Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Peranan Seni di Zaman Modern dan Teknologi

Peranan Seni di Zaman Modern dan Teknologi

Peranan Seni di Zaman Modern dan Teknologi - Teknologi nuklir telah menimbulkan masalah tersendiri bagi umat manusia, baik secara teknis maupun secara sosial. Tetapi teknologi nuklir juga mempunyai permasalahan yang sangat rumit, karena teknologi tersebut merupakan sebuah produk teknologi canggih abad ini, yang mempunyai peranan besar dalam menunjang modernisasi peradaban manusia.

Kemajuan dan adanya keinginan untuk melipat gandakan hasil suatu usaha, nampaknya akan tampak mustahil tanpa dibantu oleh adanya berbagai peralatan atau sarana yang mempunyai kemampuan menandingi tenaga manusia secara manual. 

Kemajuan teknologi menjanjikan berbagai kemudahan, akan tetapi teknologi mutakhir membutuhkan tenaga penggerak yang besar, sehingga teknologi nuklir merupakan bentuk energi yang mampu untuk memberikan sumbangan yang cukup besar, guna menggantikan bebarapa jenis energi yang saat ini sudah dianggap tidak memadai lagi. 

Khususnya teknologi yang menangani berbagai pekerjaan (proyek) raksasa. Maka usaha ini sebenarnya mempunyai tujuan yang positif bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri, artinya mengusahakan suatu kesejahteraan bagi umat manusia.

Permasalahan nuklir sangat berkaitan erat dengan semua permasalahan kehidupan, maka teknologi nuklir pun sebenarnya marupakan permasalahan kemanusiaan. Di mana tujuan dasarnya adalah untuk menciptakan perdamaian dunia. Menciptakan suatu iklim masyarakat dunia yang tata tentrem karta raharja. 

Kita sering mendengarkan ungkapan itu dalam seni pertunjukan wayang kulit. Perdamaian itu ternyata merupakan permasalahan umum dalam kehidupan ini. Dan menjadi keinginan dari setiap individu atau kelompok sejak zaman dahulu, maka kekacauan ternyata tidak hanya dikarenakan oleh permasalahan teknologi nuklir itu saja, karena tanpa adanya teknologi nuklir pun manusia juga bisa tidak bisa hidup dengan damai.

Kedamaian tentunya memiliki permasalahan tersendiri yang terpisah dari permasalahan lainnya. Ia memiliki ruang lingkup yang berhubungan dengan rasa kepuasan, kesenangan, ketenangan, ketentraman dan sebagainya. 

Dengan demikian, maka sebuah kedamaian merupakan kondisi stabil manusia, baik secara individual maupun sosial. Tetapi perdamaian itu tidak bisa tercipta sendiri, karena itu hasrat manusia itulah yang sanggup menciptakan iklim yang stabil, tenteram.

Teknologi Nuklir membawa manusia kepada permasalahan yang membingungkan karena sama-sama berat. Yakni teknologi nuklir dianggap membahayakan sekaligus berguna bagi kemajuan manusia. Maka kontradiksi ini akan berpulang pada manusia itu sendiri sebagai pencipta dan sekaligus sebagai penggunaanya.

Adanya keadaan tersebut, menimbulkan sikap manusia yang pro dan kontra. Yang pro berkeinginan untuk mempertahankan, karena dari tenaga nuklir mempunyai manfaat yang positif. Di pihak lain beranggapan, bahwa tenaga nuklir memiliki banyak kelemahan dan sangat membahayakan bagi umat manusia. 

Tidak hanya efek dari keteledoran dan ketidak sengajaan manusia, tetapi juga penyalahgunaan teknologi tersebut. Nuklir diproduksi menjadi alat pembunuh secara besar-besaran. 

Selain itu limbah nuklir yang masih mengandung radio aktif juga sempat menjadikan manusia resah, gelisah dan khawatir dengan adanya rembesan radio aktif yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Dan sampah-sampah itu tidak dapat musnah dalam waktu yang singkat (Mangunwijaya edit 1985:50).

Maka teknologi nuklir dan efek yang ditimbulkannya, ini menjadi permasalahan umum dan bukan permasalahan seseorang atau kelompok manusia. Kita tidak bisa saling menyalahkan. Demikian pula kita tidak bisa menyalahkan Albert Einstein dan kecanggihan teori relatifitasnya. 

