Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sistem Kekerabatan Suku Sunda

Sistem Kekerabatan Suku Sunda

Setiap suku di Indonesia memiliki sistem kekerabatan yang berbeda-beda. Dalam ilmu antropologi dipelajari pula tentang sistem kekerabatan itu.

Hakekatnya, ilmu antropologi adalah mempelajari masyarakat multietnik untuk dikomparasikan dan dianalisa dengan semua teori kuantitatif dan kualitatif yang berhubungan dengan hal tersebut. Karena alasan itulah, kita perlu mempelajari sistem kekerabatan suku Sunda.

Suku Sunda adalah orang-orang yang turun-temurun dari nenek moyangnya telah menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari, serta menetap di daerah Jawa Barat atau daerah Pasundan. Tapi ada juga, orang Sunda yang tinggal di luar Jawa Barat, misal di Brebes, Tegal atau Banyumas.

Keluarga Batih, Bagian Terpenting Suku Sunda

Bagi orang Sunda, keluarga batih adalah yang terpenting. Keluarga batih meliputi suami, istri, serta anak-anak dari hasil perkawinan atau anak adopsi (bagi yang belum kawin). 

Hubungan sosial dalam keluarga batih amatlah erat, karenanya keluarga batih merupakan tempat teraman bagi suku Sunda di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Secara umum, kehidupan antara keluarga batih di desa-desa masih cukup kompak. Banyak pekerjaan di sawah yang masih dikerjakan secara gotong royong dengan sistem pembagian kerja. 

Namun, belakangan ini urbanisasi pun mulai merusak hal ini. Makin banyak orang Sunda yang merantau ke kota besar, seperti Jakarta.

Selain keluarga batih, ada pula kelompok yang disebut dengan golongan. Golongan yakni sekelompok kerabat di sekitaran keluarga batih tersebut. 

Ada juga bondoroyot, yaitu sebuah kelompok kerabat yang masih mencakup sekitar keluarga batih tapi berkaitan dengan nenek moyangnya yang jauh dari jaman lampau.

Sistem Kekerabatan Suku Sunda

Sistem Kekerabatan Suku Sunda

Suku Sunda atau orang Sunda, budaya dan kehidupannya sangat lekat dengan unsur agama Islam. Oleh karenanya, sejak dahulu dan turun-temurun sistem kekerabatannya pun dipengaruhi oleh agama Islam.

Misalnya, perkawinan di Sunda harus dilakukan secara adat dan secara agama, sebab bagi masyarakat Sunda keduanya merupakan hal yang penting dan saling berkaitan, tak bisa dilepaskan satu diantaranya. Pembauran antara agama dan adat ini pun tampak dalam upacara akad nikah atau ijab kabul yang dijalankan.

Sistem kekerabatan suku Sunda adalah sistem kekerabatan bilateral. Maksudnya, berdasarkan prinsip garis keturunan bilateral yang memperhitungkan hubungan kekerabatan antara orang laki-laki dan wanitanya. 

Di Sunda, sebutan kekerabatan untuk pihak laki-laki tidak jauh berbeda dengan sebutan kekerabatan untuk pihak perempuan.

Orang Sunda mengenal istilah kekerabatan untuk tujuh generasi kebawah yaitu anak, incu, buyut, bao, janggawareng, udeg-udeg, dan gantung siwur.

Untuk istilah kekerabatan tujuh generasi ke atas adalah kolot, embah, buyut, bao, janggawareng, udeg-udeg dan gantung siwur.

Ada pula istilah kekerabatan lainnya dalam sistem kekerabatan suku Sunda yang ditinjau dari ego, contohnya Ibu disebut dengan Ema, Ma; Bapak disebut Apa, Bapa, Pa; Kakak laki-laki disebut Akang, Kang; Kakak perempuan disebut Ceu, Euceu.

Demikianlah ulasan singkat tentang Sistem Kekerabatan Suku Sunda. Semoga bermanfaat untuk para pembaca semuanya.

Post a Comment for " Sistem Kekerabatan Suku Sunda"