Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Lima Tokoh Budayawan Sunda Populer

Angklung

Lima Tokoh Budayawan Sunda Populer - Budayawan Sunda adalah orang yang peduli terhadap nilai-nilai kebudayaan Sunda atau ahli budaya dari tatar Sunda. Baik dia seorang seniman ataupun pemerhati kebudayaan bisa disebut sebagai budayawan dari tataran tanah Sunda.

Pengertian budayawan sendirilah yang menyatakan bahwa siapa pun yang berkecimpung dalam kebudayaan, pantaslah dia disebut sebagai budayawan. Tentu orang-orang tersebut tidak hanya berkecimpung melainkan juga paham dan mampu menjaga kebudayaan yang telah diwariskan.

Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa seorang seniman bisa merupakan seorang budayawan namun seorang ahli budaya belum tentu jadi seniman. Bisa saja ahli budaya ini pakar akademis atau tokoh  yang menaruh perhatian besar dalam kebudayaan.

Lalu siapa sajakah budayawan Sunda yang ada di Indonesia?  Bila disebutkan, tentu jumlah yang masuk kategori ini tidaklah sedikit. 

Namun jika menyebut budayawan yang mempunyai pengaruh paling besar, tentu hanya beberapa yang bisa disebutkan. Siapa sajakah mereka? 

Berikut ini adalah daftarnya, yaitu:

1. Ajip Rosidi

Ajip Rosidi

Salah satu budayawan Sunda yang ternama adalah Ajip Rosidi. Beliau dikenal sebagai seorang penulis, sastrawan, budayawan, dosen, dan juga aktif sebagai redaktur di banyak penerbit. 

Beliau dikenal sebagi sastrawan yang menulis dalam dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Karya-karya beliau pun sangat bagus dan banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Salah satu langkah beliau yang cukup dikenal adalah pendirian Yayasan Kebudayaan Rancage. Yayasan ini merupakan organisasi nirlaba yang menaruh apresiasi terhadap karya sastra Sunda, Jawa, Bali dan Lampung. 

Yayasan ini memberikan apresiasi kepada para penulis sastra daerah dengan Hadiah Sastra Rancage yang digelar hampir tiap tahunnya. Kini, selain aktif di Yayasan Kebudayaan Rancage, pria yang lahir di  Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938 ini aktif di Pusat Studi Sunda. 

Karena kiprahnya yang sangat besar, Universitas Padjadjaran memberikannya gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Ilmu Budaya pada tahun 2011.

2. Hidayat Suryalaga

Hidayat Suryalaga atau lebih dikenal sebagai Abah Surya merupakan seorang budayawan yang pernah mengajar di Universitas Padjadajaran dan Universitas Pasundan. 

Budayawan Sunda yang lahir di, Ciamis, 16 Januari 1941 ini banyak dikenal sebagai tokoh  yang banyak menaruh perhatian pada karya Sastra Sunda.

Perhatiannya pada budaya sunda memang sudah digeluti sejak lama. Beliau banyak menulis karya, terutama naskah drama bahasa Sunda. Terhitung, naskah dramanya berjumlah hingga 36 judul. 

Semua naskah drama tersebut banyak dipentaskan oleh kelompok teater di Bandung dan daerah Jawa Barat lainnya.

Tidak hanya aktif menulis naskah drama , tokoh pendiri grup Teater Sunda Kiwari ini juga banyak menulis buku untuk sekolah. Ia juga menulis buku lainnya yang sangat baik, yaitu Gending Karesmen & Dramaturgi (1995), Kiat Menjadi MC Upacara Adat Sunda (1996), dan Rinéka Budaya Sunda I (1997). 

Suami dari Hj. Ritha Margaretha ini juga banyak aktif di organisasi kesundaan. Takpelak beliau pun dianggap sebagai salah satu putra terbaik Tatar Sunda.  Beliau meninggal di Rumah Sakit Santo Yusuf pada tanggal 25 Desember 2010.

3. Ayatrohaedi

Ayatrohaedi

Ayatrohaedi merupakan tokoh yang cukup ternama. Beliau dikenal sebagai seorang satrawan dan seorang dosen. 

Universitas Padjadjaran dan Universtias Indonesia adalah dua kampus yang pernah ia sambangi sebagai dosen. Pria kelahiran Majalengka, 5 Desember 1939 ini dikenal dengan perhatian khususnya terhadap bahasa Sunda. 

Disertasinya sendiri cukup bagus yakni Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa, yang ia susun tahun 1978 sebagai syarat mendapatkan Doktor di Universitas Indonesia. 

