Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nilai Dan Fungsi Tayub-Mengenal Asal - Usul Sejarah Tari Tayub Grobogan


Mengenal Asal - Usul Sejarah Tari Tayub Grobogan

Kesenian Tayub telah di kenal sejak zaman dahulu kala bahkan telah mulai dikenal sejak zaman Kerajaan Singasari di Jawa Timur. Menurut sebuah literatur yang banyak kita jumpai kesenian Tayub pertama kali digelar pada masa  pemerintahan Prabu Tunggul Ametung. Kemudian  seni Tayub berkembang pesat di Kerajaan Kediri dan kerajaan Majapahit. Akhirnya  Raja Kediri kemudian menjadikan seni Tayub sebagai sebuah tarian resmi kerajaan dan mementaskan tarian tersebut untuk acara penyambutan terhadap tamu agung kerajaan yang datang berkunjung. Pada abad ke XII, kesenian Tayub di pentaskan dalam acara  penobatan Raja dari kerajaan Jenggala. Raja Jenggala kala itu mewajibkan para permaisuri untuk menari Tayub ketika menyambut kedatangan raja di pringgitan.

Tarian Tayub merupakan seni gerak tari para penari serta nyanyian yang diiringi dan diatur bersama supaya serempak berdasarkan kepada kesepakatan dari para pemain dengan para penonton, sehingga terwujudlah suatu keakraban dan persaudaraan. Dengan demikian maka Tayub sebenarnya adalah sebuah tarian pergaulan. Kata Tayub berasal dari bahasa Jawa yaitu “Tata dan Guyub” yang maknanya adalah  bersahabat dengan rasa persaudaraan tanpa persaingan dan tanpa aturan menari yang dibakukan. Kata Tayub dalam istilah yang di kemukakan oleh Jarwo Dhoso yaitu “ditata ben guyub”, yang merupakan sebuah filosofi yang ditanamkan pada seni Tayub sebagai sebuah kesenian untuk pergaulan. 

Nilai dasar atau utama dari seni Tayub adalah kesamaan kepentingan untuk mengapresiasikan kemampuan jiwa dan bakat seni, baik para penabuh gamelan maupun para penarinya. Kesamaan kepentingan ini kemudian akan melahirkan sebuah keserasian yang menjadikan Tayub sebagai suatu bentuk tarian. Mereka menari sesuai dengan kreativitas yang seirama dan diiringi oleh musik gamelan.

Kalau kita amati lebih dalam lagi,  tari tayub ini hampir mirip dengan tari jaipong di Jawa Barat. Walaupun popularitas tari Tayub di Jawa Tengah tidak setenar tari Gambyong, akan tetapi tari tayub masih sering kita jumpai dan di pentaskan dalam acara - acara pernikahan, khitanan, penyambutan pejabat pemerintahan dan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia.


Dalam sebuah grup kesenian tayub, biasanya terdiri dari sinden, peƱata gamelan, dan penari pria maupun wanita. Tidak terdapat aturan khusus (pakem) yang membatasi jumlah penari tayub yang harus di tampilkan.

Kesenian Tayub pada prinsip dasarnya adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang sangat merakyat dan di wujudkan dalam bentuk sebuah tarian. Menurut sejarah awal mula munculnya kesenian tayub berawal dari sebuah tarian ritual yang dilangsungkan untuk keperluan upacara ritual kesuburan pertanian. Upacara tersebut dilangsungkan ketika mulai panen dengan sebuah harapan bahwa pada musim tanam berikutnya nanti akan mendapatkan hasil panen yang lebih melimpah. 

Tari Tayub juga di pentaskan dalam upacara bedah bumi, dimana pengibing atau penjoget yang tampil pertama bersama para penari (disebut sebagai ledek tayub) adalah para tetua desa. Pasangan antara tetua desa dan ledek dalam tarian tayub disebut bedah bumi atau membedah bumi. Tarian berpasangan itu juga melambangkan hubungan antara pria dan wanita dengan tanah yang dibedah atau dibelah untuk ditanami padi. Hingga saat ini tari tayub masih sering dipentaskan dalam upacara-upacara yang bersifat ritual.

