Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kesenian, Senjata Tradisional, Pakaian Adat, Rumah Adat Suku Baduy Banten


Kesenian, Senjata Tradisional, Pakaian Adat, Rumah Adat Suku Baduy Banten

Suku Baduy bukan hanya dikenal sebagai suku yang memiliki kearifan lokal yang tetap terjaga hingga saat ini, juga dikenal sebagai suku yang memiliki banyak tradisi dan kesenian tradisional yang menjadi ciri khas mereka.

Dan pada artikel kali ini saya akan memabgikan kepada Anda tentang beberapa Kesenian, Senjata Tradisional, Pakaian Adat, Rumah Adat Suku Baduy Banten, diantaranya sebagai berikut:

 KESENIAN SUKU BADUY

Dalam kesehariannya, masyarakat suku Baduy hidup dengan sangat sederhana dan bersahaja. Mereka mayoritas  bercocok tanam dan berladang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu mereka juga menjual berbagai macam hasil kerajinan tangan seperti tas Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu) selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung (yang merupakan hasil dari kerajinan tenun mereka), golok, dan parang.

Suku Baduy memiliki berbagai macam kesenian daerah yang biasanya mereka pentaskan dalam rangka melaksanakan kegiatan tradisi ritual atau upacara tertentu. 

Berikut adalah beberapa jenis kesenian yang dimiliki oleh Suku Baduy, antara lain :

1. Seni Musik
  • Cikarileu
  • Kidung / pantun (biasanya di gunakan dalam acara pernikahan)

2. Alat Musik
  • Angklung Buhun 
  • Kecapi

3. Seni Ukir 
4. Batik

Berikut ini adalah dua jenis alat musik tradisional suku Baduy, yaitu:

Agklung Buhun

Salah satu jenis alat musik yang menjadi ciri khas suku Baduy adalah Angklung Buhun. Angklung Buhun adalah salah satu kesenian masyarakat Baduy yang pertaman kali lahir. Kesenian tradisonal ini memiliki daya magis dan mempunyai unsur yang sangat saklar bagi masyarkat suku Baduy. Angklung Buhun ini bukan sembarang kesenian, artinya kesenian ini tidak setiap saat bisa dipentaskan. Pementasa Angklung Buhun hanya dilakukan satu tahun sekali, dengan gaya dan versi yang selalu sama. 

Angklung Buhun

Pementasan Angklung Buhun ini harus selalu mengikuti pakem yang ada, tembang, tari, dan tabuhan alat musik pengiringnya harus bisa menyatu dengan seniman yang memainkannya. Kesenian tradisional Angklung Buhun ini memiliki arti penting yakni sebagai penyambung amanat, kepada para ahli waris untuk mempertahankan kelangsungan anak dan keturunan suku Baduy. 

Unsur seni yang terkandung didalamnya memiliki daya tarik yang mampu menyentuh rasa bagi pendengarnya. Acara pementasan Angklung Buhun ini merupakan jembatan penghubung atau sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan, mengajak, memberikan peringatan, larangan, dan penerangan kepada masyarakat.

Upacara adat seren taun merupakan salah satu tradisi untuk pementasan Angklung Buhun. Seren taun merupakan tradisi luhur masyarakat suku Sunda termasuk suku Baduy yang di wariskan oleh nenek moyang mereka secara turun - temurun.

Kata "Buhun"  sendiri dalam bahasa Sunda memiliki arti tua atau kuno. Nama ini menggambarkan tentang sejarah panjang keterikatan masyarakat Baduy dengan Angklung Buhun ini. Menurut cerita yang berkembang, Kemunculan Angklung Buhun sendiri konon bersamaan dengan terbentuknya masyarakat suku Baduy. Karena itulah, kemudian kesenian ini dianggap memiliki makna penting dalam mempertahankan eksistensi masyarakat suku Baduy.

Jika dilihat dari bentuknya, maka Angklung Buhun sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan alat musik angklung pada umumnya. Suara yang dihasilkanpun boleh dikatakan sama. Jika ada perbedaan mungkin hanya pada pernak-pernik yang terdapat di sisi atas bingkai Angklung Buhun ini. Angklung Buhun biasanya dilengkapi dengan batang padi yang diikat secara berkelompok atau rumbai-rumbai dari berbagai macam dedaunan.
                               
Rendo Pengiring Pantung 

Kesenian, Senjata Tradisional, Pakaian Adat, Rumah Adat Suku Baduy Banten
image via [email protected]_zery

Rendo Pengiring Pantun merupakan salah satu alat kesenian tradisional masyarakat suku Baduy yang memberikan warna tersendiri, sebagai pengingat para warga masyarakat kepada amanat para leluhurnya. Rendo dipentaskan setahun sekali yakni setelah selesainya musim ngored, atau menjelang tanaman padi mulai berbunga.

