Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tradisi Sinoman, Kearifan Lokal Suku Jawa Dalam Pernikahan


Tradisi Sinoman, Kearifan Lokal Suku Jawa Dalam Pernikahan

Pada artikel sebelumnya saya telah mengupas tentang tradisi Sambatan masyarakat suku Jawa yang merupakan salah satu contoh nyata dari kearifan lokal yang tetap terjaga. Dan pada artikel kali ini saya akan mengupas sebuah tradisi lain yang juga merupakan salah satu bentuk kearifan lokal suku Jawa, yakni tradisi "Sinoman".

Tradisi Sinoman dalam budaya masyarakat suku Jawa sangat identik dengan proses hajatan yang di selenggarakan oleh salah satu anggota masyarakat, baik hajatan Khitanan ataupun pernikahan.

Dulu, ketika saya masih anak - anak saya masih ingat sekali bagaimana kemeriahan tradisi Sinoman ini di selenggarakan. Suasananya penuh dengan kehangatan, semangat kegotong royongan dan rasa kekeluargaan yang sangat kental.

Sebelum pelaksanaan hari H acara hajatan tersebut, biasanya dilakukan beberapa persiapan agar pelaksanaan hajatan bisa berlangsung dengan lancar.

Persiapan biasanya di mulai dengan mengumpulkan para kerabat, sanak saudara dan handai tolan serta tetangga di sekitar rumah untuk mengadakan musyarah dan pembentukan panitia acara hajatan tersebut. 

Dalam musyawarah tersebut kemudian akan di pilih dan di tunjuk salah seorang warga yang di tuakan dan dianggap mampu utnuk menjadi ketua dari panitia hajatan tersebut. Setelah di setujuai oleh peserta musyawarah, maka kemudian ketua panitia tersebut akan membentuk susunan keanggotaan panitia tersebut. Ssusunan panitia biasanya akan terbagi menjadi beberapa seksi, misalnya seksi konsumsi, seksi penerima tamu, seksi dekorasi, seksi hiburan, seksi peralatan, seksi pelayanan umum, tukang parkir dan sebagainya.

Setiap orang yang di tunjuk sebagai ketua maupun anggota seksi - seksi tersebut biasanya akan merasa senang dan siap untuk menjalankan apa yang menjadi tugasnya masing - masing.

Setelah semua terbentuk, maka kemudian akan di lakukan beberapa persiapan dalam bentuk tindakan nyata bebrapa hari sebelum pelaksanaan acara hajatan tersebut. 

Biasanya, secara umum persiapan dilakukan dua hari sebelum pelaksanaan acara, dengan mempersiapkan segala sarana dan prasarana yang di butuhkan, misalnya pembuatan dapur umum sementara, mengumpulkan peralatan hajatan seperti peralatan masak, piring, gelas dan sebagainya (Peralatan tersebut biasanya di simpan di rumah ketua RT setempat), pemasangan tenda dan sebagainya.

Dalam tradisi Sinoman ini juga ada beberapa prinsip dasar, yaitu:
  • Berdasarkan sikap sukarela, artinya setiap orang yang ikut serta dalam Sinoman tersebut berdasarkan kerelaan tanpa adanya paksaan.
  • Tidak mengharapkan bayaran, artinya setiap orang yang turut serta dalam Sinoman tersebut sama sekali tidak mengharapkan bayaran dari orang yang punya hajat. Semua di dasarkan pada keikhlasan dan semangat untuk tolong - menolong.
  • Prinsip kekeluargaan dan kegotong royongan, artinya siapapun yang turut serta dalam tradisi Sinoman tersebut akan saling bekerjasama dengan penuh rasa kekeluargaan dan kegotong royongan.
Dan jika di lihat dari tujuannya, maka tradisi Sinoman bertujuan untuk:
  • Membantu kelancaran acara hajatan, maksudnya adalah bahwa tradisi Sinoman ini akan membantu agar pelaksanaan hajatan tersebut bisa berjalan dengan lancar, dengan cara membagikan tanggung jawab kedalam beberapa seksi dimana siapapun yang di tugaskan akan melakukan tugas dan tanggung jawab dengan sebaik - baiknya demi kelancaran acara hajatan tersebut.
  • Meringankan beban orang yang punya hajat, maksudnya adalah selain sumbangan berupa tenga dan pikiran biasanya orang yang turut dalam Sinoman tersebut akan membawa bawaan berupa materi seperti beras, minyak, gula, kopi, teh, ayam, dan sebagainya untuk di berikan kepada orang yang punya hajat. Nantinya akan ada satu orang yang bertugas untuk mencatat barang - barang apa saja yang di bawa oleh setiap orang tersebut. Tujuannya adalah agar nantinya orang yang punya hajat mengetahui siapa - siapa saja yang telah memmberikan sumbangan berupa materi kepadanya, dan itu akan menjadi tanggung jawabnya kedepan untuk bergantin membawa bawaan serupa jika ada warga yang melaksanakan hajatan.
  • Mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan, maksudnya adalah tradisi Sinoman ini akan mampu mempererat tali silaturahmi di antara sesama anggota masyarakat, karena mereka akan berinteraksi satu sama lain dalam hajatan tersebut. Ini tentu akan menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan yang sudah ada.

