Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Seniman dan Karya Seninya

 

Seniman dan Karya Seninya

Seniman dan Karya Seninya - Jika ditanyakan kaitan antara seniman dan karya seninya, jawaban yang sangat sederhana adalah bahwa seniman sebagai pencipta dan karya sebagai hasil ciptaannya. Akan tetapi sebagai hasil ciptaan, tentulah tidak sekadar membuat suatu bentuk. 

Dan kiranya juga tidak tepat untuk disejajarkan dengan seorang tukang yang membuat kursi atau benda-benda yang lain. Seniman dalam mencipta karyanya pada dasarnya sedang mengekspresikan pengalaman-pengalamannya. 

Dengan bantuan keahlian yang ia kuasai, penglaman-pengalamannya tersebut ia rubah menjadi sesuatu yang real, sehingga dapat ditangkap oleh pancaindra. Aktivitas semacam ini oleh Colling Wood disebut sebagai “berbahasa”.

Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal adalah filsuf Italia Benedetto Croce dengan karyanya yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris “Aesteheties as Science of Expression and General Linguistec”, antara lain dinyatakan bahwa “ Art is expression of impressions” ( seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan). 

Exprression adalah sama dengan intuis dan intuisi adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayalan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images). Dengan demikian, pengungkapan itu berwujud pelbagai gambaran angan-angan seperti image warna, dan garis. 

Pengalaman estetis seseorang tidak lain adalah ekspresi dalam gambaran angan-angan. Dan bahwasannya penciptaan karya seni itu merupakan transformasi dari kenyataan ke dalam bahan. Angan-angan yang terwujud berdasarkan kenyataan menjelma sebagai suatu idea, yang kemudian menyatu dengan teknik untuk mewujudkan suatu karya seni.

Hubungan dengan “berbahasa”, dimaksud sebagai penyampaian gagasan seseorang yang didasari oleh pengalamannya kepada orang lain. Dalam hal ini, seorang seniman dengan kesadarannya berusaha mengungkapkan apa yang ia rasakan, apa yang ia alami yang bersifat imajiner ke dalam suatu bentuk. 

Sewaktu mencipta, bisa saja seorang seniman tidak bermaksud menyampaikan apa yang ia rasakan tersebut kepada seseorang. Akan tetapi, ketika karyanya ditanggapi penghayat, maka terjadilah suatu dialog, sebuah pembicaraan, atau kombinasi, di mana karya berperan sebagai bahasanya.

Tokoh dari teori seperti ini yang sangat terkenal ialah Leo Tolstoy, Ia menyatakan bahwa seni ialah suatu kegiatan manusia yang terdiri dari bahwa seseorang secara sadar dengan perantaraan tanda-tanda lahiriah tertentu menyampaikan perasaan-perasaan yang telah dihayatinya kepada orang lain sehingga mereka kejangkitan perasaan-perasaan ini dan juga mengalaminya. 

Berdasarkan apa yang dia katakan ini, banyak diartikan bahwa seni menurut Leo Tolstoy adalah komunikasi.

A.J. Soehardjo guru besar di Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra Univesitas Negeri Malang menandaskan adanya profesi yang berkaitan dengan adanya pengelompokan tiga pengalaman dari kegiatan karya seni, uraiannya sebagai berikut:

Di dalam masyarakat seni rupa dikenal adanya tiga jenis profesi dengan fungsinya masing-masing, yaitu

1. Pencipta seni (seniman) yang menghasilkan karya seni (rupa)

2. Pengkritik seni yang membahas karya seni rupa

3. Pendidik seni yang mengajarkan seni rupa

Kecuali itu, di dalam masyarakat dikenal pula pengamat seni yang fungsinya mengamati dan sekaligus menikmati karya seni rupa yang dihasilkan oleh para pencipta seni rupa. Siapa saja dapat menjadi pengamat seni karena persyaratan untuk menjadi seorang pengamat seni tidak ada. 

Misalnya, seorang yang sedang berjalan-jalan dan secara kebetulan melewati tempat pameran, kemudian singgah dan melihat-lihat karya seni yang dipajang 

Maka orang tersebut dapat dikatakan sebagai pengamat seni. Di antara para pengamat tersebut terdapat orang yang memiliki kemampuan untuk menikmati kerya-karya yang dipajang.

Karya seni disajikan dengan sengaja oleh seniman untuk dinikmati oleh para pengamatnya. Hal ini merupakan tujuan pertama dan utama. Di balik itu, ada tujuan kedua, yaitu menawarkan karya seni agar dibeli dan dimiliki oleh pengamatnya. 

Akan tetapi, kadang-kadang para seniman besar tidak melaksanakan tujuan tersebut. Seniman tidak mau menawarkan atau menjual keryanya kepada orang lain dengan cara apapun.

Seorang pengmat seni mempunyai sikap yang serupa dengan seniman. Mereka adalah para pengamat yang mendambakan kenikmatan perasaan. Di antara mereka terdapat pengamat yang memiliki pamrih agar karya seni yang sanggup membangkitkan kenikmatan itu menjadi miliknya, sekalipun harus membeli dengan harga yang tinggi. 

