Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Filosofi Wayang Dalam Kehidupan

Filosofi Wayang Dalam Kehidupan

Filosofi Wayang Dalam Kehidupan

Kota Malang adalah salah satu kota besar ke dua di Jawa Timur yang menyimpan sejarah panjang, sejalan dengan dinamikanya. Kota Malang merupakan kota kesenian; baik kesenian yang khas bercirikan etnik lokal, atau kesenian yang berasal dari kota di Jawa yang lain.

Kesenian yang pernah menyertai perkembangan sejarah Kota Malang adalah wayang wong, keberadaannya seolah-oleh tidak dapat dilepaskan dengan dinamika sejarah wayang wong itu sendiri.

Iswayudi adalah salah satu saksi sejarah pertumbuhan wayang wong di Malang. Sungguhpun Iswayudi baru menyadari benar bahwa dunia wayang wong telah menjadi bagian dari hidupnya sekitar tahun 1962. Penampilan yang perdana di gedung wayang wong Flora (sekarang pertokoan Jl. Merdeka Barat).

Wayang wong yang digeluti dikarenakan oleh lingkungan keluarga, ayahnya adalah pemain wayang wong di gedung Flora. Maka dengan tidak sengajar mulai dari kecil selalu terlibat dalam kesenian tersebut, ketika malam hari berada di gedung bersama ayahnya, sementara siang hari sekolah. 

Sewaktu sekolah agar terganggu, pada umumnya mengantuk. Tetapi semua berjalan dengan lancar, sampai Iswayudi menamatkan SMA.

Iswayudi yang lahir tanggal 21 Februari 1950. merasa mantap sebagai pemain wayang wong setelah menamatkan SMA. Perjalanan sebagai pemain wayang wong memang memiliki sejuta kenangan, setidaknya dari tahun-ketahun mengalami berbagai hal seiring dengan timbul tenggelamnya berbagai perkumpulan wayang wong di Malang.

Iswayudi selama belajar wayang wong di Malang banyak ketrampilan yang dimiliki, tidak hanya sebagai pemain tetapi juga mendapat pengalaman membuat berbagai pernak pernik kostum wayang wong dan property berupa senjata-senjata yang digunakan tokoh-tokoh wayang, seperti pedang, tombak, gada, dan lain sebagainnya.

Sekitara akhir tahun 1979 Iswayudi pindah bersama keluarganya ke Surabaya. Di kota Buaya tersebut kurang lebih 15 tahun. Sewama masa itu, Iswayudi tidak menyia-nyiakan waktu, di sana semakin aktif mengikuti berbagai perkumpulan wayang wong. Bahkan sempat menjadi sutradara.

Pada tahun 1990-an ketika di Malang mulai terasa ada semangat menghidupkan kembali wayang wong, Iswayudi tergabung dalam Wayang Wong Balapratama yang dilatih oleh Prapto Salyo Pati. 

Tokoh yang seringkali diperankan adalah Kresna, Samba, atau putra-putra Pandawa, seperti Gatutkaca, Antareja, atau Wisanggeni. Adapun tokoh yang menjadi idola adalah Karna, atau seringkali disebut Adipati Karno. Seorang adipati dari kadipaten Ngawonggo. 

Karna adalah seorang satria yang sakti, kesaktiannya sebanding dengan Arjuna. Tetapi Karna adalah salah seorang yang berada dipihak Kurawa.

Sehingga pada waktu perang Baratayuda, Karna harus menjadi senapati yang berhadapan dengan Arjuna. Arjuna sebenarnya adalah adik kandungnya, yaitu anak Dewi Kunti. Mereka berdua terpisah, sebab sejak Bayi, Karna di buang ibunya dan dipungut oleh seorang Kusir istana yang bernama Salya. 

Cerita Karna tanding adalah ceria yang sangat mengesankan, sangat mengharukan, dua kakak beradik mempertaruhkan tanggungjawab sebagai satria yang mengabdi pada negara.