Adapun menurut fungsinya, setidaknya terdapat tiga fungsi utama dari kesenian Tayub dalam masyarakat, yaitu:

1. Fungsi Ritual

Fungsi ritual adalah fungsi paling mendasar dari keberadaan tari tayub, yakni sebagai pelengkap untuk upacara kesuburan pertanian, dan memang hampir semua bentuk seni pertunjukan yang ada pada awalnya digunakan sebagai sarana untuk pelengkap upacara.

Seiring dengan kemajuan dan perubahan zaman, fungsi tayub kemudian semakin berkembang dan menjadi sarana hiburan dengan tujuan komersil. 

Ciri-ciri dari tayub yang berfungsi sebagai sarana ritual, antara lain:
  • Diselenggarakan pada saat yang terpilih (Artinya waktu penyelenggaraannya khusus).
  • Dilakukan di tempat yang terpilih (Pementasan di tempat yang telah di tentukan).
  • Penari pria atau pengibing yang menari pertama bersama waranggana harus pria terpilih.
  • Waranggana yang tampil harus terpilih.
  • Diperlukan berbagai jenis sesaji.
Dalam ritual tersebut sosok penari atau waranggana yang menari berpasangan dengan laki-laki hanyalah sebagai simbol semata, dimana penari perempuan mewakili bumi atau tanah pertanian,sementara penari laki-laki mewakili benih (padi) yang dalam istilah Jawa dikenal dengan istilah bapa angkasa (bapak langit) dan ibu pertiwi (ibu bumi), persatuan diantara keduanya berupa hujan yang akan turun dan akan mendatangkan kesuburan pada lahan pertanian.

2. Fungsi Sosial

Pergeseran fungsi tayub dari fungsi ritual menjadi fungsi sosial dimulai pada awal abad ke-19, ketika mulai dibukanya jalur rel kereta api untuk pertama kalinya di pulau Jawa. Dengan adaya pembuatan jalur rel kereta api maka pembabatan hutan untuk dijadikan perkebunan merupakan sebuah hal yang dianggap legal dan tidak melanggar hukum. 

Dengan adanya pergeseran tersebut maka seni tradisi juga ikut bergeser dan berubah. Tari tayub tidak lagi hanya sebagai pelengkap upacara kesuburan melainkan lebih condong ke arah perangkat komersil. Para pelaku dalam kesenian tayub ini tidak lagi memposisikan diri sebagai pekerja seni yang terikat pada konsepsi filosofi tentang penyatuan alam “bapak angkasa dan ibu pertiwi” tetapi mulai bergeser dan berubah dengan memposisikan diri atas perhitungan untung dan rugi, sebagai “penjual jasa”, untuk menghibur.

Seni tayub mulai identik dengan budaya masyarakat umum, karena tayub mulai digunakan sebagai sarana hiburan rakyat, seperti untuk memeriahkan acara - acara pernikahan dan sebagainya. Pergeseran fungsi seni tayub sebagai sarana hiburan ini secara tidak langsung akhirnya mampu mendongkrak popularitas tayub yang pada masa itu merupakan kesenian yang sangat dekat dengan masyarakat bawah, dimana tayub yang pada awalnya hanyalah  menjadi bagian di dalam prosesi ritual saja, akan tetapi kini juga berfungsi sebagai seni pertunjukan dan sarana hiburan.

3. Fungsi Politik

Kesenian memang seringkali dijadikan sebagai alat politik yang terbukti ampuh dan efektif untuk menjaring dan mengumpulkan massa. 

Sebagai contoh misalnya, ketika masa pemerintahan presiden Soekarno, perkembangan kesenian mengalami masa-masa kejayaan.  Hal tersebut terjadi karena hampir semua kekuatan politik yang dalam hal ini adalah partai-partai politik yang memiliki lembaga khusus yang menangani bidang kesenian. Misalnya adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mendirikan lembaga kebudayaan nasional (LKN), Nahdlatul Ulama (NU) yang mendirikan lembaga seniman budayawan muslimin Indonesia (LESBUMI), serta partai Indonesia (Partindo) yang didukung oleh lembaga seni budaya Indonesia (Lesbi). 