Di samping itu, ada pengamat yang bermaksud menjadikan karya seni sebagai barang komoditi (dagangan). Hal ini merupakan kenyataan bahwa di dalam masyarakat seni dikenal adanya orang yang pekerjaannya mengumpulkan karya-karya seni rupa. 

Mereka adalah kolektor seni. Di antara mereka ada yang menjadi kolektor murni, yang tidak memiliki pamrih lain kecuali untuk memiliki sendiri, dendangkan yang lain adalah kolektor dengan tujuan bisnis, yang mengumpulkan karya seni untuk dijadikan barang dagangan.

KARYA SENI

Seniman dan Karya Seninya

Sebuah perwujudan karya seni mempunyai ciri-ciri tertentu, The Liang Gie (1999. 41- 46) dalam bukunya yang berjudul Filsafat Seni menguraikan ciri-ciri tersebut, yaitu setidaknya ada lima ciri yang bersifat mendasar, uraiannya sebagai berikut:

1. Kreatif

Ciri pokok yang pertama ialah sifat kreatif dari seni. Seni yang sesungguhnya senantiasa kreatif, selalu menghasilkan sesuatu yang baru. 

Seni sebagai suatu rangkaian kegiatan manusia selalu menciptakan suatu realitas yang baru, sesuatu apapun (likisan, pahatan, lagu, tarian, sajak, bangunan arsitekur, drama, atau film) yang tadinya belum ada atau belum pernah muncul dalam gagasan seseorang. 

Kalau seorang seniman pelukis membuat lukisan batik dengan motif, pola, dan kombinasi yang belum pernah dilukis oleh seseorang pelukis lain, maka karyanya adalah seni.

2. Individualitas

Ciri pokok yang kedua ialah individualitas. Seni senantiasa dilakukan oleh seseorang individu tertentu dan hasilnya juga merupakan suatu individualitas tertentu yang khas. Sebuah seni kolektif atau seni massa tidak ada. 

Dengan demikian, setiap karya seni harus senantiasa merupakan hasil karya pelukis Affandi, lagu ciptaan komponis Beethoven, atau sajak gubahan penyair chairil yang masing-masing menunjukan sesuatu gaya yang khas.

3. Perasaan Manusia

Ciri ketiga dari seni ialah meyangkut perasaan manusia. Apa yang diungkapkan oleh seniman dalam atau melalui kerya seninya adalah emosi tertentu yang muncul atau diperoleh dari penglaaman hidupnya. 

Demikian pula, apa yang digetarkan oleh karya seni pada diri seseorang pemirsa adalah emosi tertentu pula. Sifat karya seni yang menyangkut perasaan manusia itu disebut dengan istilah “ekspresi’. Setiap seni harus ekspresif dalam penciptaannya maupun penikmatannya. Seni adalah bahasa perasaan yang melakukan komunikasi di antara seniman dengan pemirsa melalui karya seni dengan perasan pula. Karya seni juga harus ekpresif dengan emosi estetis baik sebagai suatu kebulatan atapun masing-masing unsurnya.

4. Keabadian

Ciri pokok dari seni ialah keabadian. Sekali suatu karya seni telah selesai diciptakan sebagai suatu realitas baru, karya itu akan tetapi langgeng sepanjang zaman walaupun seniman penciptanya sudah tidak ada lagi. 

Sebuah bangunan arsitektur dapat dimusnahkan atau karya sastra dibakar, tetapi penciptaan karya itu tidak dapat dibatalkan seperti halnya sesuatu keputusan pengadilan yang dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi kedudukannya. 

Inilah ciri abadi dari karya seni. Bangsa Romawi Kuno dahulu mengenal pepatah Ars longa, vita brevis yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi "Art is Long, life is short" (terjemahan lurus bahasa Indonesia; seni itu abadi, hidup itu sementara). 

Seorang ahli estetik bahkan sampai mengatakan bahwa seniman adalah satu-satunya pemenang dalam perjuangan manusia melawan waktu.

5. Universal

Ciri pokok yang kelima dan yang terakhir adalah sifat semester. Seni muncul di mana-mana dan tumbuh sepanjang masa, karena manusia memiliki perasaan dan seni adalah bahasanya yang melakukan komunikasi antara manusia dengan perasaan di sampingnya dengan bahasa pergaulan sehari-hari. 

Sesuatu suku bangsa paling primitif di pelosok dunia mana pun mungkin tidak mengenal huruf, tidak bisa berhitung, dan tidak memiliki agama, tetapi tentu mempunyai dan mengembangkan suatu seni, misalnya seni tari, seni nyanyian bersama, seni hias pada tubuh atau alat tombatnya, atapun hanya seni memukul genderang bertalu-talu. 

Jadi, karya seni diciptakan dan dikembangkan secara universal dan terus menerus di seluruh dunia. Hal ini terjadi karena tentunya seni mempunyai nilai dan manfaat bagi kehidupan manusia.

Post a Comment for " Seniman dan Karya Seninya"