan lagi sebagai wujud persembahan seperti budaya Hindu atau Budha sebelumnya.

5. Tradisi Ruwatan
Tradisi ruwatan adalah tradisi yang di lakukan oleh masyarakat suku Jawa pada zaman dahulu. Walaupun tradisi tersebut sudah jarang di lakukan namun masih ada sebagian orang yang tetap memegang teguh tradisi tersebut dan melakukan prosesi ruwatan untuk kondidi - kondisi tertentu.

Prosesi ruwatan biasanya di lakukan pada anak tunggal, karena kepercayaan masyarakat Jawa bahwa kelahiran anak tunggal haruys di ruwat untuk menghilangkan kesialan - lesialan yang menyertainya.

Contoh nyata tradisi ruwatan yang masih dilestarikan sampai sekarang adalah di kawasan  Dataran Tinggi Dieng, akan tetapi prosesi ruwatan hanya di laksanakan  untuk anak - anak berambut gimbal. Orang - orang di kawasan dataran tinggi Dieng  percaya bahwa anak berambut gimbal memiliki keturunan buto atau raksasa sehingga mereka  harus menjalani prosesi ruwatan tersebut.

6. Tradisi Tedhak Siten

Tradisi Tedhak Siten di laksanakan oleh masyarakat suku Jawa ketika anak mereka telah menginjak usia delapan bulan. Ketika itu, sanag anak sudah mulai belajar untuk berjalan. Tradisi seperti ini sebenarnya di lakukan oleh suku - suku yang lain yang ada di Indonesia. Mereka mengenal tradisi tersebut dengan nama tradisi turun tanah.

Tidak ada unsur mistis atau religius yang menyertai tradisi Tedhak Siten ini, selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan karunia berupa kesehatan dan juga kesempurnaan secara fisik kepada anak - anaknya.


7. Tradisi Tingkepan (Mitoni)

Tradisi Mitoni di sebut juga dengan tradisi tujuh bulanan. Tradisi masyarakat jawa ini di lakukan ketika masa kehamilan seorang perempuan telah menginjak usia ke tujuh bulan. Tingkepan atau Mitoni adalah rangkaian tradisi di mana seorang perempuan yang sedang mengandung tujuh bulan di mandikan dengan air kembang setaman.

Setelah di mandikan maka selanjutnya perempuan atau wanita yang sedang mengandung tersebut akan di bacakan doa - doa oleh para sesepuh dan orang yang di tuakan di lingkungan masyarakat  tersebut agar kelak bayi yang sedang di kandungnya itu bisa lahir dengan selamat. Tradisi tersebut sampai sekarang tetap di pegang teguh dan laksanankan oleh suku Jawa di manapun mereka tinggal.

Walaupun tradisi dan rangkaian upacara perkawinan yang harus di jalani begitu panjang dan melelahkan, namun tradisi ini masih tetap di pegang teguh dan di lestarikan sampai dengan sekarang ini.

Post a Comment for "Tradisi Masyarakat Jawa Yang Luhur Dan Lestari Hingga Sekarang"