Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apa itu Pranata Sosial?

Apa itu Pranata Sosial?

Pranata Sosial atau institusi sosial merupakan pola terorganisir, dari sistem kepercayaan, sikap, perilaku, yang didasarkan dari kebutuhan sosial, demi beradaptasi pada setiap upaya dimensi ruang dan waktu dalam suatu masyarakat.

Definisi pranata sosial tersebut selalu mendapatkan pola pembaruan satu sama lain. Dikarenakan sisi eksotis ilmu sosial selalu berkembang, dan selalu ditemukan kenyataan baru di masyarakat yang bahkan belum terkonsepsikan dalam teori-teori tertentu kemasyarakatan.

Dalam kaitannya dengan pranata sosial, pemahaman baru akan selalu berkaitan dengan ciri apakah ajaran lama masih bisa dipertahankan jauh di atas ajaran baru? 

Apakah ajaran baru merupakan ajaran implan atau muncul dari jati diri ajaran lama yang membutuhkan satu dua hal penyesuaian? Karena itulah, pranata sosial selalu berkaitan dengan ideologis, atau sisi ajaran yang seharusnya melayani orang dan bukan dilayani oleh orang.

Sebagai akibatnya, suatu pranata sosial bisa diubah, bisa berganti, dan bisa diambil kembali. Contoh paling gamblang adalah apa yang tergambarkan di negara Turki.

Pada awalnya Turki sebagai suatu bangsa yang utuh mengambil ciri pranata berdasarkan prinsip dan ajaran Islam, lantas digantikan oleh pranata sosial yang berprinsip pada ajaran fasisme dan kultus individu, untuk kemudian kembali lagi kepada pranata sosial yang bernafaskan ajaran Islam yang dinegosiasikan dengan ajaran fasis terdahulu.

Perubahan Pranata Sosial Sebagai Bagian Reorganisasi

Pranata sosial pada dasarnya adalah proses organisasi dan reorganisasi, agar sekelompok masyarakat merasa nyaman dan bersedia melakukan sesuatu hal di luar kehendak otonom individu. 

Mereka berpartisipasi kepada masyarakat, (dalam bahasa lokalnya mengabdi), dan mencoba ambil bagian dari the circle of life dengan kesadaran penuh, dirinya adalah bagian dari diri yang lain. Begitu solid, dan menampakkan solidaritas.

Perubahan terhadap pranata sosial, bisa dikatakan sebagai tahapan awal dari perubahan sosial, namun bukan perubahan menyeluruh dari kondisi sosial yang ada. 

Umumnya, perubahan pranata sosial itu berlangsung dengan jalan alami dan mencapai suatu titik seimbang. Dan perubahan itu berjalan tanpa tendensi kehilangan suatu ajaran kecuali akan dikenang sebagai hal yang positif.

Hal-hal yang menjadikan perubahan dari pranata sosial antara lain, perubahan personil, ajaran baru yang diajarkan, perubahan alam, tindakan darurat atas dasar kestabilan sebagai manajemen konflik sosial.

Perubahan Personil Pada Pranata Sosial

Perubahan pada pranata sosial, muncul sejalan perubahan personil. Misalnya, bergantinya pucuk pimpinan di kemasyarakatan dari tua ke muda, perubahan generasi di pos-pos birokratisme, perubahan yang juga muncul dalam pergantian antar waktu, sehingga suatu pranata entah mengalami penguatan yang signifikan atau justru sebaliknya berganti secara penuh.

Jika pranata sosial yang tengah dijalani tidak mampu menghasilkan masyarakat yang solid dan berkualitas tentunya akan ditinggalkan. 

Oleh karena itulah umumnya pranata yang solid dan berkualitas serta menjaga kesinambungan jalinannya, selalu memiliki pemimpin dengan leadership yang tradisional dan memerintah dengan tangan besi, bukan leadership yang cenderung modern, karena leadership modern harus melakukan banyak transaksi kekuasaan dengan kekuatan lainnya.  

Suatu pranata sosial juga harus bisa menjamin lahirnya pemimpin mumpuni dari dalam ajaran dan ideologi mereka sendiri. Pemimpin yang berdasarkan tradisi kebangsaan dan kebanggaan bangsanya sendiri, yang mampu melihat kekuatan dari bangsanya. 

Dan bentuk inilah yang menyulitkan Indonesia untuk sulit memiliki pemimpin tradisionalis yang kuat dengan nilai kebangsaan yang mantap.

