Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perang Bubat Versi Jawa

Perang Bubat Versi Jawa

Seperti apa gambaran Perang Bubat versi Jawa? Bagi masyarakat Jawa dan Sunda, pasti sudah tidak asing dengan peristiwa Perang Bubat. Cerita rakyat Perang Bubat menjadi kontroversial, banyak versi yang menceritakan tentang perang ini. 

Hingga sekarang sentimen antara Sunda - Jawa masih terasa, konon berawal dari peristiwa sejarah yang menjadi kontroversi budaya antara Sunda-Jawa, yang melahirkan prasangka di antara kedua suku tersebut.

Seorang penulis yang bernama CC Berg menceritakan Perang Bubat dengan rasa simpatik kepada Kerajaan Sunda. Dan buku tersebut menyadarkan orang Sunda bahwa Perang Bubat adalah peristiwa yang memalukan. Bagaimana tidak, seorang raja yang datang dengan niat baik hendak menjodohkan putrinya, ditolak mentah-mentah dan dibunuh.

Bagi masyarakat Sunda Gajah Mada merupakan orang yang menyebabkan kerusuhan terjadi. Ia hanya berambisi untuk mewujudkan sumpah palapa menyatukan kerajaan di seluruh Nusantara. Hanya kerajaan Pasundan yang belum takluk. Sehingga ia memakai cara dengan meminang putri raja untuk menaklukkan kerajaan Pasundan.

Di lapangan Bubat, Gajah Mada membelokkan niat pernikahan itu dengan persembahan. Dyah Pitaloka akan dijadikan sesembahan sebagai pertanda Kerajaan Pasundan telah ditaklukkan. Itu cerita versi orang Sunda.

Namun menurut informasi yang saya baca, ketika persiapan pernikahan akan dijalani, pihak Pasundan mengutus perwakilan untuk memberikan surat kepada Gajah Mada yang berisi syarat atau mas kawin dari perkawinan anaknya tersebut.

Terdapat lima permintaan dari pihak Pasundan untuk Dyah Rajasanagara (Hayam Wuruk) melalui Patih Gajah Mada selaku protokoler perkawinan pada saat itu, yaitu:

1. Permintaan agar mengangkat calon istri dari Tatar Sunda untuk menjadi permaisuri.

2. Meminta agar Rajasanagara tidak mengambil istri lagi selain Dyah Pitaloka.

3. Permintaan agar keturunan dari hasil perkawinan Dyah Pitaloka dan Rajasanagara, baik laki-laki maupun perempuan menjadi pewaris tahta kerajaan. 

Namun apabila dari pernikahan tersebut tidak diberi keturunan, maka raja harus dipilih atas persetujuan Raja Pasundan.

4. Permintaan persamaan derajat, artinya kerajaan PaSundan tidak berada dibawah kekuasaan Wilwatikta.

5. Permintaan agar Rani Kahuripan yakni Sri Tribhuwanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani (ibu dari raja Hayamwuruk dan Rani Wilmatikta) datang menjemput calon pengantin wanita untuk menandatangani persetujuan tersebut di kerajaan Pasundan tepatnya di lapangan Bubat.  

Membaca surat tersebut Gajah Mada kaget, ia tertegun beberapa saat. Lalu pergi menghadap Bhre Kahuripan. Sang Rani marah setelah membaca surat tersebut. Karena semua permintaan sangat memberatkan pihak Wilwatikta.

Semua permintaan menjerat kebesaran Wilwatikta dan membelenggu masa depan kerajaan diatas sebuah pernikahan. Jauh hari sudah diumumkan bahwa yang akan menjadi penerus raja adalah anak dari perkawinan raja dan sepupunya (anak dari adik beliau : DYAH WIYAT RAJADEWI), demi untuk menjaga trah kerajaan.

Maka anak dari selain itu tidak boleh menggugat. Sedangkan Dyah Pitaloka tidak akan menjadi prameswari, hanya pendamping prameswari. Syarat kedua sudah gugur, karena raja akan berpoligami dengan menikahi sepupunya.

Syarat pertama hingga ketiga sudah gugur, yang paling tidak diterima adalah syarat kelima. Seperti merendahkan dan menghina keluarga. Dan mengapa mesti Sang Rani yang harus menandatangani perjanjian itu, kalau bukan ingin merendahkan martabat sang Rani sebagai penakluk nusantara, padahal ada suaminya dan Gajah Mada yang memang sudah ditunjuk oleh kerajaan sebagai duta parakrama.

Sang Rani merasa terhina dan  langsung mengganti pakaian dengan pakaian perang (beliau juga dikenal sebagai rani Rajasawangsa yang sering turun ke medan perang). Gajah Mada meminta keluarga untuk menahan Sang Rani agar tidak pergi. Dan ia tahu apa yang seharusnya dilakukan, yaitu dengan berkonsolidasi demi keamanan kota.