Pemboman yang terjadi di dua kota di Jepang, yaitu Hirosima dan Nagasaki pada perang dunia II, merupakan salah satu kecerobohan tindakan manusia. Apakah peristiwa semacam itu bakal berulang 100 kali lebih hebat, yang pada akhirnya dapat menghancurkan dunia? 

Kalau itu terjadi orang pun tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, atau kembali lagi kita mengumpat Nrico Fermi yang bersusah payah memeras otaknya untuk mewujudkan suatu reaktor nuklir yang pertama di tahun 1942 Chicago, atau pula pada tahun John Dalton yang menjadi tersohor karena rumsan otaknya, serta “A New System Of Chemical Philosophy" yang terbit tahun 1808 (Hart, 1985:77, 385, 466).

Dari berbagai peristiwa yang melatar belakangi kehidupan menusia abad ini, tetntunya menimbulkan berbagai akibat yang langsung maupun tidak langsung. Rasa ngeri dan kekhawatiran yang mencekam setiap diri manusia, tak jarang mengakibatkan deprensi mental, kehilangan arah, kehilangan kepercayaan pada diri sendiri, terhadap nilai-nilai tradisi dan religi juga kecemasan serta merosotnya nilai kepribadian (To Thi Anh, 1984:57).

Manusia jadi kehilangan eksistensinya. Dirinya seolah menjadi kerdil dan tidak bermakna. Semuanya serba ditata oleh suatu sistem yang bekerja dengan sendirinya. Manusia semakin kehilangan rasa kemanusiaanya. Keras, kejam dan tidak mengenal dirinya.

To Thi Anh dalam bukunya yang berjudul : "Nilai Budaya Timur dan Barat, konflik atau harmoni?", mengutip pendapat Lewis Numford yang pernah ditulis dalam bukunya: "The Myth of The Machine"

Di sana digambarkan adanya suatu kemajuan teknologi, mulai dari jaman primitif hingga jaman mega mesin, serta segala akibat dari adanya modernisasi. Baik langsung maupun tidak, semua bidang kegiatan manusia, seperti :seni, kebudayaan, agama, moral, metafisika dan pendidikan turut juga terusik.

Ternyata zaman ini secara radikal menghendaki adanya suatu percepatan, seperti percepatan komunikasi, percepatan 10 transportasi, pelipatan pendaya gunaan tenaga produksi, percepatan alat pembunuh (senjata) dan percepatan pertambahan penduduk .

Selain memisahkan manusia dengan alam lingkungannya, teknologi dengan berbagai sistemnya juga semakinmemojokkan manusia. Manusia, terpisah dari hubungan kekerabatan serta keluarga yang mesra, hubungan seorang dengan seorang selalu dibatasi pada sebuah keperluan, dan kebutuhan tentang suatu sistem berantai. 

Hubungan atau komunikasi tidak harus bertatap muka. Dampak yang lebih lanjut manusia semakin pada posisi yang tidak menentu, ia lepas dari sentuhan sentuhan manusiawi, kehidupan terasa menjadi gersang, frustasi dan aleniasi banyak menghinggapi banyak manusia pada situasi yang demikian ini (Mangunwijaya, 1985:6).

Masyarakat dalam dunia modern di diabad nuklir ini, hidup semata-mata dikuasai oleh kerja mekanis seperti mesin-mesin. Hasrat untuk hidup layak dan cepat mendapat hasil yang banyak menjadi terperangkap dalam suatu keinginan untuk menguasai. 

Seperti dalam dunia industri, dinegara-negara maju berusaha membuat berbagai barang-barang kebutuhan sehari-hari dengan sangat cepat dan banyak jumlahnya, sedangkan negara-negara berkembang yang menggantungkan simtem tradisional menjadi sangat sulit bersaing tidak dapat merebut pasaran.

Kerja mekanis yang demikian sangat cepat seakan tidak membutuhkan tenaga buruh yang banyak, kerja hanya diatur oleh beberapa pusat pengontrol, otomatis, diprogram dengan komputer, maka dalam fase ini hanya menjadi salah satu bagian yang terkecil dari keseluruhan kerja mesin-mesin itu. 