Perkembangan Wayang Wong Balapratama di bawa asuhan Prapto Salyo Pati sangat pesat, bahkan mampu tampil di festival tingkat nasional 2 kali, yaitu tahun 1993 dan 1995. Menginjak tahun 2000, Balapratama mendapatkan tambahan pelatih yang memiliki pengalaman tingkat nasional, yaitu Ismuri. 

Pemuda yang energik tersebut mempunyai banyak jangkauan untuk meningkatkan kiprah wayang wong di Malang. Tetapi harapan tersebut ternyata tidak demikian, Wayang Wong Balapratama mengalami kondisi yang menurun.

Pada tahun 2004, Iswayudi bergabung dengan perkumpulan Wayang Wong Wulandadari yaitu perkumpulan wayang wong yang semua anggotanya lansia (lanjut usia). Perkumpulan tersebut bertemu untuk berlatih atau menyiapkan pementasan di Musim Brawijaya Malang yang beralamat di Jl. Ijen Malang. Adapun pelatih kelompok ini adalah Iksun Hs, salah satu tokoh legendaris wayang wong di Malang.

Pengrajin Kostum Wayang 

Wayang Wong

Iswayudi yang tinggal di Jl. Brigjen Slamat Riyadi (oro-oro dhowo) no. 287. tidak hanya menekuni sebagai aktor wayang wong, tetapi melirik pekerjaan yang langka yaitu membuat kostum dan property wayang wong. 

Pekerjaan yang memakan waktu dan menuntut ketrampilan tinggi ini memang jarang di kuasai orang. Pekerjaan sebagai pengerajin kostum dan property wayang wong tersebut yang banyak membantu dalam menopang penghasilannya. Bahkan pekerjaan tersebut mulai diminati salah satu putranya yang bernama Bayu. 

Di samping itu Bayu juga telah lama tertarik dunia wayang wong. Tampaknya satu diantara 6 putra Iswayudi tersebut yang mewarisi bakatnya. Tetapi belum tahu perkembangan berikutnya. Dunia pertunjukan wayang wong tidak seperti dulu, sekarang banyak wayang wong yang berguguran, dan tidak lagi diminati masyarakat, khususnya orang muda.

Sebagai pengrajin pakian wayang wong membutuhkan ketekunan, karena masing-masing hiasan manik-manik pada pakian wayang memiliki bentuk atau motif yang berbeda-beda; hal tersebut disebakan oleh perbedaan karakter wayang. 

Pakaian untuk Gatutkaca memiliki bentuk yang khas, yaitu Kutang yang dihiasi Bintang disebut Antakusuma, sementara Buta Cakil yang menggunakan topeng berupa dagu yang panjang dan bertaring, sementara untuk para putri-putri selalu dihiasi pola bunga dan daun yang berwarna-warni.

Pengrajin pakian wayang di Malang ini termasuk langka, sungguhpun demikian yang membutuhkan pakian juga langka. Apalagi peerkembangan seni tari dewasa ini, tidak seperti dulu. 

Tari-tarian selalu menggunakan pakian wayang, sedangkan tari-tarian sekarang banyak yang menggunakan pakian yang bermacam-macam. Maklum sumber objek yang ditarikan berbeda-beda.

Pemain Laki - Laki Semakin Langka 

Pada waktu yang lampau wanita ditabukan menari atau tampil di atas panggung, sehingga semua pemain adalah laki-laki. Tetapi pada perkembangan kesenian panggung, ternyata wanita lebih banyak ketimbang laki-laki. 

Hal ini sebenarnya cukup memperihatinkan, pada wayang wong untuk tokoh-tokoh gagahan atau tokoh kasar harus diperankan oleh laki-laki, seperti Bima, Dasamuka, atau para rasaksa. Tetapi pada akhir-akhir ini sejalan dengan berkurangnya pemain laki-laki ada beberapa penari wanita terpaksa memerankan tokoh laki-laki gagah, misalnya tokoh Gatutkaca. 