Lalu Gajah Mada datang sendiri ke lapangan Bubat untuk menyampaikan keberatan Sang Rani atas syarat yang diajukan. Dyah Pitaloka sangat terkejut dan malu mengetahui syarat yang diajukan keluarga besarnya sungguh keterlaluan. Dia tidak merasa mengajukan syarat seperti itu.

Dyah Pitaloka memohon maaf kepada Gajah Mada, dan hendak pulang bersama pengiringnya. Namun beberapa kerabatnya menghadang mereka sudah merasa terlanjur basah dan demi kebaikan kerajaan Pasundan keinginan harus dipertahankan.

perang-bubat

Gajah Mada  berpikir ini masalah keluarga, maka ia keluar dari tenda, dan siap mengantar dengan selamat semua rombongan hingga ke muara sungai Brantas.

Ketika Gajah Mada berada di luar tenda, terdengar jeritan Dyah Pitaloka. Sang Mahapatih masuk dan mendapati calon pengantin bersimbah darah dengan pusaka tertancap di perutnya. Sang Amurwabumi murka besar, ia lantang berteriak agar pelaku menyerahkan diri dan dihukum seadil-adilnya.

Bukan Jawaban yang diperoleh, malah berteriak orang-orang menyalahkan Gajah Mada yang membunuh Dyah Pitaloka. Gajah Mada seorang mahapatih yang ulung, tidak bisa dijebak begitu saja. Ia sudah mempersiapkan pasukan kasat mata di sekelilingnya. Takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

Tanpa dikomando pasukan Gajah Mada membentuk formasi perlindungan kepada Sang Mahapatih. Lalu dilepas panah api sebagai pertanda kepada penduduk untuk waspada. Sundang Majapahit bukan tandingan tentara Pasundan.

Dalam sekejap tenda sudah rata, dan kapal yang berlabuh habis ditenggelamkan. Dentuman meriam Majapahit meluluhlantakkan dan menenggelamkan kapal Pasundan.

Kepulan asap hitam membumbung tinggi, terlihat oleh sang raja yang tampak cemas memikirkan calon pengantinnya. Lalu ia menyuruh pengawal menyiapkan kudanya, namun ibunda sudah ada di hadapannya,  dan berkata “Gajah Mada sudah membereskan semuanya.” “Apa maksudnya dengan membereskan semuanya?” selidik sang raja. “Menghantar pulang pasukan Pasundan, namun apabila melawan akan dibumi hanguskan."

Kaget sang Prabu Niwata mendengar kata-kata ibunya. “Karena mereka mengajukan syarat yang tak mungkin bisa diberikan.” Lalu ibunya memberi sepucuk surat kepada sang raja. Membaca isi surat tersebut, langsung lemas lututnya dan jatuh di lantai istana. 

Ia bingung harus berbuat apa, satu sisi ia sangat menginginkan Dyah Pitaloka, namun harga diri kerajaan pun harus dipertahankan. Tak tahan menanggung beban berat, sang raja jatuh sakit untuk waktu yang lama.

Semua kejadian harus tunduk pada hukum, maka digelarlah sidang  NawaPrabu RI Wilwatikta. Untuk mencari keadilan Pasundan Bubat. Didepan sidang  Gajah Mada menjelaskan secara detail kronologi kejadian. Sebagai mahapatih dan pelaku utama dari peristiwa tersebut ia bersedia menerima hukuman terberat sekalipun.

Pengambilan keputusan selalu diawali oleh Saptha Prabu (1 raja utama, dan 6 brhe  atau raja bawahan), tiba-tiba saja berdiri Rani Kahuripan, “Saya yang memerintahkan maka sayalah yang harus dihukum”, lalu disusul oleh suaminya ayah sang raja yang menjabat sebagai Bhre Tumapel, lalu bibi Raja Bhre Daha, “Dia berbuat karena demi membela keluarga kerajaan. Aku akan mengambil tanggung Jawabnya”. Diamini oleh suaminya.

Setelah berdebat, maka dijatuhilah hukuman Gajah Mada, hukuman yang pantas adalah diasingkan. Setelah pencopotan jabatan sebagai mahapatih, Gajah Mada diantar menuju tempat pengasingan. 

Semua tampak bersedih, karena Gajah Mada sudah dianggap anak angkat oleh keluarga raja. 1000 hari di pengasingan, lalu dijemput kembali dan jabatannya diaktifkan kembali.

Itulah sekelumit ulasan mengenai Perang Bubat Versi Jawa. Mungkin di luar versi ini ada versi lain yang bisa pembaca jadikan sebagai rujukan sehingga nantinya informasi yang di dapatkan bisa di lihat dari sudut pandang yang lain, yakni dari versi Sunda.

Post a Comment for " Perang Bubat Versi Jawa"