Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rahasia Cerita Di Balik Larangan Menikah Antara Orang Sunda Dan Orang Jawa


image : pixabay

Suku Jawa dan suku Sunda merupakan dua suku terbesar yang ada di Indonesia. Sejarah panjang banyak mewarnai hubungan di antara kedua suku bangsa tersebut sejak zaman dahulu kala. Bahkan hingga sekarang ini sebagian besar masyarakat masih percaya bahwa seorang perempuan suku Sunda tidak boleh menikah dengan laki - laki dari suku Jawa. Tentunya larangan tersebut ada hubungannya dengan kisah di masa lalu yang mewarnai hubungan kedua suku tersebut.

Di ceritakan, adalah Pangeran Nislakawatu Kencana, yang tercatat dalam sejarah juga menetapkan larangan perempuan Sunda untuk menikahi laki-laki Jawa. Larangan tersebut bernama "Larangan estri ti luaran" yang mengandung makna beristri dari luar" itulah  kenapa sampai sekarang mitos pernikahan Jawa-Sunda masih di lakukan.

Mengutip sebuah kisah yang di tulis oleh seorang penulis tanah air yang bernama Ayu Utami dalam sebuah novelnya yang berjudul "Bilangan Fu". Kisah yang di tuliskan olehnya dalam buku tersebut telah mengantarkan Ayu meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, dimana pada salah satu bagiannya menjelaskan tentang pangkal sejarah adanya mitos yang melarang pernikahan antara laki - laki suku Jawa dengan perempuan suku Sunda.

Di ceritakan dalam buku tersebut, bahwa Kerajaan Majapahit yang berasal dari Jawa terlibat konflik dengan kerajaan Pajajaran yang berasal dari tanah Sunda. Konflik tersebut bermula dari keinginan raja Majapahit kala itu, yakni Prabu Hayam Wuruk untuk menikahi Putri Dyah Pitaloka dari kerajaan Pajajaran. Menurut sejarah, ketertarikan prabu Hayam Wuruk terhadap putri Dyah Pitaloka berawal dari adanya lukisan wajah sang putri di kerajaan Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh seniman kerajaan bernama Sungging Prabangkara.

Kemudian prabu Hayam Wuruk akhirnya berkeinginan untuk memperiatri putri Dyah Pitaloka tersebut. Selain itu terdapat alasan politik yang melatarbelakagi keinginan tersebut yaitu adanya keinginan dari prabu Hayam Wuruk untuk mengikat persekutuan dengan kerajaan Pajajaran. Seperti di ketahui bahwa kerajaan Majapahit mempunyai visi untuk mempersatukan seluruh kerajaan yang ada di Nusantara di bawah pimpinan Kerajaan Majapahit. Keinginan tersebut telah di utarakan dan di ucapkan oleh Mahapatih kerajaan Majapahit kala itu yakni Gajah Mada melalui sumpahnya yang sangat terkenal yaitu Sumpah Palapa. 

Kerajaan Pajajara sendiri adalah merupakan kerajaan terbesar di Jawa Barat saat itu dan merupakan salah satu kerajaan yang belum di taklukkan oleh kerajaan Majapahit. Singkat cerita, prabu Hayam Wuruk yang tadinya telah mengirim surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana, diterima dengan baik dan kemudian sang raja Pajajaran berangkat dengan rombongan menuju ke kerajaan Majapahit, tepatnya di Pesanggrahan Bubat, untuk melangsungkan pernikahan tersebut.

Namun ternyata pernikahan tersebut tidak terwujud dan bahkan akhirnya terjadi peperangan di antara kedua kerajaan tersebut yang di kenal dengan nama perang Bubat. Dalam realitasnya terjadi misunderstanding bahwa rombongan dari kerajaan Sunda yang datang ke Majapahit di anggap akan menyerahkan upeti kepada Majapahit. Di sisi lain pihak kerajaan Sunda tidak terima dengan anggapan tersebut karena kerajaan Sunda bukanlah kerajaan taklukkan dari kerajaan Majapahit. di saat situasi yang memanas tersebut akhirnya jatuh korban sehingga terjadilah peperangan tersebut.

Dari peristiwa tersebut akhirnya secara turun temurun berkembang larangan yang menganggap tabu bagi perempuan suku Sunda untuk menikah dengan laki - laki dari suku Jawa hingga sekarang. Percaya atau tidak, tentu tergantung masing - masing individu yang menjalaninya karena sekarang juga banyak perempuan suku Sunda yang menikah dengan Laki - laki suku Jawa dan rumah tangga mereka baik - baik saja.

Sulitnya Mencari Restu Hanya Karena Stereotip

Kisah-kisah cinta terlarang karena perbedaan keyakinan mungkin saja bukan antara suku Sunda dan suku Jawa saja, mengingat banyak sekali suku bangsa di Indonesia.

Setiap daerah memiliki tradisi dan budayanya masing-masing yang melekat dengan erat sebagai suatu identitas yang unik dan khas. Identitas-identitas itulah yang kemudian dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, sehingga membentuk sebuah pola dalam dinamika masyarakat. Dari dinamika tersebut, kemudian muncul anggapan bahwa setiap suku mempunyai sifat tertentu yang hampir pasti, dan dapat disepakati oleh kelompok masyarakat lainnya. Pada intinya adalah, masing-masing kelompok suku di Indonesia mempunyai stereotipnya masing-masing di mata masyarakat suku bangsa yang lain.

Sikap Stereotip adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. 

Sikap stereotip inilah yang menyebabkan kadang - kadang sangat sulit untuk mendapatkan restu dari orang tua ketika akan menikah dengan wanita, atau laki - laki dari suku yang berbeda.

Namun seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, sikap stereotip negatif terhadap suku apa pun itu secara perlahan mulai pudar dan hilang. Selain dapat merugikan untuk individu terkait, stereotip ini juga dapat merugikan kita sebagai suatu bangsa, karena dapat memicu timbulnya perpecahan dan permusuhan. Masyarakat semakin sadar bahwa keberagaman tradisi dan budaya adalah sebuah hal yang tidak bisa di hilangkan melainkan harus di jaga dengan sebaik - baiknya.

Kita sebagai sebuah bangsa yaitu bangsa Indonesia mempunyai kewajiban untuk menjaga keragaman dengan saling mengenal, tidak peduli dari suku mana dan darimana dia berasal.

Anggapan bahwa suku A begini da suku B begitu hanyalah akan membuat ikatan persatuan kita menjadi kendur dan bisa menjadi benih permusuhan di antara suku - suku yang ada di Indonesia. Hal tersebut tentu harus kita cegah dengan cara menanamkan bahwa semua suku bangsa di Indonesia adalah baik, yang tidak baik mungkin hanyalah segelintir orang saja dan hal tersebut tidak bisa di generalisir terhadap kesemuanya.

Demikianlah artikel tentang Rahasia Cerita Di Balik Larangan Menikah Antara Orang Sunda Dan Orang Jawa. Semoga bisa menambah wawasan dan pengetahuan Anda.


referensi : today.line.me

Post a Comment for "Rahasia Cerita Di Balik Larangan Menikah Antara Orang Sunda Dan Orang Jawa"