Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perkembangan Wayang Malang

 

Wayang Wong

Perkembangan Wayang Malang

Wayang wong di Malang memiliki pasang surut dan dinamika tersendiri, bahakan keberadan wayang wong di Malang memiliki peran yang cukup dalam kancah perkembangan wayang wong di Indonesia.

Wayang wong di Malang terasa denyut perkembangannya kurang lebih pada awal tahun 1950-an, dan semakin menguat sekitar awal tahun 1960-an, bahkan penggeraknya lebih besar ditopeng oleh masyarakat peranakan cina. 

Masyarakat cina yang tergabung dalam kesenian Jawa tersebut dikarenakan emosi dalam penghayatan aspek budaya ke-Jawa-an. Sehingga kemampuan mereka menari atau melakukan antawacana sangat fasih dan lebih halus dari orang Jawa pada umumnya. 

Mengingat bahasa wayang adalah bahasa karma, sebuah tataran bahasa Jawa yang halus dan terhormat. Bahasa karma adalah bahasa yang digunakan oleh para bangsawan atau priyayi. Tentunya para pengguna bahasa karma itu memiliki tingkat drajat sosial yang setidaknya kurang lebih sama dengan “priyayi”.

Puncak kejayaan perkembangan wayang wong di Malang mencapai reputasi sebagai wayang pupuler sekitar awal tahun 1960-an, bahkan sering di undang pentas di Istana Republik Indonesia di Jakarta. 

Primadona pada pertunjukan wayang wong yang bernaung pada Ranting Gamelan Ang Hien Hoo (sekarang perkumpulan kematian Panca Budi) bernama Juan Ing, waktu itu oleh Presiden RI yang pertama, Ir. Soekarno diganti namanya menjadi Ratna Juita. Tak lama kemudian menikah dengan seorang pengusaha dan hijrah ke Los Angles – Amerika.

Pupularitas kelompok wayang wong Ang Hien Hoo dicatat harian Suara Merdeka Semerang; yaitu pada keikutsertaan syembara wayang wong se Indonesia tahun 1962 di Solo. Waktu itu wayang wong Ang Hien Hoo dipimpin oleh Liem Ting Tjwan menampilkan lakon Mintorogo.

Selain wayang wong yang dimotori oleh orang-orang cina di Malang, tahun 1960-an, perkembangan wayang wong di Malang bagaikan jamur di musim hujan, setidaknya 1 kali dalam setahun tampil di berbagai acara, khususnya pada perayaan 17-an (HUT RI).

Penyebaran wayang wong di Malang meliputi daerah-daerah seperti di Tanjung, Lowokwaru, Sukun, Jl. Welirang, Jl. Batok, Klojen, Blimbing, Kebonagung, dan Krebet. Bahkan pabrik-pabrik gula di Malang pernah ikut serta menyemarakkan pertumbuhan wayang wong di Malang.

Kebangkitan Wayang Wong

Masa kebangkitan wayang wong di Malang terasa kembali pada tahun 1970-an, sungguhpun tidak sebanyak perkumpulan wayang wong pada tahun 1960-an. Bahkan pada tahun 1993 dan 1995 juga mengikuti Festival Wayang Wong Amatir (WOPA) Festifal yang merebutkan piala bergilir Ibu Negara R I, Tien Soeharto. 

WOPA adalah lomba wayang wong seperti yang pernah diselenggarakan pada tahun 1962, tetapi kondisinya sangat berbeda. Wayang wong dari Malang yang tergagung dalam perkumpulan Balapratama yang disponsori oleh Walikota Malang, Soesamto. 

Ternyata banyak didukung oleh pemain bayaran, artinya bukan wayang wong yang tergagung dalam keanggotaan resmi. Hal tersebut juga terjadi pada perkumpulan lain, seperti Wayang Wong PMS (Perkumpulan Masyarakat Surakarta) yang selalu memboyong piala bergilir Ibu Negara RI, Tien Soeharto.

Balapratama merupakan sebuah usaha untuk menumbuhkan kembali kepupuleran wayang wong di Malang yang mendapatkan kuat dari walikota Malang, Soesamto. Waktu itu ada beberapa penari utama yang berasal dari keturunan cina, sungguhpun peminat wayang wong di kalangan masyarakat cina tidak seperti tahun 1960-an. 

Memasuki pertengahan tahun 60-an, semua kesenian vakum, termasuk wayang wong. Tetapi memasuki awal tahun 1970-an mulai muncul wayang wong binaan dari ABRI yang dikenal dengan Wayang Wong Wijayakusuma. 

Wayang wong Wijayakusuma menempati gedung pementasan di Flora. Pemain lama banyak bergabung pada wayang wong tersebut seperti Iksan; Kakak kandung Iksun Hs., Prapto Salyo Pati. Tetapi anak wayang yang tergabung pada Wayang Wong Wijayakusuma sudah tidak terdapat pemain keturunan cina.

Pada tahun 1990-an muncul Wayang Wong Balapratama, semangat pembinaan wayang wong ini sangat baik, bahkan reputasi cukup baik, khususnya di mata para pemain wayang wong sinior, seperti Prapto Salyo Pati, Iksun Hs, Mul, dan lain-lainnya. 

Mereka seolah-oleh menemukan jiwa baru, suasana yang segar, hingga mampu mengikuti Festival WOPA dua kali, dan berhasil mendapatkan nominasi 5 besar.

Sementara itu Yudo Asmoro salah satu penggerak dan aktifis budaya Jawa mulai memunculkan kelompok wayang wong yang bernama Slogo Budoyo, di samping itu juga muncul juga kelopok wayang wong yang dimotori oleh para lansia yang diberi nama Wulandadari. 

Kelompok ini juga mempunyai reputasi yang cukup baik, yaitu mengisi anjungan Jawa Timur di TMII Jakarta.

Post a Comment for " Perkembangan Wayang Malang"