Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Falsafah Hidup Suku Jawa

Falsafah Hidup Suku Jawa

Suku Jawa selama ini dikenal sebagai salah satu suku yang memiliki peradaban yang sangat maju sejak ratusan tahun yang lalu.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Jawa Tengah masih menganut apa yang menjadi unen-unen atau falsafah Jawa.

Dalam menata kehihidupannya, masyarakat Jawa tengah tidak lepas dari unen-unen yang selalu diberikan pada waktu kecil atau masa kanak-kanak. Sehingga unen-unen tersebut sudah merasuk kerelung hati masyarakat suku jawa.

Dalam era globalisasi dan modern seperti saat ini, banyak orang yang mengatakan bahwa falsafah hidup suku jawa itu sudah tertinggal oleh kemajuan zaman, sudah tidak bisa dan tidak layak untuk diterapkan dalam kehidupan modern saat ini.

Ini adalah sebuah pendapat yang salah dan keliru. Karena menurut hemat saya, justru falsafah suku Jawa tersebut dapat menyelamatkan hidup kita dalam dunia yang semakin tidak beradab ini.

Kita semua tentu bisa melihat dan mendengar, bagaimana tingkah polah manusia yang mengatakan diri mereka modern. Mereka tidak menyadari sama sekali bahwa jiwa dan rasa sosialnya telah hilang , mereka tidak lagi punya rasa malu, yang ada hanya kesombongan diri saja.

Gaya hidup hedonis dan borjuis telah menjadi gaya hidup mereka sehari - hari. Semua hal selalu di ukur dengan harta dan uang. Tidak ada lagi akal budi yang merupakan warisan dari nenek moyang kita.

Di Jawa banyak sekali unen-unen yang telah menjadi falsafah  suku Jawa. Dan berikut ini adalah 9 Falsafah hidup orang Jawa yang kita kenal, yaitu:

1. Urip iku Urup (Hidup itu nyala)

Makna filosofi ini sangat luar biasa, bahwa kita semua dilahirkan di dunia ini bukan untuk berdiri sendiri, berkuasa dan semua hanya untuk diri kita sendiri, akan tetapi kita lahir untuk saling memberi, saling menolong dan saling membantu sesama tanpa ada rasa pamrih. 

Manusia sebagai makhluk sosial harus saling interaksi dan menolong kepada sesama, bahwa kita hidup didunia ini hanyalah sebuah ujian untuk mendapatkan kehidupan yang kekal dan lebih baik di kehidupan berikutnya nanti.

2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrhasta dur Hangkara

Artinya, manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

3. Sura dira Jaya Jayaningrat, Lebur dening Pangastuti

Artinya, segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

4. Aja Adigang, Adigung, Adiguna

Ini adalah sebuah ungkapan yang sering kita dengar akan tetapi banyak diantara kita tidak mengetahui makna di balik ungkapan tersebut. Ungkapan tersebut mengajarkan kita agar tidak sombong dan tidak merehkan orang lain saat kita berkuasa, karena apa yang dimiliki dapat hilang sewaktu-waktu.

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan

Maksudnya adalah jangan marah bila musibah menimpa diri dan jangan sedih bila kehilangan sesuatu.

6. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka

Artinya , jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan berbuat curang atau khianat agar kelak selamat dan tidak celaka di kemudian hari.

7. Yen Wani aja Wedi-Wedi, Yen Wedi aja Wani-Wani

Artinya kalau berani jangan takut-takut, kalau takut jangan sok berani. Dengan kata lain, jadi orang harus tegas dan jangan ragu - ragu.

8. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman

Maksudnya adalah Jangan terlalu terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi.

9. Urip Tansah Narima ing Pandum

Maksudnya adalah hidup dengan penuh  rasa berserah diri dan bersyukur menerima pemberian Tuhan dengan hati yang ikhlas dan tidak mengeluh.

Demikianlah ulasan singkat mengenai falsafah hidup suku Jawa yang mungkin dapat berguna dan dapat menambah pengetahuan kita.

Dan pada kenyataannya hal tersebut dapat membawa kita hidup di dunia yang sudah tua ini menjadi lebih aman, ayem, tentrem, dan tentunya sukses.

Post a Comment for "Falsafah Hidup Suku Jawa"