Sikap sikap yang mekanis tersebut, ternyata dapat mempola kehidupan manusia yang hanya makan dan dan di berihiburan secukupnya. Oleh karena itu manusia menjadi bersikap pasif. Ia tidak hidup dan perasaan kerdil. Pandangan semacam ini pernah dikemukakan oleh Erich Fromm dalam sebuah bukunya yang berjudul "The Relution of Hop" (To Thi Anh, 1984:58).

Dalam kondisi demikian, manusia hanya membutuhkan satu sikap mental yang berorientasi pada nilai-nilai budaya tradisional. Sikap mental yang di maksud, bukan berarti manusia yang telah memasuki abad nuklir ini dipaksa membalik haluan dan kembali pada kebudayaan primitif yang terkungkung oleh tradisi. Sama sekali tidak demikian. 

Peranan Seni di Zaman Modern dan Teknologi

Tetapi manusia wajib menengok pada sistem kebudayaan yang telah membentuk dirinya pada masa lalu khususnya pada masyarakat negara berkembang secara universal nilai-nilai budaya tradisional yang melingkupi manusia di seluruh jagat ini adalah nilai yang terkandung dalam kesenian. 

Karena kesenian itu merupakan suatu bentuk penyampaian bentuk artistik yang banyak menyimpan berbagai nilai sosial dan kultural, seperi etika, adat istiadat, cara kerja dan lain sebagainya. Maka tidak ada satu pun masyarakat didunia ini yang tidak memiliki kesenian. 

Maka tidak ada satupun kesulitan yang dialami manusia untuk melihat kembali berbagai nilai-nilai sosial kultural yang tersimpan didalam kesenian miliknya. Selain itu, kesenian berkaitan dengan agama atau kepercayaan (nilai-nilai regilius). Tetapi untuk melangkah melihat adanya nilai-nilai sosial kultural yang ada dalam kesenian tradisional itu, tentunya butuh pengamatan lebih lanjut:

Kesenian nampaknya merupakan suatu kegiatan manusia yang spesifik, dalam perwujudanya merupakan suatu refleksi seluruh penghayatan emosional manusia yang mendalam dari berbagai pengalaman manusiawinya. 

Pengalaman pengalaman manusia (seniman) yang di munculkan dalam suatu lingkup budaya dan situasi lingkupnya tertentu, yang mempunyai berbagai niilai-nilai kultural, sosial, religius, politik dan lain sebagainya. 

Suatu kolektifitas situasi dalam budaya yang melingkupi seniman tersebut, secara perlahan-lahan disadap dan diresap kandalam sanubarinya. Dari pengalaman pengalaman yang di serapnya itu, dalam proses imajinasi serta intelektualnya seniman dapat menentukan esensi dari pengalaman pengalaman. 

Dan pengalaman itu akan diterima oleh masyarakat (penonton) sebagai ungkapan artistik. Pengalaman yang diterima oleh seniman itu merupakan pengalaman kristalisasi kehidupan yang memuat berbagai nilai, khususnya nilai kemanusiaan.

Maka disini akan dapat digali arti sebenarnya yang terkandung dalam kesenian itu dalam kaitannya sebagai suatu produk budaya. Di dalam kesenian tentunya berkaitan langsung dengan karya seni, entah itu seni rupa, tari, musik ataupun cabang seni yang lain, adalah memuat suatu realita dari sederetan pengalaman hidup manusia baik secara individual maupun kelompok. 

Pengalaman yang disampaikan itu memuat suatu pernyataan secara imajenatif, dari suatu dinamika kehidupan yang memuatu berbagai peristiwa. Dengan demikian dalam karya seni yang dibicarakan adalah realita kehidupan baik kehidupan di masa lalu atau kehidupan masa kini (yang sedang berlangsung). 

Dengan adanya karya seni yang ditampilkan itu kita dapat mawas diri intropeksi terhadap semua tingkah laku kita. Dengan demikian sikap dan perubahannya dapat lebih mudah untuk diamati sendiri. 

Karena dalam menikmati karya seni, tak ubahnya sedang dihadapkan sebuah kaca, di sana dapat dilihat seluruh anggota tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Suatu contoh yang menarik dari ungkapan artistik seorang pelukis yang dikagumi karena imajinasinya, vitalitsnya dan kepekaannya dalam menghayati dunia diluar dirinya. 