Karena gaya kepemimpinan masa lampau yang feodalis dan kurang menitikberatkan pada sisi natural rakyat Indonesia yang begitu hebat dalam antisipasi dan self refleksi. Pada akhirnya rakyat lebih senang dipimpin oleh mereka yang mampu memimpin dengan ciri antisipasi handal. Pranata sosial menjadi satu hal yang kemudian mengikat.

Pengajaran Pada Pranata Sosial

Apa itu Pranata Sosial?

Pranata sosial bergantung pada banyaknya guru di masyarakat. Pranata sosial diajarkan secara formal melalui guru di sekolah, dilanggar, dan di masyarakat. Anak-anak serta orang dewasa begitu menghormati seorang guru yang memiliki ilmu, dan memberikan kepuasaan mental pada orang akan ilmu dan jawaban dalam hidup mereka.

Oleh karena itulah, bagi suatu masyarakat yang telah dikuasai oleh ilmu dan pengetahuan, dan telah mencapai taraf institusionalisasi yang paling puncak yang dinamakan juga dengan habitus, akan menganggap kampus dan guru sebagai pemimpin yang utama. Pemimpin tersebut termasuk pranata sosial.

Mereka (bagian dari pranata sosial) digerakan oleh artikel koran untuk bertindak, mereka digerakkan oleh kesamaan visi untuk bergerak, dan mereka menolak komando bila komando itu sendiri tidak mudah mereka pahami dalam bahasa sosial dan tingkat intelektualitas yang mereka miliki. 

Kesalahpahaman kadang terjadi, para habitus (pelaku pranata sosial)  yang tumbuh ketika pendidikan begitu sukses dinilai muncul karena muatan kurikulum. Hal ini sangat keliru. Habitus muncul ketika sekolah-sekolah, dan langgar-langgar, dipenuhi oleh guru yang berkualitas. 

Guru berkualitas itu merupakan ciri dari negara yang maju dan sukses dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi. Sehingga pranata sosial berjalan dengan seorang pemimpin yang sedikit menganggur, dan kerjanya hanya meresmikan tempat saja.

Perubahan Alam dan Pengaruhnya Terhadap Pranata Sosial

Ketika terjadi perubahan alam yang ekstrim, di masa lalu, maka pranata sosial serta-merta berubah. Manusia mengalah pada alam, dan bukan hendak melawan perubahan alam. 

Umumnya manusia di masa lalu, bermigrasi dari tempat yang lama menuju tempat yang vegetasinya benar-benar baru, sehingga muncul pula kebiasaan dan pembiasaan baru yang merubah pranata sosial mereka. 

Tindakan Darurat Pada Pranata Sosial

Pranata sosial juga bisa dibentuk dari tindakan darurat dari pemimpin militer, yang akan menghadirkan kebiasaan baru di tengah dibungkamnya kebiasaan lama. Pemimpin militer ini mengendalikan kekuatan yang membuat rakyat takut, dan akan serta merta menurut. 

Artinya pranata sosial tidak didasarkan atas adanya interaksi sosial dan atau dari re-struktur sosial yang sehat, melainkan dari ancaman, kondisi intimidasi yang ada. Membuat setiap peraturan dari pemimpin militer bernilai sabda.

Biasanya pranata sosial semacam ini hanya muncul sebagai subkultur dan tidak akan berlangsung lama. Karena sifatnya yang darurat. Jika dipaksakan maka akan berakhir sebagaimana rezim militer di manapun mereka berkuasa. Tidak ada sama sekali upaya untuk melakukan institusionalisme secara normal. Yang ada hanyalah sosial represi.

Para rakyat yang bernaung padanya menolak untuk solidaritas dan suatu saat akan berontak. Pranata sosial semacam ini masih ada dan bisa kita saksikan langsung prosesnya, seperti di Burma, Korea Utara, di Yaman, Pakistan, Afghanistan, Irak, Iran, dan negara yang selalu menggunakan senjata sebagai alat dialog, antara rakyat dengan pemimpinnya.

Suatu kualitas keadaan sosial yang buruk, membuat rakyatnya tidak betah bahkan bila perlu lari dari negara konflik itu, karena pranata sosial nya tidak menjamin rasa nyaman dan aman kepada mereka.

Post a Comment for " Apa itu Pranata Sosial?"