Disertasi tersebut menerima banyak pujian. Apalagi disertasi tersebut merupakan penelitian dialektologi pertama di Asia Tenggara.

Sastrawan yang meninggal di Sukabumi, 18 Februari 2006 ini dikenal dengan karyanya, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Sunda. Karyanya yang terkenal dan diterbitkan adalah Hujan Munggaran (1960), Kabogoh Téré (1967), dan  Pamapag (1972). 

Sementara itu, karyanya dalam bahasa Indonesia yang terkenal adalah Panji Segala Raja (1974), dan Pabila dan di mana (1976). Selain menulis, beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan budaya dan segala hal yang berkaitan dengan sejarah dan purbakala.

4. Tati Saleh

Tati Saleh

Tati Saleh dikenal sebagai tokoh jaipongan ternama di Indonesia. Seniman yang yang memiliki nama lengkap Raden Siti Hatijah mulai menyukai tari semenjak kecil. Kecintaannya pada dunia seni ini didukung oleh orangtua sepenuhnya. 

Tak heran, seniman yang lahir di Jakarta, 24 Juli 1944 ini pun memiliki bakat yang luar biasa. Tidak hanya menari, Tati Saleh juga dikenal sebagai seorang penyanyi. Namanya melambung setelah ia dikenal sebagai penari istana. Namanya semakin berkibar ketika ia dikenal lewat suara khasnya.

Selain aktivitas menari dan menyanyi, Tati Saleh juga dikenal sebagai seorang pengajar seni tari dan tembang. Ia banyak melakukan gubahan terhadap Tari Jaipongan sehingga tari ini semakin populer. 

Karirnya sebagai seniman ini membuat namanya dikenal tidak hanya di Indonesia tetapi di dunia internasional. Karena jasanya yang turut memopulerkan Jaipongan dan tembang Sunda, ia pun didapuk sebagai seniman yang mempunyai pengaruh besar. 

Tidak aneh rasanya jika perempuan yang meninggal tanggal 9 Februari 2006 di Bandung ini pun bisa disebut sebagai ahli budaya karena peranan dia terhadap peranan budaya Sunda.

5. Raden Machjar Angga Koesoemadinata

Diantara semua tokoh budayawan Sunda, nama Raden Machjar Angga Koesoemadinata merupakan nama tokoh yang pantas untuk selalu disebutkan. Tokoh yang biasa dipanggil dengan sebutan Pak Machjar ini merupakan muksilog Sunda ternama. 

Beliau adalah pencipta lagu-lagu Sunda. Namun buah karya beliau yang melekat hingga sekarang adalah penemuannya dalam bidang notasi nada Sunda. 

Pak Machjar adalah tokoh yang memperkenalkan notasi da mi na ti la, nada musik pentatonis Sunda. Beliau pulalah yang melahirkan 17 tangga nada Sunda.

Budayawan yang lahir di Sumedang, Jawa Barat, 7 Desember 1902 ini menemumkan notasi pentatonis berkat penelitian yang mendalam. Ia mempelajari musik barat dan ilmu fisika. 

Ketika mendalami kedua ilmu tersebut, ia pun menemukan frekuensi suara dari gamelan dan rebab. Inilah yang kemudian dikenal sebagai da mi na ti la.

Selain penemuannya itu, Pak Machjar juga banyak mengajar di berbagai kampus. Dedikasinya yang tergolong tinggi ini membuat nama Pak Machjar semakin melambung. 

Dan atas jasanya terhadap perkembangan musik di Indonesia, terutama Karawitan Sunda, ia pun mendapatkan penghargaan Piagam Anugrah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diberikan pada beliau saat tanggal 17 Agustus 1969. 

Selain itu, beliau pun mendapakan penghargaan lain yakni dari Ikatan Seniman Sunda pada tahun 9 Mei 1959 dan penghargaan sebagai pencipta lagu rampak sekar Ibu Dewi Sartika pada tanggal 4 Desember 1975.

Itulah beberapa tokoh ternama yang bisa disebut sebagai budayawan Sunda paling terkenal dan pantas dihargai. Sebenarnya masih ada tokoh lain yang bisa disebut sebagai budayawan dari tatar Sunda. 

Hanya memang kelimat tokoh di atas termasuk ahli budaya dari tatar Sunda yang pantas berada paling depan karena sumbangsihnya yang cukup besar.

Post a Comment for " Lima Tokoh Budayawan Sunda Populer"