Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Contoh Asimilasi Budaya Asing dengan Budaya Indonesia

 

Contoh Asimilasi Budaya Asing dengan Budaya Indonesia

Contoh Asimilasi Budaya Asing dengan Budaya Indonesia - Jika kita membicarakan tentang budaya, maka cakupannya akan sangat luas. Mengapa demikian? Karena budaya berhubungan dengan kebiasaan, adat, dan sesuatu yang dianggap penting oleh sekelompok masyarakat. 

Budaya sendiri, memiliki proses pembentukkan di dalamnya, dimana salah satunya adalah asimilasi budaya. Lalu, apa contoh asimilasi budaya? Seperti apa bentukannya?

Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang unik. Keragaman tersebut membentang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga ke pulau Rote. Hal tersebut menawarkan sebuah pemandangan yang berwarna-warni. Keindahan tersebut bahkan bisa dirasakan dengan baik oleh mereka yang datang dari luar negeri. Kekaguman tidak berhenti keluar dari mulut mereka.

Memang, jika membicarakan tentang keanekaragaman budaya, Indonesia adalah juaranya karena tidak ada satupun negara di dunia ini yang memiliki keanekaragaman budaya seperti di Indonesia. 

Kita tidak sedang membahas berbagai permasalahan multidimensi di negeri ini. Karena jika membahas tentang itu, kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia, termasuk budaya, akan terasa hambar dan sia-sia. 

Tidak ada salahnya jika sejenak kita larut dalam keindahan budaya yang dimiliki Indonesia tanpa harus memikirkan segala permasalahan bangsa yang rumit.

Berbudaya adalah kebutuhan manusia yang lahir secara naluri. Manusia purba pun sudah melakukannya. Mereka menciptakan budaya meramu, berburu, hidup nomaden, dan sebagainya. Itu adalah bentuk-bentuk kebudayaan yang lahir atas dasar kebutuhan dan tanpa disadari sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Budaya bukan hanya berkenaan dengan karya seni, karena cakupan budaya sangat luas, seperti yang sudah disebutkan di atas. Misalnya saja budaya antre. Apakah antre termasuk dalam salah satu karya seni? Secara harfiah tentu saja tidak. Namun, antre tetap bisa dikategorikan sebagai sebuah kebudayaan. Yang apabila “dilanggar” ada semacam ketabuan di sana.

Pun dengan yang dilakukan oleh manusia purba tadi. Mereka menciptakan sebuah kebiasaan, yang kemudian lambat laun menjadi kebudayaan. Menjadi identitas yang membedakan kelompok mereka dengan kelompok lainnya. 

Hakikat budaya, sederhananya bisa dikatakan memang seperti itu. Sebuah kebiasaan yang lahir dari sekelompok masyarakat, kemudian menjadi identitas mereka.

Terjadinya Asimilasi Budaya

Kehidupan dan keanekaragaman yang terjadi di masyarakat sangat kompleks. Ada banyak proses yang terjadi di dalamnya. Budaya pun tidak luput terkena hal itu. 

Harus diakui, bahwa kebudayaan yang saat ini tumbuh di Indonesia, sebagian bukan merupakan kebudayaan asli Indonesia. 

Ada kebudayaan lain yang mencampurinya, kemudian dalam jangka waktu yang lama, percampuran kebudayaan tersebut melahirkan hal baru, atau kebudayaan baru.

Percampuran dua kebudayaan yang berasal dari kebiasaan yang berbeda biasa dikenal dengan istilah asimilasi. Sebuah pembauran antara dua kebudayaan yang masing-masing melepaskan identitas asli untuk kemudian melahirkan sesuatu kebudayaan yang baru.

Proses Asimilasi tersebut tidak terjadi dalam jangka waktu satu atau dua tahun. Terlebih asimiliasi budaya. Ada proses yang boleh dikatakan sangat panjang. Penyesuaian demi penyesuaian dilakukan oleh pelaku asimilasi itu sendiri, yang dalam hal ini adalah masyarakat Indonesia.

Tanda-tanda telah terjadinya asimilasi atau upaya untuk mengasimilasikan budaya adalah munculnya upaya-upaya yang bertujuan untuk menghapuskan perbedaan antara dua kelompok atau individu yang berbeda.

Upaya ini dilakukan dengan cara lebih memperhatikan kepentingan bersama daripada kepentingan individu. Ketika upaya ini berhasil, batas perbedaan antara dua budaya semakin tipis. Masing-masing pemilik kebudayaan tersebut mengidentifikasikan diri untuk mementingkan kepentingan bersama, bukan lagi kepentingannya pribadi.

Proses asimilasi budaya dapat terjadi apabila:

  • Ada beberapa kelompok dengan kebudayaan berbeda yang tinggal di satu wilayah yang sama.
  • Beberapa kelompok yang berbeda budaya tersebut melakukan interaksi dalam waktu yang lama dan cukup intensif.
  • Masing-masing kebudayaan memiliki kemungkinan untuk menyesuaikan diri, dalam arti, bisa membuka diri terhadap kebudayaan baru.

