Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengenal Asal Usul Suku Asmat dan Tradisinya

Mengenal Asal Usul Suku Asmat dan Tradisinya

Sejauh ini Suku Asmat hanya dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang memiliki seni pahat yang mengagumkan. Seni pahat bagi Suku Asmat bukan semata kerajinan melainkan bagian tak terpisahkan dari unsur-unsur keyakinan.

Asal usul Suku Asmat sama seperti suku asli di Selandia baru dan Papua Nugini yang berasal dari rumpun Polynesia dengan ciri-ciri fisik warna kulit dan rambut hitam, kelopak mata bulat, hidung mancung dan berperawakan tegap.

Sebagai bagian dari suku bangsa di Indonesia, suku Asmat dalam kehidupan sehari-harinya berlangsung dengan dua kepemimpinan, yaitu pemimpin formal dari unsur pemerintah dan kepala suku yang berasal dari masyarakat.

Seperti suku lainnya di Papua, seperti suku Yahukimo, Jayawijaya dan suku Mappi, kepala adat atau kepala suku memegang peranan sangat penting dalam tata kelola kehidupan sehari-hari.

Dalam menjalankan program-program resmi pemerintah formal, maka kerjasama dengan kepala suku atau kepala adat ini mutlak diperlukan. Tanpa kerjasama dengan kepala suku, program pemerintah bisa kandas di tengah jalan.

Dalam hal pemilihan kepala suku atau kepala adat bagi suku Asmat, bukanlah jabatan yang turun-temurun seperti kebanyakan suku tradisional lainnya. Juga pemilihan kepala suku ini tidak mengenal pewarisan tahta kepemimpinan seperti dikenal dalam tradisi kerajaan.

Mengenal Asal Usul Suku Asmat dan Tradisinya

Kepala suku bisa berasal dari suku tertua, marga yang dianggap tua atau bahkan bisa diangkat dari seorang yang dianggap berjasa, seperti yang berhasil memenangkan peperangan misalnya. Jadi, setelah kepala suku meninggal, dari unsur-unsur itulah kepala suku baru berasal.

Masalah kepercayaan, di suku Asmat sebelum masuk para misionaris yang membawa agama Kristen Katolik dan Protestan, bahkan belakangan agama Islam, kepercayaan suku Asmat adalah animisme. Ukiran kayu khas suku Asmat pun tidak terlepas dari masalah kepercayaan animisme inilah pada awalnya.

Namun, setelah masuk pengaruh agama, kepercayaan itu sendiri mulai pudar namun tidak demikian dengan kerajinan ukir kayunya. Hal-hal yang sifatnya magis dan supranatural, menjadi bagian tak terpisahkan.

Untuk menopang kehidupan sehari-hari, suku Asmat mengenal cara bercocok tanam yang baik terutama berladang. Beberapa jenis komoditas seperti matoa, jeruk, jagung, wortel, keladi telah dikenal dengan baik. Begitu pula dalam hal bagaimana beternak ayam dan babi, bagi suku Asmat bukanlah sesuatu yang dianggap baru.

Tradisi Suku Asmat yang tetap lestari selain seni pahat kayu adalah tradisi berperang. Perang antar suku merupakan hal yang biasa dalam kehidupan suku Asmat, seperti juga suku-suku lain di Papua. Bahkan tradisi perang antar suku ini bisa dibilang sebagai tradisi yang mengerikan.

Bayangkan saja, ketika musuh berhasil dibunuh, biasanya mayat musuhnya itu akan dibawa ke kampung, lalu dipotong dan dibagikan kepada seluruh isi kampung untuk dimakan.

Bahkan lebih sadis lagi, puluhan tahun ke belakang, setelah terjadi perang antara suku dan musuhnya berhasil dibunuh, maka otaknya dibangun dengan daun sago, lalu dipanggang dan dimakan bersama.

Menurut survei terakhir yang dilakukan pemerintah Indonesia, dalam satu kampung dihuni oleh 100 sampai 1000 orang. Secara tradisional masing-masing kampung memiliki satu rumah bujang. Rumah bujang ini merupakan rumah tempat dilangsungkannya berbagai upacara adat dan keagamaan.

Post a Comment for " Mengenal Asal Usul Suku Asmat dan Tradisinya"