Waktu tersebut merupakan waktu senggang yang digunakan oleh masyarakat suku Baduy dengan membaca pantun, dalam membuka tabir sejarah perjalanan hidup nenek moyang dan para leluhur mereka.

Kegiatan ini biasanya dipimpin oleh tokoh masyarakat, yang lebih faham dan bertanggung jawab untuk menyampaikan amanat. Tradisi berpantun merupakan upacara kecil yang dilakukan dari rumah ke rumah, pada malam hari untuk lek-lekan hingga larut malam.

SENJATA TRADISIONAL BADUY

Selain alat musik, masyarakat suku Baduy juga memiliki jenis senjata tradisional yang menjadi ciri khas mereka, yaitu:

Golog / Bedog

Golok atau Bedog suku Baduy
image via [email protected]_clothes

Golok atau bedog senjata tradisonal suku Baduy yang sehari-harinya di gunakan oleh kaum laki-laki. Ada dua jenis golok yang dibuat dan digunakan oleh masyarakat suku Baduy, yakni golok polos dan golok  yang berpamor. 

Golok polos dibuat melalui proses pembuatan seperti biasa, yakni menggunakan besi baja bekas per pegas kendaraan bermotor yang ditempa dengan menggunakan pemanasan dari arang kayu.  Golok polos ini biasanya di gunakan untuk keperluan  menebang pohon, meebang bambu, dan sebagainya.

Golok pamor adalah golok yang dipercayaa memiliki kekuatan. Golok jenis ini  memiliki urat-urat atau motif gambar yang menyerupai urat kayu dari pangkal hingga ke ujung golok pada bagian permukaannya. Proses pembuatan golok pamor membutuhkan waktu yang lebih lama dan memerlukan percampuran besi dengan baja khusus. Kekuatan dan ketajaman golok pamor melebihi golok polos biasa, dan memiliki kharisma bagi siapa saja  yang menyandangnya.

Bahan kayu untuk membuat sarangka (sarung) golok tersebut adalah jenis  kayu Reunghas, dan perahnya dari bahan kayu duren atau kayu jenis lain yang lebih keras. Pengikat atau pengkuat serangka biasanya menggunakan bahan tanduk sapi atau kerbau yang telah diraut secara khusus. 

Kujang

Kesenian, Senjata Tradisional, Pakaian Adat, Rumah Adat Suku Baduy Banten

Kujang adalah  adalah jenis senjata tradisional yang digunakan iuntuk keperluan bercocok taman dihuma, seperti untuk nyacar dan ngored. Senjata ini didaerah sunda yang lain disebut “arit”. Kujang dibuat dari bahan besi dan baja yang ditempa. Senjata ini disebut dengan kujang karena berbentuk mirip dengan kujang yang merupakan senjata khas kerajaan pajajaran dan kini sekarang menjadi symbol provinsi Jawa Barat.

Istilah kujang sebenarnya merujuk kepada bentuknya yang seperti senjata kujang dengan bagian bawahnya seperti golok. Biasanya senjata tradisional ini sering digunakan oleh masyarakat suku Baduy Dalam. Sedangkan bagi masyarakat suku Baduy luar biasanya menggunakan istilah “Kored” (alat untuk pekerjaan ngored / membersihkan rumput di ladang).

Kapak Beliung

Kapak Beliung adalah senjata yang digunakan untuk menebang pohon besar atau sebagai perkakas untuk keperluan membangun rumah. Di daerah yang lain senjata ini disebut kapak, yang mana pada bagian gagangnya terbuat dari kayu dengan panjang sekitar 30-35cm. 

PAKAIAN ADAT BADUY

Kesenian, Senjata Tradisional, Pakaian Adat, Rumah Adat Suku Baduy Banten

Suku Baduy memiliki pakaian atau baju adat yang menjadi ciri khas bagi mereka dengan corak warna dan desainnya yang cukup sederhana. Warna hitam dan putih menjadi warna yang paling dominan.

Pakaian adat Suku Baduy terbuat dari bahan - bahan yang didapat dari alam. Dimulai dari penanaman biji kapas hingga panen. Kemudian dilanjutkan dengan proses memintal kapas hingga menjadi benang. Kapas yang telah menjadi benang tersebut kemudian ditenun oleh kaum perempuan suku Baduy sampai menjadi bahan kain.  Bahan kain inilah yang kemudian akan dibuat menjadi baju adat dan dipakai dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Pakaian adat suku Baduy yang dikenakan oleh kaum laki-laki disebut jamang sangsang. Baju adat ini berlengan panjang dan cara mengenakannya hanya dengan disangsangkan atau hanya dilekatkan pada tubuh. Desain baju sangsang memiliki lubang pada bagian leher sampai ke bagian dada serta tidak menggunakan kerah, kancing, dan kantong.