Dengan kondisi seperti itu maka kesenian tradisional mengalami kemajuan yang sangat pesat, kemudian ditunjang dengan adanaya pelarangan terhadap masuknya budaya-budaya asing ke Indonesia oleh pemerintah membuat kesenian kian mengalami perkembangan yang sangat signifikan. 


image via flickr.com

Berikut ini adalah beberapa daerah yang memiliki jenis kesenian tari Tayub, antara lain :

1. Kabupaten Grobogan

Di daerah Kabupaten Grobogan sendiri, kesenian Tayub menggambarkan sebuah ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen yang berlimpah atau perayaan karena terkabulnya doa dan permohonan masyarakat khususnya Kabupaten Grobogan. Masyarakat bersuka cita, bercanda, menari bersama, bergandeng tangan, dan saling berpasangan. Kegiatan anak - anak muda yang terjadi secara spontan ketika itu sangat membekas dan berkesan dalam hati mereka. 

Seiring dengan berjalannya waktu mereka kemudian mengulangi kembali untuk menyenggarakan perayaan panen seperti pada tahun sebelumnya sehingga pada akhirnya tercipta sebuah tari pergaulan yang kemuadian dinamakan Tayub. Selain di Kabupaten Grobogan sendiri, seni Tayub kemudian juga berkembang pesat di beberapa daerah lain di Jawa Tengah, seperti Kabupaten Blora dan Kabupaten Pati. Namun demikian seni Tayub yang berkembang didaerah Pati dan Blora tentu saja berbeda dengan seni Tayub yang ada di kabupaten Grobogan.

2. Kabupaten Blora

Di Kabupaten Blora sendiri tarian Tayub menggambarkan penyambutan para tamu atau pimpinan yang dihormati oleh masyarakat menurut strata kepangkatan mereka. Penyambutan di lakukan oleh penari wanita dengan menyerahkan sebuah selendang yang dipakai oleh penari tersebut atas petunjuk pemimpin. Tamu yang menerima selendang tersebut mendapatkan kehormatan untuk menari bersama-sama dengan penari Tayub tersebut.

3. Kabupaten Pati

Sementara itu di Kabupaten Pati tari Tayub di pentaskan sebagai lambang memberikan spirit kesuburan, yang dimaknai dengan bersatunya “bapa angkasa (bapak langit) dan Ibu Bumi (ibu pertiwi). Persatuan di antara keduanya kemudian menimbulkan hujan yang mendatangan kesuburan. 
Sebagian masyarakat di daerah Pati Selatan juga merumuskan beberapa syarat dan aturan yang harus dipenuhi oleh seseorang penari Tayub antara lain  rupa atau wajah , Suara, Wiraga, dan Trapsila. Seorang penari Tayub harus mempunyai paras yang  cantik, bersuara merdu, pandai menari dan ramah atau murah senyum. Persyaratan tersebut adalah hal yang tidak mudah untuk dipenuhi oleh kebanyakan perempuan dimanapun. Karena itu pandai menari dan bersuara merdu saja tidaklah cukup karena para penari tersebut juga harus cantik dan murah senyum, dan hal ini yang tidak bisa di pelajari karena menyangkut karakter dan bawaan sejak lahir.

Silahkan tonton video Tari Tayub Grobogan berikut ini (credit to widjaya production).



Kesenian Tayub sendiri dapat digolongkan kedalam jenis tarian tradisional, dan sudah selayaknya kita sebagai masyarakat harus melestarikannya.

Itulah artikel tentang asal - usul Sejarah Tayub Grobogan, semoga bermanfaat untuk Anda.

Post a Comment for "Nilai Dan Fungsi Tayub-Mengenal Asal - Usul Sejarah Tari Tayub Grobogan"