Pelukis tersebut adalah Picasso, seorang tokoh peletak aliran kubisme. Dalam pengalaman artistiknya Picasso amat tertarik oleh masalah-masalah politik, hal ini terbukti dalam sebuah karyanya berjudul Guernica yang dilukis tahun 1937.

Lukisan ini diilhami oleh kejadian-kejadian perang saudara yang terjadi di Spanyol (Hart, 1985:478). Selepas Perang Dunia II, masyarakat Jepang sungguh sangat tertekan. Pengalaman pahitnya atas pengeboman kota Naga Saki dan Hirosima ditahun 1945, benar benar memukul secara fisik dan fsikis. 

Ditambah pada perkembangan berikutnya, masyarakat menjadi gila akan teknologi dan budaya barat (Amerikanisme). Dari dipresi kulltral tersebut, kemudian muncul seni pertunjukan yang disebut Botoh. Seni pertunjukan tersebut mengespresikan dipresi yang sosial kutural masyarakat Jepang. 

Maka penampakan dari seni peprtujukan itu sangat suryalis, didominasi suasana-suasana yang yang mencekam, penuh espresi ketakutan, dan jiwa yang gelisah, pencarian dikegelapan dan atraksi yang spektakuler dari keputus asaan manusia.

Beberapa karya yang diciptakan oleh Rendra, seorang penyair dan dramawan Indonesia. Penyair ini ditahun 70-an banyak melahirkan puisi-puisi yang bernada protes sosial. Lataran kata-kata yang pedas menusuk-nusuk telinga, karya ini masih tetap mempunyai bobot nilai artistik yang mantap. 

Seperti puisi-puisinya yang berbau protes sosial yang sangat realistis menohok setiap kepincangan yang dilakukan para elit politik di Indonesia. Rintihan Ratna Sarumpait dalam beberapa nomor dramanya, seperti Marsinah Menggugat, dan yang terakhir dramanya yang menoreh hati penontonnya dengan ALIA:Luka Serambi Mekah

Berbagai rumitnya jaringan kerja, transportasi dan komunikasi dalam sebuah kota, dimana nilai-nilai religius mulai diletakkan perlahan-lahan. Pada abad pertengahan masyarakat Eropa diwarnai oleh religius yang tinggi, karya arsitektur mereka abad itu tercermin pada peninggalan-peninggalan bengunan gereja, yang memiliki atap licin dan menjulang tinggi sebagai ungkapan spiritual. 

Tetapi semua nilai-nilai spiritual itu mulai direndahkan. Dengan adanya berbagai apartemen yang besar dan pencakar langit, gedung-gedung beton bertulang itu berderet-deret dan berusaha merintangi matahari yang menimpa bumi.

Kegitan sehari-hari seperti mesin yangsedang berputar tak ada hentinya. Manusia jadi kehilangan rasa kemanusiaanya, seperti gurun pasir yang kering, jiwa manusia jadi haus dahaga dan kelelahan.

Pada kondisi masyarakat yang demikianlah seni sebagai santapan estetis, dapat maju dan memberi kesegaran pada jiwa manusia yang dahaga. Dalam karya seni ini ditampilkan kembali ketika masa terbit manusia di bumi, pemandangan alam yang ramah dan kesejukan pemandangan pemandangan dikala matahari terbenam. 

Burung-burung yang mempunyai sejuta nyanyian, diperdengar kan lagi secara imitatif, maka keutuhan jiwa manusia yang mulai membantu itu perlahan dileburkan oleh seutuh-utuhnya artistik. Seperti sebuah tarian yang berjudul "The Dying Swan", tarian asli nya ditarikan oleh Anna pavlova. 

Tarian ini melukiskan seekor angsa yang menjelang akhir ajalnya, betapa kasihanya seekor angsa yang bagus berbulu putih, matanya menyala dan bersih. Tarian ini telah mampu menyentuh hati penontonnya sehingga tak disadari air mata meleleh. Tarian ini menjadi amat terkenal dan menjadi contoh sebagai tarian tragedi dan romantis (Humphrey, 1983: 25).

Contoh karya seni semacam ini, dapat ditampilkan sebagai suatu yang mem punyai kekuatan atau sugestifitas yang tinggi dalam menggugah kesadaran, betapa pentingnya kelangsungan hidup dari satwa. 