Tokoh Gatutkaca adalah tokoh memiliki perwatakan tegas, gerakan yang gagah, suara yang dalam. Jika berperang benar-benar tampak tegas, kadang setiap gerakan selalu diberikan tekanan kendang yang mantap.

Peran Arjuna sejak semula memang diperankan oleh wanita, hal ini terkait dengan karakteristik yang hendak dicapai, wanita memiliki penampilan yang luwes, lembut, dan halus. Maka laki-laki yang perkasa menurut konsep Jawa adalah yang lemah lembut, tidak banyak bicara, tetapi memiliki ketajaman berpikir.

Nilai - Nilai Kehidupan

Iwayudi selama mengikuti timbul tenggelamnya berbagai perkumpulan wayang wong di Malang, satu sama lain perkumpulan memiliki perjalanan sejarahnya masing-masing. Pada umumnya tidak ada yang abadi, satu tumbuh dan satu tenggelam. 

Kasusnya beraneka ragam, tetapi wayang wong di Malang ini sungguh-sungguh unik. Dari tahun ke tahun selalu muncul perkumpuan wayang wong. Seolah-olah Kota Malang merupakan kota wayang wong.

Satah satu yang menjadi kebanggaan Iswayudi dalam mengikuti perkumpulan wayang wong adalah kesempatan untuk mempelajari kehidupan. Maka selama ini, usaha mendalami wayang wong bukan karena bayaran. 

Bahkan tidak jarang dalam berbagai pementasan tidak di bayar, tetapi kesampatan untuk tampil dan menghayati tokoh yang dimainkan adalah sebuah kenikmatan tersendiri.

Wayang adalah sebuah gambaran kehidupan manusia, sehingga wayang itu adalah tontonan dan sekaligus tuntunan. Orang menyaksikan pertunjukan wayang wong tidak hanya terhibur tetapi juga mendapat pelajaran. 

Karena lakon adalah gambaran dari laku kehidupan manusia. Tokoh-tokoh yang pernah diperankan selalu memiliki kisah hidup dan berbagai dinamika, sebagai contoh Gatutkaca yang meninggal oleh pusaka Kuntawijaya milik Adipati Karna. 

Pusaka ini akan menghampiri atau menjemput Gatutkaca, karena di dalam pusat (puser) nya ada rangka pusaka tersebut. Simbolisasi lakon Gatotkaca Seda tersebut memiliki simbol Pusaka Manjing Warangka.

Dalam penyajian wayang wong atau wayang pada umumnya adalah mencerminkan kehidupan mulai dari lahir hingga mati, hal ini simbulkan dari perpindahan pola patet (suasana), yaitu:

1. Adegan pertama diiringi gending-gending patet Nem, yaitu merupakan simbol masa anak-anak yang tampak lugu, bersahaja, atau datar (lamban).

2. Adegan kedua adalah diiringi dengan gending-gending patet Sanga, yaitu adegan yang menyimbulkan masa remaja yang penuh dinamika dan godaan hidup, sehingga yang digambarkan adalah perang gagal, seperti munculnya para raksaksa dan perang antara Bambang (satria) dan Buta Cakil. 

3. Adegan ketiga patet Manyuro, adegan ini menyimbolkan masa dewasa hingga tua, masa introspeksi (merenung) tentang berbagai dinamika hidup; jika orang menanam kebaikan maka yang akan dituai adalah kebaikan, tetapi jika menanam kejelekan akan menanam keburukan, ungkapan dalam bahasa Jawa adalah : "Sapa sing nandur bakal ngunduh, samubarang itu minangka ngunduhe wohing pakerti."

Pada akhir adegan selalu dibunyikan gending Bubaran (penutup) dan Ki Dalang memanjatkan doa yang disebut Umbul dungo.

Post a Comment for "Filosofi Wayang Dalam Kehidupan"