Juga ada beberapa faktor yang membuat proses pencampuran budaya tersebut lebih mudah, yaitu:

  • Masing-masing anggota kelompok yang berbeda budaya memiliki toleransi terhadap budaya orang lain/baru.
  • Masing-masing kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati kelayakan, dalam hal ini kelayakan kehidupan secara finansial.
  • Menghormati serta menghargai kelompok asing sekaligus budaya yang dibawanya.
  • Sikap dan pemikiran yang terbuka dari kelompok yang berkuasa terhadap kelompok pendatang/baru.
  • Merasakan keseimbangan perlakuan di bidang kebudayaan secara umum.
  • Terjadinya pernikahan di antara dua kelompok berbeda budaya.
  • Tidak menyukai hal yang sama. Sehingga, menimbulkan semangat juang dan rasa memiliki yang lebih.

Dari penjelasan tentang asimilasi budaya di atas, Anda tentu sudah bisa membayangkan mengenai contoh asimilasi budaya, bukan? 

Pada intinya, budaya yang lahir karena pengaruh dua budaya, kemudian budaya baru yang lahir tersebut memiliki keunikan tersendiri, itulah bentuk dari asimilasi budaya.

Bentuk Asimilasi Budaya

Indonesia adalah negara multietnis dan multikultural. Secara geografis, sejak zaman dahulu, membuat Indonesia rentan menerima segala pengaruh yang datang dari luar. Budaya-budaya dari luar yang datang dibawa oleh para pendatang tersebut mulanya hanya bersifat sementara.

Rata-rata para pendatang tersebut adalah masyarakat India, Tionghoa, dan Arab. Maka dari itu, jangan heran jika kebudayaan Indonesia, sebagiannya mendapatkan pengaruh dari tiga kebudayaan tersebut. 

Dalam hal ini, Jakarta merupakan “tempat” terjadinya proses asimilasi budaya yang terjadi sudah sejak zaman penjajahan. Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan tempat yang pada masanya menjadi pusat kegiatan masyarakat Jakarta dan masyarakat luar, dalam hal ini Arab, Cina/Tionghoa, dan India. 

Maka dari itu, jangan heran jika kebudayaan masyarakat Jakarta, khususnya Betawi, sebagian besar mengandung unsur-unsur dari budaya tersebut.

Sebuah contoh misalnya, asimilasi budaya yang terjadi antara budaya Indonesia dan Tionghoa terlihat dalam baju kurung yang biasa digunakan oleh wanita Betawi. Baju kurung tersebut merupakan perpaduan antara budaya Tionghoa dan Betawi.

Pakaian pernikahan adat wanita Betawi juga menggambarkan pengaruh budaya Tionghoa. Pada pemilihan warna misalnya. Kita sama-sama tahu bahwa warna merah identik dengan kebudayaan Cina atau Tionghoa. Nama busananya pun unik, yaitu care none penganten cine.

Untuk busana adat pengantin pria pun demikian. Pengaruh Arab sangat kental. Hal ini dapat dilihat dari celana pengantin pria yang cenderung ngatung. Tidak penuh menutupi kaki. Ditambah lagi dengan penutup kepala yang juga menyiratkan pengaruh Arab. 

Belum lagi jubah yang menjuntai menutupi tubuh mempelai pria. Gaya pengantin seperti ini, oleh masyarakat Betawi dikenali dengan gaya care haji.

Dalam pakaian sehari-hari pun, terutama untuk kaum prianya, masyarakat Betawi juga sedikit mengadopsi kebudayaan Arab lain. Yakni penggunaan baju koko sadariah. 

Baju koko ini disertai dengan kerah, warna bajunya juga polos. Jenis pakaian seperti ini seringkali ditemui dalam adat masyarakat Arab.

Pakaian adat pernikahan Betawi bisa menjadi salah satu contoh dari asimilasi budaya yang dimiliki oleh Indonesia dengan budaya luar. Di luar Betawi, masih banyak sekali contoh percampuran budaya lainnya. Percampuran tersebut bisa dalam bentuk musik, upacara adat, hingga bangunan.

Masyarakat Tionghoa yang tinggal di berbagai kawasan Indonesia, baik ini di masa lalu maupun saat ini, menjadi sekelompok masyarakat yang seolah siap untuk berasimilasi. Hampir di seluruh wilayah Indonesia, terdapat keturunan Tionghoa yang pada akhirnya terbiasa dengan kebudayaan Indonesia.

Sebut saja misalnya saja masyarakat Tionghoa yang tinggal di wilayah Sumatra Utara dan Surabaya. Masyarakat Tionghoa dan masyarakat setempat saling berinteraksi dan pada akhirnya, masing-masing saling mempelajari budaya.

Masyarakat Tionghoa mempelajari bahasa setempat untuk keperluan bisnisnya, sementara masyarakat setempat mempelajari sedikit bahasa Tionghoa karena bahasa tersebut dianggap berguna atau mempermudah proses interaksi dengan masyarakat Tionghoa.

Contoh asimilasi budaya yang terjadi di Indonesia ini sebenarnya sangat banyak. Mulai dari hal-hal besar, seperti yang terlihat dalam berbagai upacara adat, maupun hal-hal yang sifatnya lebih kecil, seperti sesuatu yang biasa terjadi atau digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak terasa bahwa hal tersebut merupakan hasil asimilasi.

Itulah ulasan singkat terkait dengan  Contoh Asimilasi Budaya Asing dengan Budaya Indonesia. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan serta pengetahuan Anda.

Post a Comment for " Contoh Asimilasi Budaya Asing dengan Budaya Indonesia"