Kematiannya mungkin di sebabkan oleh adanya pencemaran yang berasal dari limbah pabrik-pabrik, polusi udara dan kebisingan. Dengan kenyataan seperti ini kesenian berusaha untuk menjawab kegelisahan manusia.

Seperti yang telah disebutkan diatas, karya seni merupakan ungkapan simbolis, atau sebuah pernyataan artistik yang mampu merekontruksi kembali nilai-nilai yang pernah berlaku dalam kehidupan manusia, seperti sosial, religius, historis, dan semacamnya. 

Maka yang terdapat dalam kesenian adalah unsur tehnis dan dan unsur estetis, berkaitan dengan masalah ini, estetis dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran eksistensial humanitis (Sumantri, 1986:202).

Maka unsur estetis inilah yang mempunyai peranan penting sekali dalam turut serta menimpa mental spiritual, untuk menghadapi berbagai kekejaman, ketidakadilan, kemiskinan ataupun bencana-bencana yang menimpa manusia.

Seni sebagai suatu perwujudan konkrit dari unsur estetis mempunyai makna kemanusiaan yang mendasar, hakekat dari suatu perwujudan sikap personal (subyektif), tetapi menampilkan dimensi yang lain yang lebih merusak, realitas-realitas yang diungkapkan seni bukan karena eksistensi menusia itu sendiri, tetapi keluhuran pribadi dan segenap jiwa yang utuh dari manusia itu. 

Oleh sebab itu seni juga mempunyai makna ritual, agama memberika kesejukan, tetapi dengan seni akan membentuk suatu kedamaian dan pengaruhnya terhadap pribadi serta membentuk satu sikap dewasa dan tangguh menghadapi realitas. 

Maka seni mempunyai peranan serta andil yang besar dalam membentuk sikap mental dan meningkatkan mental etis manusia. Dengan demikian hasrat manusia untuk menciptakan iklim perdamaina akan dapat diwujudkan. 

Sungguhpun demikian semuanya akan tergantung pada seluruh manusia itu sendiri, kesadaran dan saling pengertian. Seni merupakan suatu media dan tak dapat berbicara banyak kalau manusia itu sendiri tetap apatis, acuh tak acuh dan membiarkan semuanya terbengkelai, pada giliran selanjutnya dunia sebuah penjara yang mengurung manusia dalam ruang gerak yang sempit.

Seni tak lagi mampu merebut waktu senggang manusia, tetapi seluruh waktu menusi memang benar-benar menjadi milik spirit diluar diri manusia, seperti spirit ekonomi, teknologi, dan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. 

Berbagai kegiatan yang diyakini dapat memberikan kesejahtraan manusia, tetapi kenyataannya berbalik mengucilkan manusia didalam belenggu kesendirinannya. Semakin lama manusia dijebak dalam pergaulan a-sosial, semua aktivitasnya adalah bersifat fungsional. 

Sehingga manusia tidak lagi hidup sebagai manusia dalam pengertian yang sesungguhnya, tetapi menjadi komponen teknologi besar dari upaya penghancran manusia dalam alam.

Seni yang pada mulanya hadir sebagai suatu pernyataan relijius, yaitu jeritan virtualitas yang paling dalam dalam jiwa manusia. Tetapi kenyataannya menjadi suatu produk ekonomi yang senantiasa diukur dengan nilai finansial. 

Komoditas intertainment ini benar-benar mendudukan sensistivitas manusia sebagai suatu mesin untuk menghasilkan virtualitas. Penghargaan seni cendrung lebih ditentukan oleh mampu tidaknya kesenian itu sebagai alat untuk melakukan negosiasi, promosi, dan menunjukan gengsi manusia agar tidak dikatakan sebagai makluk tidak beradab. 

Maka sudah sepantasnya, kehadiran seni membutuhkan perenungan lebih dalam pada saat kondisi dunia sidah tak memiliki batas –batas yang jelas ini. Tentunya , paling tidak hal ini sebuah langkah alat dalam mempertanyakan pada diri sendiri, tentang makna dari kehadiran kesenian itu sendiri.

Post a Comment for "Peranan Seni di Zaman Modern dan Teknologi"