Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tantangan Besar dalam Pelestarian Budaya Indonesia

Tantangan Besar dalam Pelestarian Budaya Indonesia

Seperti apa pelestarian budaya Indonesia? Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelago) yang terbesar di Asia bahkan dunia. Ini mencakup 735.400 mil persegi (1.920.000 km persegi), saling berbagi pulau dengan Timor Leste, Malaysia, Papua Nugini, dan saling berbagi laut atau udara dengan Singapura.

Lalu, populasi manusia di dalamnya berjumlah 234 juta orang yang artinya adalah sebuah budaya yang sangat besar dan beragam. Budaya apakah yang Indonesia miliki dan bagaimana pelestarian budaya Indonesia itu sendiri?

Pelestarian Budaya Indonesia dalam Sejarah

Jika kita berbicara tentang budaya Indonesia, maka pertama-tama kita harus berbicara tentang ancestor atau warisan masa lampau. Bagaimanakah sejarah Indonesia? Well archaic. Sangat archaic.. 

Nenek moyang awal manusia modern, Homo Erectus, pertama mulai menetap di beberapa pulau di Indonesia setidaknya dari dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu.

Sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu ini, nenek moyang pertama punah dan peninggalannya terbukti dengan keberadaan Gunung Padang yang berusia 11000 SM dan pulau-pulaunya kehilangan penghuni tetap untuk sementara waktu. Hal  tersebut barangkali karena adanya bencana maha hebat yang selalu menghampiri Indonesia.

Kemudian, sekitar tahun 2000 SM, Austronesia pertama mulai menetap di pulau-pulau, meletakkan dasar untuk sebagian besar populasi modern. 

Setelah itu, kembali sejarah Indonesia hilang di telan bumi. Teoritisi masih menganggap karena bencana alam yang hebat menghapuskan banyak budaya dan populasi.

Kerajaan Pertama

Kerajaan pertama di Indonesia, khususnya Jawa, mulai terbentuk sekitar tahun 1 atau 2 abad. Banyak kerajaan yang berbeda dan kerajaan lain akan mengikuti sebagai bentuk dari feodalisme awal, yaitu beberapa bangsawan mengendalikan segelintir dari banyak pulau yang sekarang ada di Indonesia. 

Beberapa petak besar dikuasai para landlord dan para tuan tanah. Salah satu kerajaan awal yang penting adalah Kekaisaran Sriwijaya. Kerajaan ini dibentuk di Pulau Sumatera, didominasi banyak pulau, dan bagian dari Semenanjung Melayu dari sekitar abad ke-7 hingga awal abad ke-15.

Lalu, kedatangan paderi Islam mulai menyebarkan paham baru di di Indonesia pada abad ke-13 dan akhirnya menjadi agama yang dominan mengusir Hindi seluruh kepulauan dengan pengecualian di Pulau Bali. 

Pada abad ke-15, kembali muncul Kesultanan Islam Malaka melalui semenanjung Melayu dan pulau-pulau terdekat. Kesultanan Mataram di Jawa memainkan peran penting dalam penyebaran budaya Islam dengan menaklukkan banyak pulau dan memperluas k,esultanannya.

Datangnya Orang Asing

Orang-orang Eropa mulai bersaing untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia dimulai dengan sungguh-sungguh pada akhir abad ke-16. Orang-orang Portugis yang sudah mulai melakukan perdagangan pada awal abad ke-16 mulai menetap dan menaklukkan pada akhir abad ini.

Mereka meletakkan dasar bagi Belanda yang tiba di Indonesia dengan senjata dan taktik yang lebih baik, mulai secara sistematis menaklukkan sebagian besar Nusantara. Dengan basis mereka di Jawa, Belanda membentuk Perusahaan India Timur Belanda yang dengan cepat akan menjadi sumber kekayaan besar bagi Belanda.

Lantas, gerakan nasionalis dimulai di Indonesia pada awal abad ke-20 yang berusaha mengakhiri abad dominasi Belanda. Pada akhir Perang Dunia I, Belanda telah menjepit keras gerakan-gerakan Nasionalis dan berusaha untuk memadamkan setiap kesempatan pemberontakan. 

Pecahnya Perang Dunia II secara efektif memutuskan kekuasaan Belanda atas Indonesia. Gerakan Nasionalis Indonesia mencoba untuk mengubah negeri ini menjadi merdeka dan merdeka juga dari feodalisme dengan membentuk negara nasionalis. Faksi-faksi gerakan ini menghubungi Jepang untuk meminta bantuan mereka.

Orang Jepang setuju untuk mendukung kemerdekaan Indonesia sebagai imbalan untuk perdagangan. Ketika Jepang akhirnya menyerah, pemimpin faksi Nasionalis, Soekarno, menyatakan kemerdekaan. 