Baju adat jamang sangsang ini didominasi oleh warna putih dan tidak boleh dijahit dengan menggunakan mesin jahit. Warna putih pada baju diartikan dengan kehidupan mereka yang suci dan tidak terpengaruh oleh budaya dari luar. Warna putih ini hanya dikhususkan bagi suku Baduy Dalam saja. Sedangkan  untuk masyarakat Baduy luar, mereka menggunakan baju kampret bewarna hitam atau biru tua. Baju adat yang dikenakan oleh masyarakat Baduy luar ini sudah terpengaruh budaya luar, karena telah memiliki kantong dan menggunakan kancing baju.

Sebagai bawahannya, suku Baduy biasanya hanya memakai jenis  kain bewarna biru kehitaman yang dililitkan pada bagian pinggang. Celana ini diikat dengan menggunakan selembar kain yang berfungsi sebagai ikat pinggang. 

Sementara sebagai penutup kepala digunakan kain yang berfungsi sebagai ikat kepala. Ikat kepala ini juga dibedakan dengan corak warna putih dan biru tua. Untuk warna putih diperuntukkan bagi Suku Baduy dalam sedangkan warna biru tua bercorak batik menjadi ikat kepala yang digunakan oleh suku Baduy luar.

Sementara itu untuk kaum perempuan suku Baduy, pakaian adatnya hanya berupa kain atau semacam sarung yang berwarna biru kehitam-hitaman. Kain ini adalah jenis kebaya dengan motif batik yang dipakai dari tumit hingga ke bagian dada. 

Perbedaan yang paling mencolok dari penggunaan pakaian ini bisa dilihat dari apakah perempuan tersebut sudah menikah dan belum. Jika yang sudah menikah maka bajunya terlihat terbuka di bagian dada sedangkan untuk perempuan yang belum menikah maka pada bagian dada akan tertutup.

RUMAH ADAT BADUY

Kesenian, Senjata Tradisional, Pakaian Adat, Rumah Adat Suku Baduy Banten

Salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat suku Baduy adalah pada proses pembuatan rumah dilakukan secara bergotong royong. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat suku Baduy memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat erat. 

Rumah adat suku Baduy sangat sederhana. Rumah mereka terbuat dari bahan-bahan yang didapatkan dari alam (hutan) seperti tiang - tiang penyangga rumah menggunakan batang pohon, penggunaan bilik bambu, atap rumbia, dan genting ijuk jelas menunjukkan kearifan mereka terhadap lingkungan dan alam sekitarnya.

Satu hal yang cukup unik adalah semua rumah suku Baduy selalu dibangun dengan menghadap kearah  utara atau  selatan. Aturan ini sengaja dibuat sehubungan dengan sinar matahari yang masuk kedalam rumah.

Berikut ini adalah ciri - ciri rumah suku Baduy, antara lain:
  • Bangunan rumah pada umumnya dibuat tinggi, berbentuk panggung, dan mengikuti kontur permukaan tanah. Pada bagian tanah yang miring dan tidak rata permukaannya, maka bangunan disangga dengan menggunakan tumpukan batu kali agar sejajar. 
  • Bagian atap rumah dibuat dari daun sulah nyanda. Kata nyanda memiliki arti sikap bersandar, sandarannya tidak lurus melainkan agak merebah ke belakang. Salah satu sulah nyanda ini dibuat lebih panjang dan memiliki kemiringan yang lebih rendah pada bagian bawah rangka atap rumah tersebut.
  • Bilik rumah dan pintu rumah pada umumnya terbuat dari anyaman bambu. Teknik anyaman bambu ini disebut sarigsig. Sebagai kunci pintu dibuat dengan cara memalangkan dua batang  kayu yang di dorong atau ditarik dari luar bangunan rumah.
  • Ada 3 jenis ruangan dalam bangunan rumah suku Baduy, yakni ruang tidur kepala keluarga (Imah), ruang tidur untuk anak-anak sekaligus ruang makan (tepas) dan ruang tamu (sosoro).
  • Seluruh bangunan rumah dibuat saling berhadap - hadapan ke arah utara dan arah selatan.

Demikianlah uraian artikel tentang Kesenian, Senjata Tradisional, Pakaian Adat, Rumah Adat Suku Baduy Banten. Semoga bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan Anda.

Post a Comment for "Kesenian, Senjata Tradisional, Pakaian Adat, Rumah Adat Suku Baduy Banten"