Jadi, jika melihat dari prinsip dan tujuan dari tradisi Sinoman ini, maka bisa kita simpulkan bahwa tradisi ini sangat baik dan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang harus terus di jaga dan di lestarikan keberadaannya.

Ketika tiba hari pelaksanaan acara hajatan, maka orang - orang yang sudah di tunjuk sebagai panitia hajat tersebut akan berada di posnya masing - masing dan menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Semua orang melakukan tugasnya dengan perasaan gembira tanpa mengeluh, bahkan di antara mereka selalu tersenyum ramah kepada siapapun. Semua menyadari bahwa kelancaran acara hajatan tersebut menjadi tanggung jawab semua panitia yang terlibat sehingga di antara mereka tidak ada rasa iri antara satu sama lainnya. Bagi mereka yang mengerjakan tugas yang ringan merasa gembira, pun juga bagi mereka yang mengerjakan tugas yang berat juga tetap merasa gembira.

Mereka semua merasa bertanggung jawab terhadap kelancaran acara hajatan tersebut dengan cara memberikan pelayanan yang sebaik - baiknya dan mereka tidak ingin membuat malu orang yang mempunyai hajat tersebut.

Jika dalam pelaksanaan acara tersebut terdapat sedikit kekurangan apapun, mereka tidak segan untuk menggunakan sarana atau milik pribadi mereka tanpa hitung - hitungan terlebih dahulu. Prinsip mereka adalah acara hajatan tersebut harus berjalan dengan lancar tanpa ada masalah apapun. Mereka akan mengkomunikasikan masalah tersebut nanti setelah hajatan selesai dengan yang punya hajat, bahkan dalam beberapa hal terkadang mengikhlaskan saja hal tersebut.

Selain suku Jawa, tradisi Sinoman ini juga di laksanankan oleh suku - suku yang lain. Dalam istilah yang sering kita dengar sekarang misalnya yakni tradisi "Rewang hajat".

Tradisi Sinoman, Kearifan Lokal Suku Jawa Dalam Pernikahan

Seiring dengan kemajuan zaman, maka tradisi Sinoman dalam masyarakat suku Jawa pun mengalami beberapa perubahan dan penyesuaian, akan tetapi tidak menghilangkan prinsip dasar dan tujuan dari Sinoman tersebut.

Perubahan tersebut misalnya, untuk panitia hajatan saat ini lebih banyak diisi oleh anak - anak muda yang tergabung dalam Karang Taruna. Mereka akan bertugas sebagai panitia ketika ada warga masyarakat yang akan melaksanakan hajatan, sementara para orang tua bertugas untuk memantau dan mengarahkan saja kalau ada hal m- hal yang perlu untuk di sempurnakan.

Hal ini merupakan sebuah hal yang cukup bagus, karena anak - anak muda sudah mulai dilibatkan dan diberikan tanggung jawab yang akan berguna untuk mereka di masa depan.

Mereka inilah yang akan menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi Sinoman ini di masa depan ketika generasi tua sudah tidak ada lagi. Kita perlu memberikan apresiasi dan semangat kepada anak - anak muda milenial ini karena tidak semua anak - anak muda mau menerima tanggung jawab seperti itu.

Dukungan dari para orang tua akan membantu mereka untuk tampil percaya diri dan bertanggung jawab terhadap apa yang sudah di percayakan kepada mereka. 

Kita berharap tradisi Sinoman yang baik ini tetap terjaga dan tidak akan punah tergerus oleh kemajuan zaman yang semakin materialistis.

Demikianlah uraian artikel tentang Tradisi Sinoman, Kearifan Lokal Suku Jawa Dalam Pernikahan. Semoga artikel ini mampu memberikan inspirasi kepada kita untuk terus melestarikan tradisi Sinoman tersebut.

Post a Comment for "Tradisi Sinoman, Kearifan Lokal Suku Jawa Dalam Pernikahan"