Belanda mencoba merebut kembali Indonesia dengan jalan militer, tetapi setelah empat tahun berjuang, akhirnya terpaksa mengakui status independen dari Indonesia.

Negara ini mulai kemerdekaannya dengan sistem demokrasi parlementer yang berlangsung sampai tahun 1957. Pada titik ini, Soekarno mengalihkan fokus ke arah jenis baru demokrasi bahwa komunisme dicampur, nasionalisme, dan agama ke dalam apa yang diciptakan Demokrasi Terpimpin. 

Periode ini berlangsung hingga tahun 1965 dan ditandai oleh kepemimpinan yang semakin otoriter oleh Soekarno dengan ketergantungan yang tumbuh di negara-negara komunis seperti Cina dan Uni Soviet.

Pada 1965, setelah kudeta yang gagal, reaksi anti-Komunis besar terjadi, yaitu sebanyak satu juta orang tewas. Soeharto mengambil alih, lalu memimpin negara sampai ia mengundurkan diri pada 1998. Negara ini mulai membangun kembali selama periode ini dari kondisi ekonomi yang mengerikan.

Indonesia berusaha untuk menemukan dirinya kembali dan perlahan-lahan berjalan untuk pemulihan ketika krisis Asia Timur memukul. Indonesia terus berjuang dengan posisi ekonominya dan protes terus mendorong negara menuju reformasi yang lebih demokratis. Akhirnya, negara Indonesia menyelenggarakan pemilu yang relatif terbuka pada 2006.

Apakah Itu Budaya Indonesia dan Bagaimana Pelestariannya?

Dengan penjelasan di atas, mari kita bertanya kembali apakah budaya Indonesia? Maka jawabannya adalah pergulatan sejarah. Budaya Indonesia adalah budaya pergulatan sejarah. Sesuatu yang awet dari Indonesia adalah ketidakkonsistenan dan pergantian demi pergantian budaya besar. 

Dahulu, Indonesia pernah mengalami masa animisme, dinamisme, lalu Hindu, lalu Budha, Islam, Kristen, komunisme, Jepangisme, dan baratisme. Semuanya campur baur dan tidak ada yang murni.

Bisa sulit untuk mendapatkan satu ide dominian dari banyak kepala seluruh Indonesia. Bangsa ini adalah rumah bagi lebih dari 234 juta orang, tersebar di lebih dari 17.000 pulau yang berbeda. 

Meskipun didominasi Islam, ada daerah di mana seluruh Kristen, Hindu, atau berbagai agama asli yang dominan. Oleh karena itu, ahli sejarah Indonesia bernama Ben Anderson menyebut bahwa budaya Indonesia adalah kreol. 

Kreol merujuk pada sinkretisme dari banyak budaya native, yang bisa jadi daya tarik, tetapi banyak yang bilang bukan.

Terorisme juga menjadi momok konstan untuk kebanyakan wisatawan asing. Beberapa pengeboman yang menargetkan turis Barat masih segar dalam ingatan orang-orang. Setelah kejadian di Legian Bali, dunia budaya Indonesia berada dalam tanda tanya besar. 

Walau dengan semua masalah ini, Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan wisata paling dipuji di planet ini, karena budaya ramahnya, tetapi tidak lenyap pula budaya marahnya.

Bangsa ini adalah dunia maya tersendiri dan menawarkan pengalaman seumur hidup. Salah satu tujuan paling populer adalah pulau besar Jawa. 

Modal terletak di pulau ini dan seseorang dapat menjelajahi berbagai peninggalan arkeologis dari kota-kota yang dulu menjadi pusat-pusat kerajaan perkasa yang kini hancur karena pembangunan gila-gilaan dari mereka yang tidak peduli dengan leluhur. 

Kebanyakan orang yang pindah pulau tidak pernah merasa leluhurnya berdiam di tempat ia hendak digusur. Namun, segala setback itu bukan berarti akhir.

Permata budaya pada mahkota di Indonesia adalah Pulau Bali. Pemandangan di Bali sangtat indah, budayanya luar biasa berwarna-warni , kerajinannya sangat terkenal, dan keramahan warganya menyambut orang-orang. 

Selain itu, Pulau Lombok juga baik dan dipandang baik dengan menawarkan banyak keindahan seoerti di Bali, tetapi tanpa gerombolan wisatawan. 

Di mana pun orang memilih untuk melihat, pulau-pulau di atas selalu memiliki budaya ancestry yang memukau. Apakah pulau-pulau itu pun menunggu waktu untuk dilenyapkan budayanya bila sudah tidak laku lagi? 

Pelestarian budaya Indonesia adalah kreol yang masih berfungsi mengerus uang turis. Ya, demi alasan uang turis saja, Indonesia masih menjaga budaya lampau. Bila habis modal daya tariknya, budaya itu akan lenyap digilas kebodohan para penerus.

Post a Comment for " Tantangan Besar dalam Pelestarian Budaya Indonesia"